Reportase Webinar IKA UNS Seri 84 Antipasi Gelombang Tiga COVID-19

Reportase Webinar IKA UNS Seri 84 Antipasi Gelombang Tiga COVID-19

Rabu, 17 November 2021 – Webinar ini diselenggarakan oleh IKA UNS yang bertujuan untuk mengantisipasi gelombang ke-3 COVID-19. Diawali dengan sambutan dari Ketua umum IKA UNS, Ir Budi Harto, M.M dan Ketua Rektor Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum dengan menghadirkan empat narasumber yakni dr. Chrisriyanto Edy N., Sp.P., FISR., dr. Tonang DA, Sp.PK., PhD., Lukman Hakim, Ph.D., dan M. Abdul Hakim, S.Psi., MA., PhD. Webinar ini dimoderatori oleh dr. Julita Ruli Titisari, MPH.

dr. Chrisriyanto Edy N., Sp.P., FISR.

Chrisriyanto menyampaikan materi mengenai standar penanganan pasien COVID-19. Pandemi sampai saat ini belum berakhir, sehingga upaya – upaya mencegah terjadinya gelombang ke-3 COVID-19 perlu dilakukan. Hal ini sebagai upaya mengubah pandemi menjadi endemi sebelum nantinya akan menjadi kasus minimal seperti penyakit menular lainnya. Prokes 3T dan 5M masih harus terus dilakukan dan diedukasi ke masyarakat. Kebijakan PPKM dari pemerintah harus terus dievaluasi mengikuti situasi dan kondisi lapangan. Persiapan memenuhi kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM), saran dan prasarana untuk mengantisipasi bila terjadi gelombang ke-3 COVID-19 perlu dilakukan.

dr. Tonang DA, Sp.PK., PhD.

Tonang menjelaskan tentang kesiapan vaksin menangkal gelombang ke-3 COVID-19. Saat ini jumlah kasus di Indonesia menurun, namun Case Fatality Rate (CFR) Indonesia tetap tinggi dibandingkan CFR dunia, bahkan jika dibandingkan negara dengan jumlah kasus yang tinggi. Kondisi vaksin yang ada saat ini mampu mencegah COVID-19 bergejala namun belum terbukti mengurangi penyebaran. Vaksinasi juga belum terbukti mampu mencapai herd immunity. Harapannya akan muncul jenis vaksin baru yang lebih efektif .

Melihat cakupan vaksinasi belum cukup dan CFR masih tinggi maka rumus 3M + 3T + 1V perlu dilaksanakan agar COVID-19 akan terkendali. Kita perlu mengantisipasi kemungkinan hidup bersama virus COVID-19. Tetap ada kemungkinan terjadi gelombang lainnya, namun yang terpenting adalah menjaga prokes serta memenuhi target vaksinasi

Lukman Hakim, PhD.

Lukman memaparkan materi tentang dampak gelombang ke-3 COVID-19 terhadap ekonomi nasional. Bagi Lukman kesehatan lebih penting daripada ekonomi karena hal tersebut adalah kejadian luar biasa yang sulit diprediksi dan belum memiliki solusi pasti, sedangkan ekonomi akan cepat pulih jika sudah menemukan rumusnya. Adanya resesi ekonomi yang terjadi saat ini adalah hasil dari kondisi krisis pandemi.

Pola ekonomi di Indonesia adalah pertumbuhan yang digerakkan oleh konsumsi atau growth driven by consumption. Dengan pola ini, pemerintah perlu memperkuat daya beli masyarakat untuk mengatasi ekonomi saat krisis. Beruntung, saat ini ekspor sudah mulai menggeliat dan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih baik. Solusi ekonomi jika terjadi gelombang ke-3 adalah dengan menggunakan pola ekonomi yang telah diketahui tadi.

M. Abdul Hakim, S.Psi., MA., PhD.

Abdul menjelaskan tentang kesiapan masyarakat menghadapi gelombang ke-3 COVID-19. Pandemi menuntut perubahan dan pengendalian perilaku kolektif dalam jangka panjang. Masyarakat Indonesia memiliki daya resiliensi tinggi menghadapi situasi pandemi, tetapi hal ini dapat menyebabkan sikap abai. Menghadapi kemungkinan gelombang ke-3 masyarakat perlu mengendalikan  diri agar tidak panik, mengembangkan kesiagaan sehingga dapat melakukan penyesuaian diri dengan cepat, serta terus mengikuti informasi dengan cermat.

DISKUSI

Webinar ini dilanjutkan dengan sesi diskusi.

  1. Bagaimana tanggapan terhadap kondisi UMKM yang kolaps?

Lukman : Sebetulnya yang kolaps bukan UMKM namun perusahaan besar, UMKM adalah bantalan pada kondisi krisis. Jika melihat fenomena kolaps mungkin lebih banyak UMKM yang bersifat formal. Terkait strategi untuk mengantisipasinya terutama pada perusahaan besar adalah dengan mengatur ulang pembayarannya sehingga dapat menguntungkan, serta melakukan transformasi mengikuti jaman.

  1. Terkait isoman apakah masih aman dilakukan?

Chris : Pemerintah membuat isoman terpusat karena isoman yang dilakukan di masyarakat tidak sesuai standar yang berlaku, sehingga justru meningkatkan penularan. Serta pengawasan tidak dilakukan ketat saat terjadi penurunan kondisi.

  1. Bagaimana mengatasi stres berkepanjangan?

Abdul : Banyak orang mengatakan media digital dapat menjadi alternatif dari interaksi sosial, namun hal ini masih dianggap asing dan belum memenuhi kebutuhan interaksi sosial. Saat pandemi kita membatasi interaksi di luar rumah, maka untuk memenuhi kebutuhan sosial kita dapat membangun hubungan dengan keluarga.

Webinar tersebut dapat diakses pada https://www.youtube.com/watch?v=v86ap1RtHJA

Reporter : Swastiana Eka Yunita

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x