Varian Virus Corona di India Disebut Bisa Lolos Tes PCR, Ini Kata Epidemiolog

Varian Virus Corona di India Disebut Bisa Lolos Tes PCR, Ini Kata Epidemiolog

Virus corona penyebab Covid-19 terus mengalami mutasi dan perkembangan seiring pandemi yang masih terjadi di banyak negara.

Meskipun telah banyak penelitian dan riset yang dilakukan para ahli dan ilmuwan, sebagai virus baru masih banyak yang belum diketahui mengenai penyebab Covid-19 ini.

Di India, tempat lonjakan kasus Covid-19 yang baru-baru ini terjadi, seorang dokter menyebut bahwa ada varian baru vitus corona yang dapat lolos dari deteksi alat tes Covid-19.

Tak terdeteksi PT-PCR

Diberitakan Times of News, 23 April 2021, dokter konsultan di Helvetia Medical Center Delhi, Dr Souradipta Chandra, mengungkapkan beberapa varian mutan baru virus corona disebut-sebut tidak terdeteksi oleh tes RT PCR

“Mutan baru tampaknya tidak dapat dideteksi dengan uji RT-PCR. Saya yakin ada varian ganda dan triple yang telah ditemukan dan karena perubahan struktur, uji RT-PCR tidak dapat mendeteksinya,” kata Chandra.

Selain disebut-sebut bisa lolos dari deteksi tes Covid-19, varian baru virus corona itu juga tampaknya menimbulkan gejala baru.

Gejal Covid-19 varian baru

Melansir Hindustan Times, 23 April 2021, Chandra melihat gejala berikut ini pada pasien di gelombang kedua India:

  1. diare
  2. sakit perut
  3. ruam
  4. konjungtivitis
  5. keadaan kebingungan
  6. kabut otak
  7. perubahan warna kebiruan pada jari tangan dan kaki
  8. pendarahan melalui hidung dan tenggorokan.

Gejala tersebut diikuti gejala Covid-19 biasa seperti sakit tenggorokan, nyeri badan, demam, kehilangan penciuman dan kehilangan rasa.

Dokter meminta warga India menghindari semua tempat ramai termasuk laboratorium pengujian, karena varian virus corona baru ini tampaknya sangat menular.

Beberapa tumpukan kayu pemakaman pasien yang meninggal karena penyakit COVID-19 terlihat terbakar di tanah yang telah diubah menjadi krematorium kremasi massal korban virus corona, di New Delhi, India, Rabu (21/4/2021).

Beberapa tumpukan kayu pemakaman pasien yang meninggal karena penyakit COVID-19 terlihat terbakar di tanah yang telah diubah menjadi krematorium kremasi massal korban virus corona, di New Delhi, India, Rabu (21/4/2021).(AP)

Pendapat ahli

Terkait temuan itu, epidemiolog Indonesia di Universitas Griffith Dicky Budiman menjelaskan tes PCR ada beberapa macam.

Kemungkinan untuk luput atau tidak mendeteksi suatu varian seperti di India, memang ada.

“Ada yang mesinnya tidak mendeteksi protein tertentu, ada deletation namanya, tapi masih ada potensi untuk bisa mendeteksi karena protein di virus ini kan banyak,” kata Dicky pada Kompas.com, Minggu (25/4/2021).

Meskipun kemungkinan virus corona lolos dari tes PCR memang ada, namun Dicky mengatakan menurut pengetahuannya, mesin PCR masih bisa dimodifikasi.

Hal itu supaya bisa kembali mendeteksi svarian mutasi virus corona yang ada.

Misalnya ada protein yang tidak terdeteksi, mesinnya bisa dimodifikasi untuk bisa mendeteksi protein itu.

Pandemi masih panjang

Dia juga mengatakan, penemuan baru di India menunjukkan bahwa perjalanan menuju akhir pandemi masih panjang.

Varian virus itu makin mengkhawatirkan karena makin efektif menginfeksi hingga tidak terdeteksi alat tes yang sudah berstandar “emas”.

Oleh karena itu, dia mengingatkan kepada pemerintah Indonesia untuk berhati-hati.

Terutama apabila varian baru tersebut memang betul-betul bisa luput dari tes PCR.

“Ini mengkhawatirkan. Bisa menimbulkan orang tidak dikarantina ini hal yang berbahaya. Itulah sebabnya harus ada penguatan dalam pedoman, ketika ada orang yang menunjukkan gejala kemudian ada kontak, ada riwayat ke tempat ramai ya sudah karantina,” tuturnya.

Risiko komorbid

Menurut Dicky, apabila ada yang positif tapi tidak terdeteksi alat tes Covid-19 maka kondisinya bsia berbahaya.

Karena hal itu dapat menularkan kepada yang rawan atau berisiko tinggi atau komorbid. Kemungkinan mereka untuk meninggal besar jika terinfeksi.

Lanjutnya, jika Indonesia tidak bisa memperbanyak testing, yang penting harus ada tindakan cepat untuk menemukan suspect atau orang yang diduga terinfeksi.

Suspect itu harus diisolasi atau karantina minimal 10 hari supaya memutus mata rantai.


Sumber: kompas.com

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x