Reportase Webinar Whole Genome Sequencing Surveilance Upaya Mengidentifikasi Mutasi Virus SARS-Cov-2 di Indonesia Sabtu, 24 April 2021

Webinar ini dilaksanakan atas kerja sama Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Asosiasi Dinas Kesehatan Indonesia dan Whole Genome Sequencing Working Group of Indonesia. Webinar ini dibuka oleh pengantar dari dr. Slamet, MHP (Kepala Badan Litbangkes). Menghadirkan narasumber Dr. Mark Perkins (WHO Geneva), Dr. dr. Vivi Setiawaty, PhD (Kepala Pusatlitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan), drh. Safarina Malik, Ph.D (Sekretaris Utama Lembaga Eijkman), dan Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS (Plt Dirjen P2P). Webinar kali ini menghadirkan dr. H. M. Subuh, MPPM (Ketua ADINKES, Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Ekonomi Kesehatan), Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp. PD-KGEH, MMB (Dekan FK UI), dan dr. Gunadi, PhD., Sp. BA (FK UGM) sebagai pembahas. Webinar ini dipandu oleh dr. Yanri Wijayanti Subronto, Ph.D, Sp. PD, KPTI sebagai moderator.

Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS

Maxi menyampaikan pentingnya testing dan tracing dalam upaya memutus penularan COVID-19 di Indonesia. Dibutuhkan strategi yang tepat untuk melandaikan kurva pandemi. Maxi memaparkan mengenai strategi penanganan COVID-19 di Indonesia. Penguatan deteksi dapat dilakukan dengan akselerasi tes, lacak, dan isolasi. Sudah ada kolaborasi Kemenkes – TNI – Polri dalam penanganan COVID-19. Tracing atau pelacakan kontak merupakan kunci utama memutus rantai transmisi. Maxi menambahkan bahwa Indonesia harus menangkal kasus impor dari negara lain. Pada 25 April 2021 Indonesia akan menutup penerbangan dari India. Dalam diskusi, Maxi menyampaikan bahwa vaksin gotong royong diberikan gratis untuk masyarakat karena biaya vaksinasi ditanggung oleh perusahaan.

Dr. Mark Perkins

WHO secara rutin menilai jika varian dari SARS-Cov-2 mengakibatkan perubahan dalam penularan, tampakan klinis dan keparahan, atau jika virus ini berdampak pada kesehatan masyarakat. Kasus COVID-19 di Asia Tenggara meningkat drastis selama beberapa minggu terakhir. Beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah testing, antara lain prevalensi individu yang bergejala, jumlah orang yang berkontak, tujuan testing, tahapan wabah, kapasitas testing, kondisi keuangan, dan kontak tracing. Mark juga menyampaikan mengenai hal pendorong adanya perkembangan variasi gen virus.

Dr. dr. Vivi Setiawaty, PhD

Vivi menyampaikan mengenai topik Jejaring dan Penguatan Laboratorium Pendukung WGS Surveilans. Terdapat 786 laboratorium yang telah tergabung dalam pemeriksa COVID-19. Laboratorium tersebut sudah melakukan Verifikasi Hasil Pemeriksaan di New Allrecord (NAR). Vivi menekankan bahwa lab jejaring COVID-19 perlu dimonitoring oleh Dinkes Provinsi untuk menjaga mutu laboratorium. Perlunya kewaspadaan terhadap mutasi virus karena virus tidak tertangkap antibodi, penularan yang lebih cepat dan massif, bertambahnya keparahan penyakit, dan tidak terdeteksi alat diagnostik. Hal ini mendorong perlu adanya surveilans mutasi genome. Penemuan varian baru lineage B117 ini adalah hasil pemeriksaan Whole Genome Sekuensing (WGS) yang dilakukan oleh Badan Litbang Kesehatan. Saat ini sedang dilakukan penelusuran kasus dan kontaknya untuk penyelidikan epidemiologi sebagai tindak lanjut dari penemuan kasus varian B117.

drh. Safarina Malik, Ph.D

Safarina menyampaikan topik mengenai SARS-Cov-2 Genomic Surveillance in Indonesia. Safarina memaparkan bahwa surveilans genomic dapat menghasilkan sumber informasi yang kaya untuk melacak transmisi dan evolusi patogen. Ada 3 variants of concern  yaitu  B117 (UK), B1.351 (Afrika Selatan), dan P1 (Brazil). Data genomic akan membantu public health program untuk menentukan kebijakan selanjutnya.

dr. H. M. Subuh, MPPM

Subuh memaparkan bahwa pondasi dasar ketahanan kesehatan dalam menghadapi pandemi adalah surveilans. Indonesia harus bisa membangun lab kesehatan masyarakat untuk bisa melakukan upaya identifikasi. Pelajaran dari India adalah masyarakat harus tetap mematuhi protokol kesehatan.

Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp. PD-KGEH, MMB

Prof Ari memaparkan bahwa para klinisi harus mengantisipasi jika ada varian baru. Apakah sebenarnya ini fenomena gunung es dimana mutasi sebetulnya sudah banyak tapi tidak terdeteksi? Litbangkes dan universitas harus diperkuat dengan sarana prasarana. Pemerintah daerah dan universitas harus berkolaborasi untuk mendeteksi varian – varian baru.

dr. Gunadi, PhD., Sp. BA

Gunadi memaparkan bahwa virus ini secara natural akan bermutasi. Mutasi virus akan berbeda – beda dengan dampak yang berbeda. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah host genetic susceptibility dan host comorbidity. Menurut penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa usia tua dan komorbid meningkatkan kematian.

Video webinar ini dapat diakses pada link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=2n0lAOH1ggc&t=2894s  (Reporter: Monica Abigail)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x