Reportase Talkshow Komunitas Kesehatan Nasional Perkembangan Terapi COVID-19 dan Vaksinasi

Sabtu, 4 Desember 2021 – Talkshow ini diselenggarakan oleh Komunitas Kesehatan Nasional yang bertujuan untuk meninjau perkembangan terapi dan vaksinasi COVID-19. Diawali dengan sambutan dari dr. Azzaku, SpPD, FINASIM (RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, Tokoh Inspirasional COVID-19 Nasional) dengan menghadirkan Prof. Zullies Ikawati, Ph.D., Apt (Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta) sebagai narasumber. Talkshow ini dimoderatori oleh Sofia Mardaliati, SS.

Prof. Zullies Ikawati, Ph.D., Apt

Zullies menyampaikan materi tentang perkembangan terapi COVID-19 dan vaksinasi. Terapi COVID-19 terus berkembang, bahkan saat ini sudah ada tiga kali perbaruan panduan terapi COVID-19. Obat yang digunakan di Indonesia saat ini adalah antara lain obat antivirus favipiravir dan remdesivir, obat asimptomatik, obat kasus berat dengan steroid, serta obat lainnya. Beberapa waktu lalu berkembang obat baru yakni molnupiravir namun belum sampai di Indonesia. Industri farmasi sedang berpacu mengembangkan obat yang sesuai, bahkan saat ini telah dikembangkan jenis obat antibodi yaitu sotrovimab.

  • Apa perbedanan molnupiravir dan sotrovimab?

Monopiravir digunakan secara oral, sedangkan sotrovimab bentuknya infus yang hanya hanya bisa digunakan pasien rumah sakit dengan kondisi gejala sedang dan tidak efektif pada kondisi berat. Terkait efikasi, semua masih dalam tahap uji klinis namun sotrovimab dikatakan dapat mengurangi resiko perberatan COVID-19 hingga 70%

  • Sejauh apa efektivitas obat – obatan COVID-19 di Indonesia? Kasusnya pun sudah mulai melandai, apakah perlu obat – baru baru yang lebih efektif atau cukup dengan obat yang ada?

Kita belum bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di Indonesia, tetap perlu berjaga – jaga mencari obat terbaru. Namun sementara masih menggunakan obat yang sudah ada.

  • Saat ini ada varian baru Omicron, apa perbedaan dengan varian yang dahulu?

Virus ini masih baru dan masih dalam studi sehingga belum banyak informasi, gejala yang muncul juga hampir sama dengan varian sebelumnya. Sifatnya yang dikatakan lebih menular dikaitkan dengan mutasi bagian tertentu dari tubuh. Saat ini belum ada perbedaan obat yang dipakai pada varian Omicron, namun belum ada studi terkait efisiensi obat yang sudah ada dengan varian tersebut.

  • Apa saja vaksin COVID-19 yang ada di Indonesia?

Vaksin yang digunakan di Indonesia ada Sinovac, COVID-19, Sinopharm untuk vaksin gotong royong, Astrazeneca dari Inggris, Pfizer dan Moderna. Khusus Moderna digunakan juga untuk vaksin booster tenaga kesehatan, namun booster ini belum diberikan pada masyarakat umum. Terdapat vaksin lain yang telah mendapat izin emergency namun belum sampai Indonesia, seperti vaksin Sputnik, Confidencia, Zifivax dan Johnson.

  • Mengapa vaksin tersebut belum sampai di Indonesia?

Karena vaksin ini harus diadakan. Proses mendatangkan vaksin harus melalui jalur pemerintah sehingga pemerintah harus approach kepada pihak produser serta yang membutuhkan vaksin tidak hanya Indonesia. Serta seluruh vaksin perlu Emergency Use Autorization (EUA) dan baru bisa diadakan. Untuk alasan lainnya saya belum mendapat informasi.

  • Ada beberapa vaksin yang bisa dan tidak bisa digunakan untuk keluar negeri, bagaimana menanggapi hal tersebut?

Vaksin dikembangkan oleh banyak negara dengan waktu yang berbeda – beda. Untuk bisa diterima seluruh negara maka harus diakui harus menjadi listing WHO. Kemungkinan vaksin tertentu sedang dalam proses pengajuan atau masih dalam daftar studi WHO. Terkait tidak boleh masuk ke suatu negara dengan vaksin tertentu dapat dikaitkan dengan kebijakan negara masing – masing. Perlu memastikan perkembangan informasi vaksin dari negara – negara yang kebijakannya dinamis.

  • Sampai saat ini bagaimana perkembangan vaksin untuk anak – anak?

Saya belum mendapat informasi untuk vaksin khusus anak – anak, baik dari target capaian maupun hasil vaksinasi. Saat ini total sudah 35% untuk vaksinasi keseluruhan bagi anak dan remaja. Capaian vaksinasi di Indonesia juga belum merata terutama di daerah perifer sehingga perlu pemerataan vaksin di daerah tersebut.

  • Seberapa besar efikasi dari obat baru COVID-19 yaitu sotrovimab?

Sotrovimab adalah obat baru yang berbentuk antibodi, yang ditujukan pada pasien COVID gejala sedang untuk mengurangi perberatan. Berdasar studi uji klinis ketiga bisa mengurangi perberatan hingga 79%.

  • Beberapa masyarakat belum berkenan divaksin karena mindset seperti ragu akan keamanannya bagi lansia. Bagaimana himbauan terhadap hal tersebut?

Harus ada perubahan mindset di masyarakat. Mungkin di awal lansia bukan prioritas vaksin dan vaksin yang ada belum bisa digunakan bagi lansia. Namun berdasar perkembangan studi, lansia adalah kelompok rentan yang menjadi prioritas vaksinasi dan vaksin saat ini sudah diketahui aman bagi lansia. Begitu pula halnya orang dengan komorbid. Perkembangan informasi harus terus menerus di edukasi ke masyarakat.

  • Ada info setelah divaksin justru imunnya turun, bagaimana menanggapinya?

Tujuan vaksin justru meningkatkan kekebalan tubuh. Dalam praktiknya mungkin terdapat 1 2 penerima yang tidak berefek atau justru mengalami sakit tertentu. Namun secara umum tidak seperti itu.

  • Apakah perlu booster vaksin?

Kekebalan imun tidak selamanya ada, sehingga kemungkinan membutuhkan booster. Namun hal ini masih menjadi dilema,  mempertimbangkan ketersediaan vaksin, distribusi berdasar prioritas kelompok rentan serta pemerataan.

  • Bagaimana dengan kasus setelah divaksin tetapi tetap terpapar?

Walaupun mendapat vaksin yang sama namun perkembangan antibodi dalam tubuh seseorang berbeda – beda. Serta dapat dikaitkan dengan virulensi / kekuatan virus yang berbeda-beda, serta hal lainnya. Vaksin tetap tidak bisa 100% melindungi dan perlu dikuatkan dengan penerapan prokes.

  • Apakah COVID-19 akan selalu berkembang menjadi varian baru lainnya di masa depan?

Hal ini bisa terjadi, karena mutasi virus adalah hal alami. Namun tidak perlu dikhawatirkan karena mutasi virus bisa menjadi lebih berbahaya atau justru lebih aman. Maka dari WHO memiliki sebutan Variant of Concern (VOC) dan Variant of Interest (VOI). Varian virus yang menjadi VOC ada lima yakni alpha, beta, gamma, delta, dan omicron.

  • Terkait mutasi virus apakah akan berdampak pada efek terapi maupun vaksinasi?

Untuk Omicron belum ada studi namun berdasar 4 mutasi sebelumnya memang ada penurunan efikasi dari vaksin

  • Apakah vaksin booster harus sama dengan vaksin ke-1 dan ke-2 atau boleh berbeda – beda?

Booster di Indonesia untuk nakes saat ini masih menggunakan Moderna, namun tetap dimungkinkan untuk menggunakan vaksin lain sebagai booster, dan bisa juga dengan vaksin yang sama dengan dosis 1 & 2.

  • Bagaimana cara untuk menjaga sistem imun , apakah perlu menggunakan tambahan suplemen?

Imun dipengaruhi banyak faktor yaitu makanan, istirahat, dan kondisi psikologis. Terkait suplemen seperti vitamin C, D, dan lain – lain sifatnya adalah tambahan. Apabila makanan kita sudah bergizi, istirahat cukup dan menghindari stres maka tidak perlu menggunakan suplemen lain. Suplemen yang bersifat tambahan diberikan saat dibutuhkan atau dalam dalam kondisi tertentu seperti sakit, mengalami defisiensi atau yang lain.

Pesan terakhir dari Zullies adalah selain vaksinasi, protokol kesehatan tetap harus dijaga selama pandemi COVID-19 masih ada.

Reporter: Swastiana Eka

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x