Webinar Vaksin Ketiga Untuk Tenaga Kesehatan

Webinar Vaksin Ketiga Untuk Tenaga Kesehatan

MInggu, 4 Juli 2021

Webinar ini diprakarsai oleh Asosiasi Dinas Kesehatan (ADINKES). Webinar ini dihadiri oleh narasumber Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG(K)-FER, MPH (Dewan Pakar PP ADINKES-Sekjen POGI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI (Ketua PP PERALUMNI), dan dr. Sri Harsi Teteki, M.Kes (Direktur Pemasaran, Penelitian, dan Pengembangan PT Biofarma). Webinar ini dipandu oleh dr. Yanri W. Subroto, PhD., Sp.PD, KPTI, FINASIM (Ketua Dewan Pakar PP ADINKES).

Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG(K)-FER, MPH

Budi menyatakan bahwa berdasarkan hierarki pengendalian resiko transimisi infeksi yang paling efektif dilakukan adalah eliminasi sumber bahaya. Alat perlindungan diri menempati hierarki yang paling rendah. Klasifikasi pajanan nakes terhadap Sars-Cov-2 sesuai piramida resiko infeksi puncak tertingginya diduduki oleh nakes yang melakukan pelayanan tindakan aerosol dan pajanan langsung ke pasien COVID-19, sementara resiko paling rendah diduduki oleh nakes yang berkontak dengan pasien suspek atau tidak memberikan pelayanan langsung. Kelompok ini sebenarnya adalah kelompok yang paling berbahaya mendapat paparan infeksi. Selain terinfeksi virus COVID-19, beberapa hal yang menjadi permasalahan nakes saat pandemi ini terkait dengan mental health (anxiety, stress, susah tidur, phobia, dan sebagainya) dan perubahan pada sexual function & habbits. Publikasi ilmiah menujukkan masih ada pro kontra terkait dengan reinfeksi dan seroprevalence pada nakes di beberapa negara. Beberapa ada yang masih tinggi dan beberapa lainya sudah rendah. Di Indonesia, penggunaan vaksin Sinovac setelah dosis ke-2 menunjukkan efektivitas terhadap pencegahan COVID-19, perawatan, dan kematian pada hari ke 28 – 63. Pemberian Sinovac dosis ke-3 masih membutuhkan studi lanjutan walaupun pemberian booster memberi respon antibodi yang kuat.

Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI

Iris mengatakan bahwa saat ini sudah tersedia beberapa platform vaksin yaitu viral vector, DNA, RNA, Protein, dan Killed or attenuated virus. Secara umum komposisi vaksin terdiri dari antigen, adjuvant, stabilisator, dan pengawet. Imunogenitas vaksin adalah kemampuan vaksin untuk dapat memicu antibodi. Upaya untuk meningkatkan imunogenitas vaksin dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1) Penambahan adjuvant, 2) Meningkatkan dosis, 3) Menggunakan vaksin hidup, 4) Pemberian vaksin dalam bentuk konjugasi. Efektivitas vaksin bisa menurun salah satunya karena adanya mutasi virus. Vaksin seri ketiga untuk nakes dapat dilaksanakan apabila hasil uji klinis memungkinkan dan memberi manfaat untuk meningkatkan efektivitas vaksin. Hal ini karena nakes adalah frontliner untuk mencegah collapse pada fasyankes. Hal yang harus dilakukan beberapa ahli nantinya yaitu 1) Penelitian strain virus lebih lanjut, 2) Pengembangan dan update vaksin, 3) Memetakan Potensi Penyebaran, dan 4) Menggalakkan protokol kesehatan.

dr. Sri Harsi Tetekiba, M.Kes

Sri menyebutkan bahwa terkait dengan rencana vaksin ketiga untuk nakes, PT.Biofarma sudah memberikan seluruh data uji klinis yang sudah dilakukan dalam kurun waktu H+6 bulan setelah suntikan. Data ini akan terus diperbarui dan dilakukan penelitian hingga 1 tahun pasca suntikan. Nantinya hasil tersebut akan disampaikan oleh regulator yang berwenang. Vaksin gotong royong adalah upaya percepatan vaksinasi untuk mencapai herd imunity. Bebarapa poin penting terkait vaksin gotong royong yaitu : 1) Pelaksanaan kepada karyawan, kelompok, individu dengan biaya dibebankan pada badan hukum atau badan usaha, 2) Jenis vaksin yang digunakan berbeda dengan vaksin program yaitu sinopharm (2 dosis) dan CanSinoBio (1 dosis), 3) Fasyankes yang akan melaksanakan vaksinasi akan ditetapkan dinkes, 4) Pcare akan diberikan setelah fasyankes disetujui, 4) Sertifikat vaksinasi dapat diperoleh dari satu data atau Peduli Lindungi, dan 5) Penanganan dan pelaporan KIPI sesuai dengan prosedur KIPI vaksin program dan pelaporan akan menjadi satu dengan vaksin program. Pentahapan dan penetapan kelompok prioritas penerima vaksin program tidak berlaku untuk pelaksanaan vaksin gotorng royong. Prioritisasi dengan kriteria badan hukum atau badan usaha yang ada di zona merah dan sudah melakukan pembayaran.


Selengkapnya dapat diihat pada link berikut : https://youtu.be/80X9eQtD1VQ

Reporter: Putri Ramelia

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x