Diskusi Persiapan Pelatihan Pengembangan Perpustakaan/  Learning Resources Center RS dan Dinkes dengan Konsep Knowledge Management untuk Mendukung Penanganan Pandemi COVID-19

Diskusi Persiapan Pelatihan Pengembangan Perpustakaan/ Learning Resources Center RS dan Dinkes dengan Konsep Knowledge Management untuk Mendukung Penanganan Pandemi COVID-19

Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan Reportase Kegiatan

Series ke – 20 Forum Knowledge Management kali ini mendiskusikan tentang rencana pelatihan revitalisasi perpustakaan baik di RS maupun Dinkes atau institusi pendidikan kesehatan yang memiliki kepentingan untuk pengembangan Knowledge Management dalam rangka mendapat knowledge untuk penanganan pandemi COVID-19. Fasilitator dalam diskusi kali ini adalah Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD., dr. Lutfan Lazuardi, Ph.D., dan Ni Luh Putu Eka Andayani, SKM. MKes.

Memulai paparan, Lutfan menyampaikan saat ini pandemi COVID-19 menuntut kita untuk berjalan sambil belajar. Pengembangan Knowledge Management ini diharapkan  memudahkan kita untuk mendokumentasikan dan mengelola informasi yang berkaitan dengan penanganan pandemi ini dengan baik. Pengetahuan tentang COVID-19 terus berkembang dan hal tersebut mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi dalam merespon pandemi ini. Oleh karena itu, perlu adanya learning center di RS dan revitalisasi perpustakaan sebagai pendukung berkembangnya pengetahuan di RS. Tujuan diadakannya pelatihan ini untuk mengembangkan atau revitalisasi perpustakaan agar dapat berfungsi maksimal dalam mengelola ilmu pengetahuan. Target dari pelatihan ini adalah pengembangan perpustakaan dan implementasi Knowledge Management di RS dan Dinkes. Dalam pengembangan perpustakaan, upaya yang dilakukan adalah meningkatkan kapasitas perpustakaan dengan peningkatan infrastruktur dan sumber daya manusia. Pelatihan ini diharapkan diikuti oleh petugas perpustakaan; staf di bidang pendidikan, pelatihan, penelitian; dan knowledge workers (klinisi). Model pelatihan dilakukan dengan blended learning selama 10 minggu mulai 7 September 2020, pendampingan selama 1 bulan, dan monev untuk implementasi.

Materi yang disampaikan terdiri dari 2 modul, yaitu Modul 1 Penguatan Perpustakaan dan Modul 2 Penerapan Knowledge Management di RS. Modul 1 Penguatan Perpustakaan yang akan disampaikan selama 5 minggu, berisi materi yang secara teknis untuk peningkatan skill teknis pustakawan dan knowledge workers. Pustakawan diharapkan mampu melakukan penelusuran informasi terkait COVID-19, serta mengetahui berbagai basis data yang relevan dengan COVID-19 baik dari sisi manajemen, klinis, dan biomedis. Pustakawan juga mampu mendalami teknik bibliometrik dan informetrik sehingga harapannya fungsi learning center dapat mengetahui perkembangan ilmu dari waktu ke waktu dan tren apa yang sedang terjadi sehingga RS dan Dinkes mempunyai langkah strategis untuk mendukung penyebarluasan knowledge. Modul 2 Penerapan Knowledge Management di RS (eksperimen) akan diberikan selama 4 minggu. Modul ini berisi materi yang lebih strategis karena melibatkan manajemen RS dan Dinkes untuk menyusun rencana detail Plan of Action, identifikasi berbagai knowledge workers, dan langkah yang harus diambil RS dan Dinkes untuk implementasi Knowledge Management. Kemudian dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi PoA masing – masing RS. Pelatihan ini dikenakan sejumlah biaya tertentu untuk satu tim dan ada subsidi bagi institusi yang mengajukan surat tertulis.

Putu menambahkan, pengembangan dengan pendekatan Knowledge Management untuk meningkatkan kapasitas perpustakaan RS ini belum pernah dilakukan di Indonesia. Terlebih karena pandemi, semua tenaga medis (knowledge workers) lebih sibuk untuk pelayanan sehingga tidak cukup waktu untuk update berbagai informasi. Informasi tentang ilmu pengetahuan terbaru harus dipilah dan perlu waktu untuk mencari, mengumpulkan, membaca, membuat summary, hingga akhirnya bagaimana pengetahuan tersebut dapat dipakai untuk memberikan dampak terhadap kinerja RS.

Pada diskusi ini terdapat pertanyaan dari Agnes, apakah SDM yang mau dikembangkan hanya pustakawan saja atau dalam bentuk tim? Lutfan menjawab bahwa pelatihan ini dalam bentuk tim dan salah satu yang ingin dikembangkan adalah pustakawannya. Oleh karena itu pelatihan ini memiliki 2 modul. Putu menambahkan, bahwa tim ini terdiri dari klinisi, manajemen, pustakawan. Fokus pertama di awal adalah pustakawan karena faktanya selama ini pustakawan hanya difungsikan untuk menjaga koleksi perpustakaan dan belum diberdayakan untuk pengelolaan pengetahuan di RS. Hal ini karena kapasitas pustakawan belum ditingkatkan untuk melakukan fungsi yang lebih tinggi. Pertanyaan menarik selanjutnya, bagaimana pustakawan dapat memahami konten yang dikelola dan dapat menyediakan ilmu pengetahuan yang relevan untuk RS? Putu menambahkan, di negara maju, pustakawan bukan hanya membantu mencari penelitian terbaru untuk klinisi tetapi ikut membaca dan membuat summary dengan didampingi supervisor. Walaupun target kita belum sejauh itu tapi paling tidak pustakawan ini mampu memberikan update jurnal terbaru yang terkait dengan COVID-19, yang mana pengetahuan tentang COVID-19 ini cepat berkembang dan berubah setiap waktu.

Prof. Laksono menjelaskan, terdapat RS sebagai lembaga yang memiliki unit pengelola Knowledge Management, namun ada juga RS kecil yang tidak memiliki unit pengelola Knowledge Management. Siapa unit pengelola tersebut? Unit pengelola Knowledge Management tersebut adalah  perpustakaan. Inovasi perpustakaan sebagai unit pengelola Knowledge Management ini dapat mendorong RS untuk menerapkan Knowledge Management secara serius. Bagaimana jika RS tidak memiliki unit pengelola Knowledge Management? Terdapat website yang dapat diakses oleh semua RS baik yang memiliki unit pengelola Knowledge Management maupun tidak. Awal September akan dimulai pelatihan tentang bagaimana RS dapat mengembangkan Knowledge Management melalui perpustakaan. Pendaftaran untuk pelatihan ini akan dibuka dengan biaya tertentu untuk satu tim. Walaupun demikian, akan ada instansi yang bisa mengajukan subsidi. Pelatihan ini membutuhkan komitmen dari peserta karena pelatihan ini akan berlangsung sekitar 2 bulan dan masih bersifat eksperimental.

Putu menyampaikan, dari hasil survey ternyata banyak yang berminat mengikuti pelatihan. Terkait dengan rencana pelatihan, calon peserta sebaiknya mengidentifikasi siapa pustakawan yang ditugaskan sebagai penanggungjawab dan wajib mengikuti rangkaian pelatihan sampai selesai karena komitmen harus dinyatakan sejak awal.

Penutup

Lutfan menutup forum hari ini dengan menyampaikan bahwa detail pelatihan akan diinformasikan lebih lanjut dan harapannya peserta dapat mengikuti sampai tuntas, dapat belajar dan berkolaborasi bersama. Sampai jumpa.

 

Reporter: Monica Abigail

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments