Serial Webinar PERSI Daerah Jawa Tengah Bekerjasama dengan IDI Wilayah Jawa Tengah Seri 5 : Tinjauan COVID-19 Terkini

Sabtu, 23 Oktober 2021 – Webinar ini diselenggarakan atas kerja sama PERSI daerah Jawa Tengah dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Jawa Tengah yang bertujuan untuk meninjau kondisi COVID-19 terkini. Webinar ini menjadi serial rangkaian topik bertemakan “Lesson Learnt Penanganan COVID-19 di Rumah Sakit pada Peningkatan Kasus di Jawa Tengah : Rumah Sakit Pasti Bisa”. Diawali dengan sambutan dari Ketua PERSI Jawa Tengah drAgus Suryanto, SpPD-KP, MARS, M.H. Menghadirkan empat narasumber yakni Prof. DR. dr. Aryati, MS, Sp.PK(K), DR. dr. Anung Sugihantono, M.Kes, dr. Thomas Handoyo, Sp.PD-KP, serta DR.drg. Edi Sumarwanto. Webinar ini dimoderatori oleh dr. Nonot Mulyono, M.Kes.

Prof. DR. dr. Aryati, MS, Sp.PK(K)

Aryati menyampaikan materi mengenai diagnostik COVID-19 sesuai perjalanan penyakitnya & sequencing genom. Terdapat 2 macam pemeriksaan diagnosis laboratorium COVID-19 yaitu non spesifik (hematologi, inflamasi/biokimiawi, koagulasi) dan spesifik (NAAT/PCR, antigen dan antibodi) dimana NAAT masih menjadi gold standard untuk konfirmasi diagnosis COVID-19. Deteksi antibodi dalam hal IgM, IgG, antibodi total terhadap COVID-19 harus dicermati kapan timbul dan hilangnya serta dapat dipakai untuk mendukung suspect COVID-19 pada saat NAAT/PCR negatif dengan menggunakan paired sera. Deteksi antigen COVID-19 dapat dipertimbangkan penggunaannya pada keadaan tidak tersedia NAAT atau waktu tunggu NAAT lama, namun hanya untuk fase akut hari 5 – 7 onset gejala, baik untuk CT<25 dan memerlukan kehati-hatian terjadinya false negative.

Pemilihan tes berbasis molekular atau serologi harus mempertimbangkan setting pemeriksaan, pretest probability, sensitivitas dan spesifisitas masing – masing assay termasuk Limit of detection (LoD), serta kinetika timbul dan hilangnya materi genetik DNA, antigen dan antibodi. Pemeriksaan antibodi kuantitatif untuk monitoring mandiri respon imun vaksinasi harus menggunakan alat, reagen, lab yang sama dan perlu kehati – hatian dalam interpretasi. Interpretasi harus komprehensif/holistik berdasar klinis dan timing. Varian of Concern (VOC) dan Variant of Interest (VOI) terus berkembang dan mengalami pembaharuan sehingga harus selalu update. Metode deteksi mutasi terus berkembang mulai dari sequencing, screening assay deteksi SNP hingga RT-PCR.

DR. dr. Anung Sugihantono, M.Kes

Anung memaparkan materi tentang tinjauan epidemiologi pandemi COVID-19 saat ini dan mendatang. Situasi epidemiologis menunjukkan perbaikan ditandai dengan positivity rate di bawah 5%; kasus baru dalam kisaran 100 orang/hari namun kematian masih relatif tinggi secara proporsional. Tracing saat ini belum ideal namun testing sudah mencapai 3000/hari. RT (effectice reproduction number) COVID-19 di Indonesia turun namun hanya pada beberapa varian tertentu. Terkait gelombang ketiga telah terjadi hampir di semua negara dan kita perlu bersiap akan hal tersebut, hal ini dihubungkan dengan mobilitas penduduk dan kekebalan komunitas baik dari vaksin maupun terpapar langsung.

Perlunya penerapan protokol kesehatan, vaksinasi yang terus digalakkan dengan fokus pada lansia, komorbid, pekerja dan siswa, perlunya perbaikan pada pelayanan primer khususnya surveilan serta persiapan pada pelayanan rujukan antisipasi Nataru. Hal ini harus terus dilakukan secara konsisten dan cakupan tinggi agar wabah COVID-19 terus terkendali.

dr. Thomas Handoyo, Sp.PD-KP

Tata Kelola Klinis Pasien COVID-19 terbaru dibahas oleh Thomas. Early diagnosis,Early Isolation dan Early Treatment merupakan kunci pada penanganan COVID-19. Proses perjalanan pernyakit COVID-19 meliputi fase prodromal, viremia, inflamasi, dan koagulopati lokal parenkim paru sampai sistemik. Awalnya terjadi inflamasi dan koagulopati pada alveoli dan kapiler paru yang menyebabkan peningkatan gradien difusi oksigen dan gangguan difusi oksigen dari alveoli ke kapiler paru dengan manifestasi hipoksemia dan kerusakan paru dan sistemik. Terapi yang sudah direkomendasikan oleh WHO, IDSA, NIH adalah dexametason, IL-6 antagonis monoclonal antibody, Janus Kinase Inhibitor. Diperlukan pendekatan tata laksana secara komprehensif semua disiplin ilmu baik untuk COVID-19 akut maupun long COVID-19 syndrome.

DR.drg. Edi Sumarwanto, MM, MH.Kes

Edi memberikan materi tentang tinjauan Etika Tata Kelola Pasien COVID-19. Layanan prioritas dan etika tata kelola pasien COVID-19 berprinsip pada “The Worst Off”, prioritas bagi yang terburuk dan punya harapan, maka tuntutan layanan prioritas bagi pasien yang tidak berindikasi tidak dapat diberikan. Selain itu juga berprinsip prioritas bagi petugas yang dapat menolong orang banyak, maka akses pelayanan dapat diberikan. “Iming – iming” cost sharing  untuk menembus antrian yang tidak berindikasi, yaitu meminta untuk ditangani segera, harus tetap berdasarkan skala prioritas. Pengambilan keputusan manajemen RS menambah kapasitas daya tampung pasien COVID-19 untuk menghindari antrian perlu diapresiasi.


DISKUSI

Webinar ini dilanjutkan dengan sesi diskusi.

  1. Sejauh mana tingkat keakuratan swab RT-PCR post-mortem serta maksimal dilakukan berapa hari setelah pasien meninggal?

Aryati : Swab tersebut dilakukan oleh tim forensik dan idealnya dalam 4 jam pertama.

  1. Kapan waktu terbaik dilakukan genom sequencing?

Aryati : Saat CT value rendah yaitu <25 dimana load virus pada tubuh masih banyak.

  1. Kriteria sembuh di Rumah Sakit sering hanya menggunakan CT value >40 walaupun klinis masih ada gejala, bagaimana dengan hal tersebut?

Aryati : Bebas COVID-19 ditentukan tidak hanya dengan CT-value, perlu melihat kondisi perbaikan marker lainnya dan perbaikan klinis.

  1. Berapa lama sampel bisa disimpan di dinas kesehatan sampai dikirim ke laboratorium? Mengingat perlunya menunggu beberapa puskesmas mengumpulkan sampel lainnya.

Aryati : Penyimpanan bisa dilakukan di -8 derajat, penelitian terbaru penyimpanan 6 bulan masih akurat.

  1. Terkait kasus long COVID, apakah perlu dilakukan pemeriksaan berkala?

Aryati : Perlu dibedakan hal tersebut merupakan long covid atau reinfeksi. Jika long covid tidak perlu dilakukan pemeriksaan NAAT, bisa melakukan modalitas pemeriksaan lain yaitu DL-CRP. Namun jika reinfeksi maka perlu dilakukan pemeriksaan.

  1. Terkait terapi terkini COVID-19, apakah plasma konvalesen apakah masih direkomendasikan?

Thomas : Pemberian plasma konvalesen memiliki syarat yakni sebaiknya dilakukan sedini mungkin sebelum terjadi hiperinflamasi serta titer harus adekuat. Pada dasarnya plasma konvalesen adalah antivirus mencegah virus tidak dapat aktif dan tidak melakukan replikasi. Selain itu efektivitas plasma konvalesen menurun saat adanya mutasi virus COVID-19. Efikasi plasma konvalesen juga dikaitkan dengan mortalitas dan derajat berat suatu penyakit.

  1. Pemberian antikoagulan terutama untuk post-covid diberikan hingga kapan?

Thomas : Perlu melihat kondisi progresivitas COVID-19, jika kondisi berat maka perlu dipantau secara ketat, kemudian melihat tanda – tanda inflamasi lainnya. Namun jika kondisi menunjukkan perbaikan, namun D-dimer tetap tinggi maka perlu melihat kondisi lainnya seperti komorbid pasien dan lainnya.

  1. Bagaimana legalitas seorang dokter yang memeriksa pasien tanpa masuk ke ruang periksa, dan hanya menyimpulkan dari data paramedis dan CCTV?

Edi : Pada dasarnya perlu menjaga diri namun juga perlu memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.

  1. Bagaimana strategi daerah untuk meningkatkan cakupan vaksinasi dimana merk vaksin berbeda – beda dan menyulitkan dosis 1 dan dosis 2 serta mengingat adanya expired date?

Anung : Seluruh vaksin meskipun berbeda merk pada dosis 1 dan dosis 2 akan melengkapi dan memberikan efek baik pada tubuh. Terkait dosis vaksin tergantung jenis vaksinnya, sedangkan interval waktu antara dosis 1 dan 2 dipengaruhi jenis vaksin serta respon seseorang terhadap pemberian vaksin.

Mengenai droping yang belum sejalan dengan kebutuhan karena adanya permasalahan administrasi yaitu pemantauan melalui sistem Sistem Monitoring Imunisasi dan  Logistik secara Electronik (SMILE) belum bisa dilakukan real-time dengan pelayanan yang ada.

  1. Bagaimana peluang kasus lonjakan kasus gelombang ketiga dan kondisi Jateng?

Anung : Penambahan kasus gelombang ketiga hampir pasti terjadi. Terdapat 4 faktor yang mempengaruhi yaitu mobilitas penduduk, kasus asimptomatik, cakupan vaksinasi serta protokol kesehatan. Namun beberapa berpendapat kasusnya tidak melebihi kasus gelombang kedua, karena cakupan vaksinasi dan kasus asimptomatik yang terjadi memberi kekebalan di masyarakat. Sehingga mobilitas penduduk dan penerapan protokol kesehatan perlu dilakukan dengan baik. Hal ini perlu diimbangi mekanisme tracing dan testing yang benar.


Webinar tersebut dapat diakses pada:

https://www.youtube.com/watch?v=a952RnG6Rc8&t=2125s

Reporter : Swastiana Eka Yunita

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x