Mutan Covid India Menyebar Ke mana-mana, Begini Respons Dunia

Mutan Covid India Menyebar Ke mana-mana, Begini Respons Dunia

Mutan Covid India Menyebar Ke mana-mana, Begini Respons Dunia

Jakarta, CNBC Indonesia –  Perkembangan wabah Covid-19 di Negeri Bollywood semakin memprihatinkan. Adanya ledakan kasus infeksi virus Corona (SARS-CoV-2) membuat rumah sakit penuh sesak pasien, pasokan oksigen hingga vaksin menipis. Tenaga medis dan pemerintah setempat dibuat kalang kabut.

Bulan April lalu India berhasil menyalip Brazil menjadi runner up negara dengan kasus kumulatif Covid-19 terbanyak di dunia. Satu peringkat di bawah Amerika Serikat (AS). Total orang yang teridentifikasi terjangkit Covid-19 tembus 20 juta hari ini. Sementara mereka yang kehilangan nyawa sudah lebih dari 222 ribu orang.

Serangan gelombang kedua ini jauh lebih parah dibandingkan dengan yang pertama. Rata-rata kasus infeksi harian selama rentang waktu satu minggu mencapai angka 378 ribu. Naiknya 4x dibanding puncak gelombang pertama.

Minggu lalu kasus infeksi harian sempat menyentuh angka 400 ribu dalam 24 jam. Wajar saja jika tsunami Covid-19 membuat Perdana Menteri India beserta jajarannya pusing bukan main dan meminta bantuan sana-sini.

Tren angka kematiannya juga tak kalah mengerikan. Pada saat gelombang pertama, puncak angka kematian yang dilaporkan mencapai 1.166 per hari. Sekarang angkanya melonjak 3x menjadi 3.500 mortalitas setiap harinya.

Kenaikan kasus infeksi ini banyak dikaitkan dengan temuan baru mutan virus Corona yang lebih dikenal dengan double variant. Sesuai namanya, ada mutasi ganda yang terjadi pada genom virus yang juga masih satu kelompok dengan penyebab SARS 18 tahun silam.

Varian baru ini diberi nama B.1.617. Berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan, varian ini memiliki kesamaan dengan varian yang berasal dari Afrika Selatan dan Brazil sebagaimana ditulis di Wall Street Journal.

Awalnya varian ini ditemukan di India pada bulan Oktober lalu. Saat itu hanya puluhan kasus yang terdeteksi. Meskipun varian tersebut dianggap lebih menular dan dikaitkan dengan lonjakan kasus sebulan terakhir, tetapi pernyataan tersebut masih sebatas hipotesis yang perlu diuji kebenarannya.

Sekarang belasan negara sudah melaporkan temuan varian tersebut, di antaranya adalah Jerman, Belgia, Swiss, Inggris, AS, Jepang, Timur Tengah, Australia, Singapura hingga Indonesia.

Pada minggu terakhir April lalu pemerintah RI mengumumkan sudah ada 10 kasus infeksi virus tersebut di Tanah Air. Ada yang transmisi lokal maupun kasus impor.

Hanya saja dalam merespon temuan tersebut respon beberapa negara ada yang cenderung ‘kalem’. Di AS misalnya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) belum masuk ke dalam varian yang mendapat pantauan serius.

Sama halnya dengan Inggris. Walau ada 132 kasus yang dikaitkan dengan varian ini di Negeri Ratu Elizabeth, pejabat kesehatan Inggris menilai mutan ini belum menjadi concern utama yang biasanya diindikasikan dengan peningkatan kemampuan penularan, virulensi hingga kemampuan untuk lolos dari sistem imun bahkan vaksin.

Ternyata Begini Respon Dunia

Virus SARS-CoV-2 yang awalnya ditemukan di Wuhan, China akhir tahun 2019 silam merupakan virus yang memiliki materi genetik (cetak biru kehidupan) berupa RNA.

Siobain Duffy seorang peneliti dari Universitas New Jersey dalam makalah penelitiannya yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Plos Biology menyebutkan bahwa karakteristik virus RNA adalah laju mutasinya yang tinggi.

Virus dengan materi genetik RNA bisa bermutasi dengan laju jutaan kali lebih cepat ketimbang mutasi inangnya yang juga berkorelasi positif dengan tingkat virulensinya atau dalam bahasa yang lebih awam adalah derajat kemampuan suatu patogen menyebabkan penyakit.

Melihat potensi mutasi yang tinggi, respon setiap negara harusnya adalah meningkatkan surveilans. Pemantauan pun juga harus dilakukan dengan pendekatan biologi molekuler yang canggih melalui sekuensing.

Secara sederhana, sekuensing berarti membaca atau memetakan urutan materi genetik suatu makhluk hidup untuk mengidentifikasi karakteristiknya mulai dari strategi bertahan hidup hingga kemampuan menginfeksi pada kasus patogen seperti SARS-CoV-2.

Sebenarnya sudah banyak negara yang melakukan pemetaan genom virus ini. Negara yang pertama kali melakukan adalah China. Urutan materi genetik virus juga sudah dipublikasikan dan dapat diakses oleh banyak pihak mulai dari peneliti di institusi hingga ilmuwan yang bekerja di industri produk kesehatan sehingga vaksin bisa diciptakan.

Sayangnya, kapabilitas dan kapasitas melakukan sekuensing ini setiap negara juga berbeda-beda. Banyak faktor yang mempengaruhi. Mulai dari tingkat pendapatan hingga tantangan berupa aspek teknologi.

Yuki Furuse dari Universitas Kyoto dalam risetnya mengevaluasi respon pemetaan genom di 49 negara. Hasilnya dari >100 genom yang berhasil dipetakan dan dipublikasikan paling banyak disumbang oleh negara dengan pendapatan tinggi.

Dari 93.817 data genom yang tersedia, Inggris dan AS memberikan sumbangsih tertinggi dalam hal publikasi dengan masing-masing menyumbang 38,9% dan 22,7% data genom yang dibagikan.

Lebih lanjut, Furuse juga mengevaluasi respon sekuensing 49 negara tersebut menggunakan tiga indikator. Pertama adalah fraction yang mencerminkan seberapa banyak sampel sekuens materi genetik virus yang dikumpulkan sejak kasus mencapai angka 1.000.

Indikator yang kedua adalah timelinness yang menunjukkan jumlah sekuens materi genetik virus yang berhasil dipublikasikan ketika kasus kumulatif infeksi di setiap negara tembus angka 1.000.

Terakhir adalah openness atau gap antara waktu pengumpulan sampel dan pengumpulan sekuens dari 100 sekuens pertama yang didapatkan di setiap negara. Ketika indikator tersebut ditransformasi ke dalam sebuah data numerik dan dilakukan scoring.

Semakin tinggi skor maka semakin baik cara penanganannya. Hasilnya bisa ditebak. Negara-negara kaya berhasil mendapatkan skor yang tinggi. Mereka adalah Amerika, Islandia, Inggris, Belanda dan Australia.

Sementara itu negara-negara berkembang seperti Turki, Afrika Selatan, Mexico dan Malaysia berada di peringkat bontot. Satu-satunya negara Afrika yang berhasil masuk jajaran 10 besar hanyalah Kongo.

Furuse, Yuki (2021).

Sumber : Furuse, Yuki (2021). “Genomic sequencing effort for SARS-CoV-2 by country during the pandemic”. International Journal of Infectious Diseases

Berbagai negara di dunia harus saling berkolaborasi untuk memecahkan permasalahan ini karena ini merupakan krisis global. Solidaritas harus ditingkatkan, karena bagaimanapun juga surveilans lewat pemetaan genomik adalah salah satu prasyarat utama untuk bisa memahami virus.

Pemetaan genom akan menghasilkan data yang banyak dan informasi yang kaya sehingga berguna untuk membuat formulasi kebijakan intervensi di sektor kesehatan yang tepat sehingga pandemi bisa segera ‘dijinakkan’.

Selain itu pemetaan genom ini juga merupakan investasi yang berguna di masa depan ketika pandemi datang kembali. Sebab dari sekian banyak wabah, pemicunya mirip-mirip yaitu virus dengan materi genetik RNA yang salah satunya sudah tidak asing lagi seperti virus Influenza.


Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x