Webinar Sosialisasi Vaksinasi Booster Bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan

Rabu, 14 Juli 2021 – Webinar ini merupakan kerjasama 31 Organisasi Profesi (IDI, PDGI, IBI, HAKLI, PERSAGI, IKATEMI, PATELKI, IAKMI, PTGMI, IFI, IAI, IROPIN, PARI, PATKI, PERAUDI, IOPI, HAKTI, AFISMI, IPAI, IPK, PORMIKI, PAEI, PTGMI, PTGI, PAKKI, PTPDI, PPKMI, PPKESTRAKI, IAI, dan PAFI). Webinar ini menghadikan narasumber Prof. Dr. dr. Sri Rejeki (Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Communication (ITAGI), Prof. Dr. dr. Hinky Hendra Irawan Satari, Sp.A(K), M.TropPaed (Ketua Komisi Nasional KIPI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis Sp.Pd-KAI, FINASIM (Ketua Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 PB IDI dan Ketua PP Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia), serta Dr. dr. Maxi Rein Rondonowu, DHSM, MARS (Plt. Direktur Jendral P2P Kemenkes RI).


Prof. Dr. dr. Sri Rejeki

Sri menyatakan bahwa pemberian booster atau vaksin ketiga menimbulkan pro dan kontra di seluruh dunia. Olehkarena itu diperlukan alasan yang kuat dalam penyelenggarannya. Kematian tenaga kesehatan din Indonesia selama pandemi COVID-19 cukup tinggi, hingga Juli 2021 kematian mencapai lebih dari 1000 nakes dan paling banyak adalah kematian dokter. Adanya varian baru yang mudah menular menyebabkan peningkatan jumlah kasus, sehingga dibutuhkan peningkatan imunitas nakes. Uji klinis Sinovac juga menunjukkan adanya penurunan titer antibodi pada bulan ketiga dan makin menurun pada bulan ke-6 setelah pemberian dua dosis vaksin baik pada interval 14 atau 28 hari. Pemberian booster diharapkan dapat menambah imunitas dari nakes. Berdasarkan pengalaman dari negara lain mengenai booster ini memberikan hasil yang baik.


Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI

Iris memaparkan bahwa imunogenitas vaksin adalah kemampuan vaksin untuk dapat memicu antibodi. Upaya untuk meningkatkan imunogenitas vaksin dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1) Penambahan adjuvant, 2) Meningkatkan dosis, 3) Menggunakan vaksin hidup, 4) Pemberian vaksin dalam bentuk konjugasi. Efektivitas vaksin bisa menurun salah satunya karena adanya mutasi virus. Mutasi dapat membuat virus semakin kuat dan berkembang biak. Penggunaan platform untuk booster dapat menggunakan platform yang berbeda dari platform vaksin primernya akan tetapi harus menyelesaikan terlebih dahulu kedua seri platform yang sama pada vaksinasi primernya. Adanya kombinasi booster berbeda platform diharapkan dapat memperluas untuk menangkal mutasi virus baru. Hal yang harus dilakukan beberapa ahli nantinya yaitu 1) Penelitian strain virus lebih lanjut, 2) Pengembangan dan update vaksin, 3) Memetakan Potensi Penyebaran, dan 4) Menggalakkan protokol kesehatan.


Prof. Dr. dr. Hinky Hendra Irawan Satari, Sp.A(K), M.TropPaed

Hindra menjelaskan bahwa, reaksi yang terjadi setelah vaksinasi dapat berupa reaksi lokal (di tempat penyuntikan), reaksi umum (sistemik), dan reaksi berat (anafilaktik). Klasifikasi KIPI berkaitan dengan produk/kandungan vaksin, defect kualitas vaksin/cacat produk, kekeliruan prosedur pemberian vaksin, reaksi yang berkaitan dengan kecemasan berlebihan, dan kejadian koinsiden/kebetulan. Reaksi KIPI biasanya muncul pada 7 hari pertama berupa gejala ringan hingga sedang yang sifatnya alamiah pada semua jenis vaksin Tugas Komnas KIPI adalah mengkaji klasifikasi kausalitas.


Dr. dr. Maxi Rein Rondonowu, DHSM, MARS

Maxi menjelaskan adanya peningkatan kasus COVID-19 yang tinggi saat ini termasuk juga pada nakes. Nakes yang sudah mendapat vaksinasi dosis lengkap pun masih mungkin terinfeksi. Semakin meluasnya penyebaran COVID-19 membuat nakes mempunyai resiko tinggi untuk terpapar. Vaksinasi dosis ketiga akan diberikan kepada tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, dan tenaga penunjang dengan usia lebih dari atau sama dengan 18 tahun dan sudah mendapat dua kali dosis lengkap sebelumnya. Platform vaksin booster yang diberikan dapat sama atau berbeda platform dengan primary vaccine. Interval pemberian booster minimal 3 bulan setelah dosis kedua diberikan. Menkes mengharapkan agar semua nakes bisa mendapatkan booster dengan platform Moderna yang akan diberikan secara intramuscular sebanyak 0,5 ml.


Selengkapnya dapat diihat pada link berikut : https://youtu.be/LwujW9ruTTI

Reporter: Putri Ramelia

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x