Selain China, 4 Negara Ini Juga Sempat Disebut Jadi Tempat Asal-usul COVID-19

Selain China, 4 Negara Ini Juga Sempat Disebut Jadi Tempat Asal-usul COVID-19

Jakarta -Beberapa waktu lalu, tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan investigasi soal asal-usul COVID-19 di Wuhan, China. Dalam penelusurannya, mereka mendatangi tempat-tempat yang disebut sebagai sumber utama yaitu laboratorium Wuhan hingga pasar hewan di sana.

Namun, tim ahli WHO menegaskan bahwa virus tersebut tidak berasal dari laboratorium Wuhan. Ada hipotesis lain terkait asal-usul virus ini, termasuk virus melompat langsung dari inang hewan; menginfeksi manusia melalui hewan perantara; dan kemungkinan penularan ke manusia melalui makanan beku.

“Itu sangat tidak mungkin (dari laboratorium Wuhan), dan penelitian lebih lanjut tidak diperlukan untuk teori ini,” kata Dr Peter Ben Embarek, kepala tim penyelidik WHO dalam konferensi pers, Selasa (9/2/2021).

Selain hipotesis dari WHO, sebelumnya juga muncul spekulasi bahwa virus Corona bukan berasal dari Wuhan, China. Ada beberapa negara yang sempat disebut sebagai tempat asal-usul virus yang sudah menyebar ke seluruh dunia, seperti yang detikcom rangkum berikut ini.

1. Spanyol

Virus Corona COVID-19 sempat disebut berasal dari Spanyol, yang dibuktikan dengan adanya temuan jejak virus Corona di air limbah Spanyol. Dr Tom Jefferson dari Centre of Evidence-Based Medicine (CEBM) di Oxford University menunjukkan serangkaian penemuan virus di seluruh dunia, sebelum muncul di Asia.

Temuan ini menjadi bukti soal asal-usul pandemi COVID-19. Ini menjadi bukti jejak virus sudah ditemukan pada sampel limbah dari Spanyol, Italia, dan Brasil bahkan sebelum ditemukan di China.

Dari studi pracetak yang belum peer-reviewed juga mengklaim menemukan keberadaan genom SARS-CoV-2 dalam sampel limbah Barcelona sejak 12 Maret 2019 lalu.

“Ada cukup banyak bukti virus Corona dalam jumlah besar di air limbah di semua tempat, dan semakin banyak bukti ada penularan lewat tinja,” kata Jefferson yang dikutip dari The Guardian.

Jefferson juga mengatakan, suhu di pembuangan air limbah yang mencapai 4 derajat Celcius itu menjadi tempat yang ideal untuk virus.

“Ada konsentrasi tinggi di mana pembuangan limbah adalah 4 derajat Celcius, yang merupakan suhu ideal untuk virus. Dan pabrik pengepakan daging sering pada suhu 4 derajat Celcius,” tegas Jefferson.

“Wabah ini perlu diselidiki dengan benar,” pungkasnya.

2. Italia

Seorang epidemiolog China, Zheng Guang juga berpendapat bahwa virus Corona bukan berasal dari Wuhan, China. Menurutnya, virus itu hanya baru teridentifikasi pertama kali di kota tersebut.

“Wuhan adalah tempat virus Corona pertama kali terdeteksi, tetapi bukan menjadi tempat asalnya (virus Corona),” kata Zeng yang merupakan mantan epidemolog Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China pada konferensi akademik yang dikutip dari South China Morning Post.

Dari penelitian Italia yang dikutip Zeng menunjukkan virus Corona menyebar melalui orang tak bergejala, beberapa bulan sebelum dilaporkan di Wuhan pada Desember 2019. Berdasarkan studi National Cancer Institute (INT) Milan, Italia, virus ini sudah menyebar di sana sejak September 2019.

Meski pasien COVID-19 di Italia pertama kali terdeteksi pada 21 Februari 2020 di wilayah utara Lombardy, temuan dari INT menunjukkan hasil yang berbeda. Temuan itu menunjukkan 11,6 persen dari 959 relawan sehat yang terdaftar dalam uji coba skrining kanker paru antara September 2019 – Maret 2020, sudah mengembangkan antibodi Corona jauh sebelum Februari 2020.

3. India

Salah satu negara dengan kasus COVID-19 terbanyak di dunia yaitu India juga sempat diduga sebagai tempat asal-usul virus Corona. Itu dimuat dalam studi yang dipublikasi di jurnal The Lancet berjudul The Early Cryptic Transmission and Evolution of Sars-CoV-2 in Human Host.

Dalam studi tersebut, para ahli meneliti dan menghitung mutasi jenis virus Corona pada 17 negara. Diduga jumlah mutasi Corona yang ditemukan di beberapa negara lebih sedikit daripada yang dilaporkan pada sampel pertama di Wuhan, China.

Dikutip dari Daily Star, para peneliti mengklaim strain atau jenis Corona yang paling sedikit bermutasi ditemukan di delapan negara, yaitu Australia, Bangladesh, Yunani, Amerika Serikat, Rusia, India, dan Republik Ceko.

Namun, para peneliti ini menyebut virus Corona tidak bisa ‘melompat’ ke manusia dari semua tempat ini di waktu yang sama. Mereka menyimpulkan bahwa wabah COVID-19 pertama pasti terjadi di wilayah dengan keragaman genetik.

“Tidak ada tempat yang lebih beragam secara genetik selain India dan Bangladesh,” ungkap peneliti.

4. Amerika Serikat

Studi lainnya juga mengungkap bahwa virus Corona yang muncul sejak Desember 2019 lalu berasal dari Amerika Serikat (AS).

“Infeksi SARS-CoV-2 mungkin telah ada di AS pada Desember 2019, lebih awal dari yang diketahui sebelumnya,” kata para penulis studi yang dikutip dari laman NPR.

Penemuan ini muncul setelah didapatkan bukti bahwa terdapat orang-orang yang memiliki antibodi virus Corona. Hal ini diketahui Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, yang menganalisis donor darah yang dikumpulkan Palang Merah Amerika dari penduduk di sembilan negara bagian.

Mereka menemukan antibodi COVID-19 pada 106 dari 7.389 donor darah yang terkumpul antara 13 Desember 2019 sampai 17 Januari 2020. Keberadaan antibodi ini menunjukkan bahwa orang tersebut telah terpapar virus Corona dan sistem imunnya memicu respon defensif.

Selain itu, para peneliti menemukan antibodi COVID-19 pada 39 sampel dari California, Oregon, dan Washington pada 13-16 Desember. Mereka juga menemukan antibodi pada 67 sampel dari Connecticut, Iowa, Massachusetts, Michigan, Rhode Island, dan Wisconsin di awal Januari 2020 sebelum wabah ini menyebar ke berbagai negara.


sumber: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5370303/selain-china-4-negara-ini-juga-sempat-disebut-jadi-tempat-asal-usul-covid-19

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x