Studi: Varian Virus Corona Afrika Selatan Terobos Pertahanan Vaksin Pfizer

Studi: Varian Virus Corona Afrika Selatan Terobos Pertahanan Vaksin Pfizer

Salah satu varian baru virus corona yang mengkhawatirkan dunia adalah varian virus dari Afrika Selatan. Studi Israel menunjukkan varian ini mampu menembus pertahanan vaksin Pfizer.

Artinya, vaksin mRNA yang dikembangkan Pfizer dan BioNTech tidak cukup mampu memberikan kekebalan terhadap serangan infeksi varian baru virus corona Afrika Selatan.

Dilansir dari ABC, Senin (12/4/2021), studi yang dilakukan para peneliti di Israel, namun belum ditinjau sejawat ini, menemukan bahwa pada batas tertentu, varian virus corona Afrika Selatan dapat ‘menerobos’ vaksin Covid-19 Pfizer.

Studi yang dirilis pada Sabtu (10/4/2021) itu telah membandingkan hampir 400 orang yang dites positif Covid-19, 14 hari atau lebih setelah mereka menerima satu suntikan atau dua dosis vaksin Pfizer.

Jumlah yang sama juga diamati pada pasien dengan Covid-19, yang tidak divaksinasi.


Varian virus corona Afrika Selatan, B.1.351, ditemukan pada sekitar 1 persen dari semua kasus Covid-19 pada semua orang yang diteliti dalam studi itu.

Menurut studi yang dilakukan para peneliti di Tel Aviv University, Israel, di antara pasien yang telah menerima dua dosis vaksin Pfizer, tingkat prevalensi varian virus B.1.351, delapan kali lebih tinggi daripada mereka yang tidak divaksinasi.

Studi ini menunjukkan bahwa vaksin Pfizer kurang efektif terhadap varian virus corona Afrika Selatan, dibandingkan dengan virus corona asli dan varian pertama yang teridentifikasi di Inggris, yang mencakup hampir semua kasus Covid-19 di Israel.

“Kami menemukan tingkat yang lebih tinggi dari varian virus corona Afrika Selatan, di antara orang yang divaksinasi dengan dosis kedua (vaksin Pfizer), dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksinasi,” jelas Adi Stern, peneliti di Tel Aviv University.


Ilustrasi vaksin Covid-19 yang dikembangkan Pfizer dan Moderna berbasis teknologi genetik yang disebut mRNA (messenger RNA).

Ilustrasi vaksin Covid-19 yang dikembangkan Pfizer dan Moderna berbasis teknologi genetik yang disebut mRNA (messenger RNA). (SHUTTERSTOCK/Nixx Photography)

“Ini berarti varian Afrika Selatan mampu, sampai batas tertentu, menembus perlindungan vaksin,” imbuh dia.

Kendati demikian, para peneliti memperingatkan bahwa studi itu hanya memiliki ukuran sampel yang kecil, dari beberapa orang yang terinfeksi varian virus Afrika Selatan.

Sebab, pasien Covid-19 yang terinfeksi varian B.1.351 di Israel tidak banyak.

Selain itu, para peneliti menegaskan bahwa penelitian itu tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan keefektifan vaksin Covid-19 tersebut secara keseluruhan terhadap varian apa pun.

Sebab, hanya melihat pada orang yang sudah dites positif Covid-19, dan bukan pada tingkat infeksi secara keseluruhan.


Hasil tes vaksin Pfizer sebelumnya, disampaikan perusahaan tersebut pada 1 April lalu, bahwa vaksin Covid-19 yang dikembangkan dengan teknologi mRNA itu diklaim sekitar 91 persen efektif mencegah Covid-19.

Dikutip dari data uji coba terbaru yang menyertakan peserta yang diinokulasi hingga enam bulan.

Sedangkan terkait varian baru virus corona Afrika Selatan, perusahaan ini mengatakan bahwa di antara 800 relawan studi di Afrika Selatan, terdapat 9 kasus Covid-19, yang semuanya terjadi di antara peserta yang mendapatkan plasebo.

Dari 9 kasus Covid-19 tersebut, enam kasus di antaranya adalah pasien yang terinfeksi varian virus corona Afrika Selatan.


Ilustrasi virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Peneliti kembali buktikan efek virus corona pada otak yang dapat menyebabkan efek kognitif, kabut otak hingga kelelahan.(SHUTTERSTOCK/creativeneko)

Ilustrasi virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Peneliti kembali buktikan efek virus corona pada otak yang dapat menyebabkan efek kognitif, kabut otak hingga kelelahan.(SHUTTERSTOCK/creativeneko)(KOMPAS.com/MUHAMMAD NAUFAL)

Beberapa studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa suntikan vaksin Pfizer-BioNTech kurang ampuh dalam menangkal infeksi varian B.1.351 dibandingkan dengan varian virus corona yang lain.

Namun demikian, vaksin Pfizer yang berbasis messenger RNA (mRNA) disebut masih memberikan pertahanan kekebalan yang cukup kuat dari infeksi virus corona.

Menurut Stern, hasil penelitiannya mungkin akan menimbulkan kekhawatiran, sebab prevalensi yang rendah dari strain virus Afrika Selatan.

“Bahkan jika varian Afrika Selatan berhasil menembus perlindungan vaksin, itu belum menyebar secara luas ke seluruh populasi,” kata Ms Stern, menambahkan bahwa varian Inggris mungkin ‘menghalangi’ penyebaran strain Afrika Selatan.

Hampir 53 persen dari 9,3 juta penduduk Israel telah menerima kedua dosis vaksin mRNA Covid-19 Pfizer.

Israel sebagian besar telah membuka kembali ekonominya dalam beberapa pekan terakhir.

Sementara pandemi tampaknya surut di negara tersebut, dengan tingkat infeksi, penyakit parah, dan rawat inap menurun tajam.

Sekitar sepertiga populasi penduduk Israel berusia di bawah 16 tahun.

Artinya, sebagian besar di antara mereka masih belum memenuhi syarat untuk menerima vaksin Covid-19 untuk mencegah infeksi virus corona, baik varian asli, maupun varian baru virus corona Afrika Selatan.


Sumber: https://www.kompas.com/sains/read/2021/04/12/070300623/studi–varian-virus-corona-afrika-selatan-terobos-pertahanan-vaksin-pfizer?page=all

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x