HEADLINE: Gelombang Baru Covid-19 Hantam Jakarta Usai Lebaran, Pengendaliannya?

Antrean ambulans saat mengantarkan pasien positif Covid-19 di pintu masuk RSD Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/6/2021). Meningkatnya jumlah warga yang terpapar Covid-19 menyebabkan antrean ambulans yang hendak masuk ke RSD Wisma Atlet Kemayoran. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

DKI Jakarta dihantam gelombang baru Covid-19 usai libur Lebaran 2021. Lonjakan kasus juga diperparah dengan adanya varian baru virus corona yang memiliki efek sebar lebih cepat dan luas di masyarakat.

“Kita menghadapi gelombang baru peningkatan kasus Covid setelah musim libur lebaran bulan lalu. Lonjakannya mulai dirasakan hari-hari ini bukan hanya di Jakarta, tapi di berbagai wilayah di Indonesia,” kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di kawasan Jakarta Selatan, Minggu malam (13/6/2021).

Anies mengungkapkan, Ibu Kota saat ini dalam kondisi yang mengkhawatirkan dan berpotensi memasuki fase genting. Dalam sepekan terakhir, kasus aktif Covid-19 di Jakarta naik sebesar 50 persen.

Sementara positivity rate naik dari 9 persen menjadi 17 persen. Tingkat keterisian tempat tidur atau bad occupancy rate (BOR) di RS rujukan Covid-19 Jakarta juga naik signifikan dari 45 persen menjadi 75 persen.

“Bila kondisi sekarang tidak terkendali kita akan masuk fase genting. Bila fase genting itu terjadi kita harus ambil langkah drastis seperti September dan Februari lalu,” kata Anies Baswedan

Dia menuturkan, potensi itu dapat terjadi ketika fasilitas kesehatan mulai kewalahan dalam menangani peningkatan jumlah pasien Covid-19 yang drastis. Karena itu, Anies Baswedan meminta adanya peningkatan pendisiplinan secara kolektif yang melibatkan semua pihak.

“Di Jakarta sekarang perlu melakukan pendisiplinan kolektif, enggak bisa hanya masyarakat saja, atau penegak hukum saja, atau pemerintah saja. Harus semua unsur bersama,” katanya.

Dia meminta para pelaku usaha, pelaku kegiatan sosial, budaya, hingga kegiatan agama harus turut serta dalam menegakkan dispilin menjalani protokol kesehatan. Menurutnya, ini adalah bagian dari tanggung jawab bersama atas naiknya kasus Covid-19.

Adapun pendisiplinan secara kolektif yang dimaksud yakni bersama-sama bertanggung jawab terhadap penerapan protokol kesehatan, mulai dari penggunaan masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, termasuk mematuhi batasan jam operasional dan jumlah kapasitas orang pada tempat usaha.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu juga meminta perkantoran mengevaluasi jumlah pegawainya yang bekerja di kantor. “Semua perkantoran harus evaluasi. Bila pekerja lebih 50 persen, kembalikan ke 50 persen,” kata Anies.

Anies menyatakan pihaknya akan memeriksa secara acak perkantoran di Jakarta selama terjadi peningkatan kasus Covid-19 ini. Selain perkantoran, dia juga meminta restoran, kafe ataupun tempat makan melakukan pembatasan pengunjung maksimal 50 persen dari kapasitas tempat.

Selanjutnya, tempat makan harus tutup maksimal pukul 21.00 WIB. Anies menyatakan, tidak ada kompromi bagi pelanggar protokol kesehatan. “Akan diberikan sanksi sesuai ketentuan, tidak ada perkecualian. Semuanya ambil tanggung jawab,” ujar Anies.

Dia juga mengingatkan masyarakat yang tidak memiliki kebutuhan mendesak keluar agar tetap beraktivitas di dalam rumah. Hal itu untuk menghindari risiko terpapar Covid-19 yang dapat memperluas penularan.

“Bekerja dari rumah, beribadah dari rumah, dan belajar dari rumah,” katanya.

Dia berharap, peningkatan pendisiplinan secara kolektif ini juga dilakukan oleh wilayah-wilayah  yang ada di sekitar Jakarta. Dengan upaya kolektif tersebut, diharapkan lonjakan kasus Covid-19 di Jakarta menjadi lebih terkendali.

“Dan kita berharap kegentingan yang dikhawatirkan tidak terjadi. Ini adalah satu warning bagi semuanya. Mari kita ambil sikap bertanggung jawab,” kata Anies menandaskan.

Infografis Jakarta Terancam Genting Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)


Kepolisian turut merespons lonjakan Covid-19 di DKI Jakarta. Polda Metro Jaya bersama Kodam Jaya dan Satpol PP DKI Jakarta kembali mengintensifkan operasi yustisi untuk menindak masyarakat yang melanggar protokol kesehatan demi menekan penyebaran Covid-19.

“Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Karena kita ketahui bersama, Covid-19 ada kenaikan sekitar 359 sampai 400 dalam sepuluh hari,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus saat dihubungi, Minggu (13/6/2021).

Yusri mengungkapkan, salah satu bukti Covid-19 di Jakarta meningkat adalah Bed Occupancy Rate (BOR) atau tingkat keterisian tempat tidur pasien di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet yang mencapai 75,19 persen.

“Sekarang sudah 75 sampai 76 persen ke atas. Sementara kita tahu bahwa sebelum lebaran, BOR cuma 15 persen, peningkatan ini tentu sangat bombastis,” ujar dia.

Yusri menerangkan, salah satu langkah yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya untuk meminimalisasi penyebaran Covid-19 agar tak semakin meluas adalah dengan mengintensifkan kembali operasi yustisi.

Aparat akan melakukan pendekatan berupa preventive strike atau pencegahan dengan ketegasan kepada masyarakat. Dalam hal ini, TNI-Polri dan Satpol PP kembali mengingatkan masyarakat bahwa Covid-19 belum berakhir malah cenderung semakin bombastis.

“Sebenarnya ini (operasi yustisi) sudah kita laksanakan, tetapi banyak masyarakat yang sudah terlena, makanya kemarin ini kita gencarkan,” ujar dia.

Sama seperti sebelumnya, operasi yustisi menyasar orang-orang yang berkerumum, tempat makan, hingga tempat hiburan yang buka melebihi waktu yang telah ditetapkan oleh Pemprov DKI Jakarta.

“Orang berkerumun kita bubarkan, lebih dari lima kita bubarkan, tempat hiburan, rumah makan yang lewat waktunya kita tutup semuanya. Ini terus kita disiplinkan masyarakat,” terang dia.


Tingkatkan Target Vaksinasi Covid-19

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) bersama Menkes Budi Gunadi Sadikin (kanan) serta Menhub Budi Karya Sumadi (kiri) dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau vaksinasi COVID-19 massal pelaku transportasi di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Kamis (10/6/2021). (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan bahwa angka kematian akibat Covid-19 di Ibu Kota sangat rendah, meskipun ada kenaikan kasus corona usai Lebaran 2021. Menurut dia, hal tersebut dipengaruhi vaksinasi Covid-19 terhadap masyarakat.

“Saya perlu jelaskan sedikit mengapa angka kematian relatif stabil, salah satunya orang tua yang sudah vaksinasi di Jakarta mencapai angka 65 persen,” kata Anies di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (13/6/2021).

Lebih lanjut, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menuturkan, vaksinasi untuk tenaga kesehatan di Jakarta sudah melebihi 100 persen. “Vaksinasi sangat membantu membantu menurunkan risiko penularan, perawatan dan kematian,” ucap Anies.

Anies menyatakan, pihaknya terus meningkatkan proses vaksinasi di Jakarta. Pihaknya menargetkan hingga akhir Juni 2021 nanti, 3 juta orang telah mendapat vaksinasi Covid-19. “Per hari ini sudah tercapai 2,87 juta,” ujar dia.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menargetkan vaksinasi Covid-19 di DKI Jakarta bisa mencapai 100.000 orang dalam satu hari, mulai pekan depan. Pasalnya, Jokowi ingin herd immunity atau kekebalan komunal di Ibu Kota sudah terbentuk pada Agustus 2021.

Hal ini disampaikan Jokowi saat meninjau vaksinasi massal bagi 5.000 masyarakat umum dan unsur pekerja di Waduk Pluit Jakarta Utara, Senin (14/6/2021). Dia didampingi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

“Kita harapkan DKI Jakarta mulai minggu depan satu hari target yang kita berikan 100.000 bisa dicapai. 100.000 per hari,” ujar Jokowi sebagaimana ditayangkan di Youtube Sekretariat Presiden, Senin.

“Karena kita ingin mengejar herd immunity kekebalan komunal dan kita harapkan dengan jumlah yang tadi sudah kita targetkan di bulan Agustus nanti sudah bisa mencapai kekebalan komunal,” sambungnya.

Dia juga berharap dengan target adanya vaksinasi dengan jumlah banyak, dapat menekan penyebaran Covid-19 di DKI Jakarta. Jokowi mengaku telah meminta Menteri Kesehatan dan Anies Baswedan untuk mempersiapkan stok vaksin agar target 100.000 vaksinasi per hari dapat tercapai.

“Saya tadi sudah berbicara dengan Menteri Kesehatan dengan Gubernur DKI Jakarta untuk manajemen pelaksanaannya dan persiapan jumlah vaksinnya. Dari perhitungan, saya kira Insyaallah semua lancar,” tutur Jokowi.

Dengan angka tersebut, maka Jokowi menargetkan sebanyak 7,5 juta penduduk di DKI Jakarta telah divaksinasi Covid-19 pada Agustus 2021 nanti. Dia mengakui, target tersebut bukanlah hal mudah dan tergolong sangat ambisius.

Namun, Jokowi menegaskan bahwa hal ini terpaksa dilakukan untuk menekan penyebaran Covid-19 di DKI Jakarta. “Ini memang target yang sangat ambisius. Tetapi, mau tidak mau kita harus menuju ke sana untuk mencapai kekebalan komunal, herd immunity,” ucapnya.

Menurut dia, masyarakat di DKI Jakarta memiliki tingkat interaksi dan mobilitas yang cukup tinggi sehingga rentan terpapar virus corona. Untuk itu, vaksinasi perlu dimasifkan agar penyebaran Covid-19 di DKI bisa berkurang.

“DKI ini juga sama, interaksi antar masyarakatnya tinggi, mobilitas masyarakatnya juga tinggi. Sehingga, kecepatan vaksinasi sangat menentukan sekali penyebaran Covid-19,” tutur Jokowi.

Anies pun menyanggupi target tersebut. Dia mengungkapkan, saat ini sebanyak 2,89 juta warga Ibu Kota telah mendapatkan vaksinasi Covid-19. Karena hal itu, dia akan mengejar target yang telah diberikan Jokowi.

“Kita perlu menambah 4,5 juta lagi. Dengan penambahan ini tercapai angka 7,5 juta,” ucap Anies.

Tambah Kapasitas RS Covid-19

Sementara itu, Satgas Penanganan Covid-19 telah menyiapkan tiga skenario dalam menanggani lonjakan kasus corona di DKI Jakarta dan daerah penyangga. Antara lain dengan menambah kapasitas rumah sakit rujukan Covid-19.

Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Letjen TNI Ganip Warsito mengatakan, pemerintah akan membuka Tower 8 Wisma Atlet Pademangan untuk merawat pasien corona kategori orang tanpa gejala (OTG).

Tower tersebut saat ini ditempati para tenaga kesehatan (Nakes) yang menangani pasien Covid-19. Ketika dialihfungsikan, nakes akan dipindahkan ke hotel.

“Apabila langkah ini berhasil, kita akan menambah 1.572 tempat tidur,” kata Ganip saat memberikan keterangan pers Kesiapan Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19 Pasca Libur Lebaran yang disiarkan secara langsung di Kanal Youtube BNPB pada Minggu sore, 13 Juni 2021.

Selain itu, di saat bersamaan akan ditambah pula kapasitas tempat tidur per kamar di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, menjadi tiga unit dari yang semula hanya dua unit.

“Sehingga penambahan kapasitas ini bisa menambah 2.000 tempat tidur di RSDC Wisma Atlet,” ujarnya.

Dengan demikian, lanjut Ganip Warsito, kapasitas RSDC Wisma Atlet Kemayoran dapat meningkat dari kondisi sekarang yakni 5.944 unit menjadi 9.566 unit tempat tidur.

Lebih lanjut Ganip mengaku sudah berkoordinasi dengan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk mulai mengoperasikan fasilitas isolasi terkendali bagi pasien Covid-19 OTG di Rusun Nagrak Cilincing.

“Terdiri dari lima tower, masing-masing 16 lantai, sehingga menambah 2.550 tempat tidur,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini.

Satgas Covid-19 melalui BNPB, akan membantu mengisi kebutuhan di Rusun Nagrak Cilincing secara bertahap. “Saat ini sudah kita kirimkan 900, nanti akan kita lengkapi sesuai dengan kapasitas tempat tidur yang ada di sana.”

Dengan demikian, RSDC Wisma Atlet akan memiliki kapasitas 12.116 tempat tidur. “Penambahan ini realnya menjadi 6.122 tempat tidur atau 102 persen,” kata Ganip.


Berita Selengkapnya KLIK DISINI

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x