Webinar World Bank Event Will COVID-19 Derail the Quest for Universal Health Coverage in East Asia and the Pacific?

Webinar  World Bank Event Will COVID-19 Derail the Quest for Universal Health Coverage in East Asia and the Pacific?

Pertemuan yg diadakan oleh World Bank Group ini dilaksanakan tanggal 7 Oktober 2020, dihadiri oleh Victoria Kwakwa sebagai Wakil Presiden Bank Dunia Wilayah Asia Timur dan Pasifik dan Ajay Tandon sebagai ekonom World Bank. Keempat panelis yang dihadirkan berasal dari 4 negara yaitu Indonesia, Vietnam, Laos, dan Kepulauan Solomon. Keempat panelis yaitu, Dr. Febrio Kacaribu sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Indonesia, Pauline McNeil sebagai Sekretaris Kementerian Kesehatan dan Pelayanan Medis Kepulauan Solomon, Dr. Tran Thi Mai OANH sebagai Direktur Strategi Kesehatan dan Lembaga Kebijakan Kementerian Kesehatan Vietnam, dan Bounleua Sinxayvoravong sebagai Wakil Menteri Keuangan Kementerian Keuangan Laos. Acara ini dimoderatori oleh Daniel Dulitzky sebagai Direktur Regional Human Development Kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Ajay Tandon memaparkan kondisi ekonomi di East Asia Pasific. Oktober ini kita bisa melihat adanya kontraksi ekonomi yang signifikan disertai ketidakpastian kapan ekonomi bisa bangkit kembali. Belanja publik untuk kesehatan tidak hanya bergantung pada apa yang terjadi pada pertumbuhan ekonomi tetapi juga pada total belanja publik dan perubahan prioritas kesehatan dalam anggaran pemerintah. Proyeksi di seluruh wilayah menunjukkan bahwa tanpa adanya prioritas ulang, pertumbuhan belanja publik untuk kesehatan dapat menurun di Negara – negara berpenghasilan rendah dan menengah di wilayah tersebut, termasuk menjadi negatif dalam beberapa kasus. Mengingat pendapatan yang menurun, apakah Negara – negara memeriksa kembali kebijakan fiskal yang pro kesehatan,  pajak atas tembakau, alkohol, gula, karbon, serta pengurangan subsidi bahan bakar minyak untuk membantu menutup kekurangan dan meningkatkan kesehatan? Di Negara – negara dengan jaminan kesehatan sosial, apa dampaknya terhadap pengangguran dan cakupan pembiayaan? Apakah sudah ada diskusi tentang pengurangan kontribusi dari hak dan perluasan cakupan UHC sehubungan dengan COVID-19?

Acara dilanjutkan dengan sharing dari setiap negara. Pertanyaan pertama untuk Indonesia adalah: bagaimana COVID-19 mempengaruhi pengeluaran di bidang kesehatan dan bagaimana pemerintah merespon perubahan ini? Febrio menjawab bahwa pemerintah mengalokasikan Rp 695T yaitu 4,4% GDP untuk penanganan COVID-19. Di bidang kesehatan Rp 65 T digunakan untuk testing, laboratorium, reimburse klaim, obat, fasilitas, peralatan medis. Selain itu untuk vaksin, insentif nakes yang menangani COVID-19, dan pegawai non medis yang menangani. Dana kesehatan meningkat 7,8% dan ini merupakan momentum untuk meningkatkan sistem kesehatan.

Pertanyaan untuk Vietnam adalah : bagaimana COVID-19 mempengaruhi pandangan pemerintah pada investasi di bidang kesehatan? Mungkinkah ada peningkatan investasi? Tran menjawab bahwa Vietnam memiliki strategi yang berbeda dengan negara lain karena mereka memiliki prioritas yang tinggi untuk investasi di bidang kesehatan. Pandemi ini menyebabkan meningkatnya biaya kesehatan untuk testing, trace, detection, karantina, dan treatment. Saat ini terjadi peningkatan budget investiasi kesehatan dan biaya untuk pencegahan.

Pertanyaan untuk Laos: apa efek COVID-19 pada pendapatan dan pembiayaan publik? Bounleua menjawab bahwa pendapatan turun 3.4% terhadap GDP. Adanya pemotongan pengeluaran untuk dana kesehatan masyarakat 30% di kementerian.  Laos mendapat bantuan dana dari negara sekitar untuk pencegahan dan pengobatan COVID-19. Kementerian keuangan dan kesehatan harus bekerja bersama. Selain itu kita perlu memotong dana yang kurang penting lalu dialokasikan untuk keperluan yang lebih penting.

Pertanyaan untuk Kepulauan Solomon: apa dampak COVID-19 dalam sistem kesehatan dan bagaimana sistem kesehatan selama ini berjalan? Pauline menjawab bahwa ada banyak bantuan dari negara lain dan organisasi internasional. Bantuan tersebut harus dikoordinir dengan baik dengan pertanggungjawaban yang baik.

Pertanyaan untuk Indonesia: apa pengaruh COVID-19 terhadap asuransi kesehatan social? Febrio menjawab bahwa di Indonesia ada universal health coverage yang disebut JKN. JKN ini mengalami difisit karena pengumpulan dana yang tidak lancar. Pemerintah memberi subsidi untuk kelas 3 yaitu pekerja sektor informal yang saat ini ada peningkatan jumlah anggota. Dana ini dibayar oleh Kemenkes melalui BPJS sebagai verifikator.

Pertanyaan untuk Vietnam: apa dampak kebijakan untuk testing, tracing dan isolating terhadap ekonomi? Tran menjawab bahwa investasi banyak dilakukan untuk testing dan tracing. Vietnam memiliki lebih dari 1000 laboratorium untuk pemeriksaan COVID-19. Vietnam memprioritaskan kesehatan dibandingkan ekonomi karena panedemi bisa berakhir lebih cepat sehingga ekonomi bisa segera bangkit.

Pertanyaan untuk Laos: bagaimana penerapan pajak yang meningkat? Bounleua menjawab bahwa di Laos 50% pajak untuk tembakau, 50% untuk alkohol, dan 5% untuk softdrink. Peningkatan pajak tersebut menyebabkan konsumsi menurun sehingga mengurangi konsumsi makanan/minuman tidak sehat. Tentu saja ada reaksi dari industri tersebut karena menurut mereka pajak tersebut terlalu tinggi.

Pertanyaan untuk Kepulauan Solomon: bagaimana mencegah virus dan dampak terhadap ekonomi. Apa yang dilakukan di masa depan untuk melindungi keuangan di sektor kesehatan? Pauline menjawab kasus pertama terjadi 3 Oktober 2020. Mereka memiliki waktu untuk mempersiapkan dan mencegah karena belajar dari negara lain. Saat ini Kementerian Kesehatan telah tertata lebih baik. Saat ini pemerintah fokus pada investasi kesehatan dan health coverage.

Menurut Febrio, kesehatan adalah masalah multi dimensional yang harus diselesaikan bersama. Kementerian Kesehatan dan Kementerian Keuangan harus bekerja bersama. Tran memaparkan bahwa tantangan selanjutnya adalah mengenai vaksin. Sumber vaksin di Vietnam adalah impor dan produksi sendiri. Selanjutnya juga harus dipikirkan bagaimana distribusi vaksin secara merata dan kapasitas sumber daya manusianya.

Reporter: Monica Abigail

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x