Reportase Forum Knowledge Management Kesehatan Peran Cochrane Indonesia Dalam Penyebarluasan Informasi Untuk Klinisi  Dalam Konteks Manajemen Pengetahuan untuk COVID-19

Reportase Forum Knowledge Management Kesehatan Peran Cochrane Indonesia Dalam Penyebarluasan Informasi Untuk Klinisi Dalam Konteks Manajemen Pengetahuan untuk COVID-19

Reportase Reportase Kegiatan

Reportase Forum Knowledge Management Kesehatan
Seri 19

Peran Cochrane Indonesia Dalam Penyebarluasan Informasi Untuk Klinisi
Dalam Konteks Manajemen Pengetahuan untuk COVID-19


Webinar ini diadakan oleh Forum Knowledge Management Kesehatan pada 10 Agustus 2020 dengan narasumber dr. R. Detty Siti Nurdiati Z, MPH., Ph.D., Sp.OG(K) (direktur Cochrane Indonesia) dan dipandu oleh moderator dr. Guardian Yoki Sanjaya, MHlthInfo. Sejarah Cochrane dimulai pada 1979, Archie Cochrane memulai ide untuk mengumpulkan penelitian yang sudah dikritisi menjadi kesimpulan yang lebih berarti untuk pengambil keputusan klinis atau kebijakan. Pada 1993, Iain Chalmers membentuk Cochrane Collaboration yang awalnya bekerja pada area pregnancy and childbirth. Hingga saat ini, Cochrane adalah penyumbang resources untuk WHO dalam pembuatan kebijakan.

Cochrane mengalami peningkatan dalam 4 tahun terakhir, pada 2019 menempati urutan ke – 10 dari 165 jurnal kategori Medicine, General, and Internal. Cochrane adalah volunteer based organization yang membentuk pengetahuan. Terdapat panduan dan sumber untuk membuat systematic review dan review manager terdapat di website https://training.cochrane.org/ . Dalam menghadapi COVID-19, Cochrane mempunyai special collections yang bisa diakses gratis selama masa pandemi di website https://www.cochranelibrary.com/

Cochrane Indonesia (https://indonesia.cochrane.org/) dibentuk pada 2018, saat ini yang menjadi host adalah Universitas Gadjah Mada, dibantu oleh Universitas Indonesia sebagai afiliasi. Cochrane Indonesia mempunyai tugas untuk mengaktifkan peneliti di Indonesia untuk menghasilkan bukti ilmiah, membuat bukti ilmiah bisa diakses, advokasi bukti ilmiah dalam bentuk menyediakan bukti ilmiah untuk pembuat kebijakan, membentuk organisasi yang efektif dan sustainable, termasuk kolaborasi nasional dan internasional.

Prof. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD melanjutkan dengan pembahasan Posisi Cochrane Indonesia dan Bagaimana Hubungannya Dengan Rumah Sakit. Cochrane mempunyai jaringan global dan mempunyai koneksi dengan CEBU. Cochrane Indonesia mempunyai tanggung jawab untuk diseminasi pengetahuan kepada pembuat kebijakan, jurnalis, dan rumah sakit. Masih belum jelas bagaimana proses Cochrane Indonesia masuk ke rumah sakit, apakah menyasar ke perpustakaan (institusi) atau knowledge workers di RS (individu) dan darimana sumber dana Cochrane sebagai motivasi ekonomi untuk para anggota Cochrane.

Pembahasan dilanjutkan oleh Prof. dr. Hari Kusnanto, SU, Dr.PH  yang membicarakan tentang replication crisis yaitu kegagalan untuk mereplikasi temuan ilmiah yang sebelumnya, sehingga terkadang menimbulkan perdebatan. Maka dibutuhkan metascience atau kajian atas pengetahuan sebagai sistem formal. dr. Detty menanggapi pembahas tentang sumber dana Cochrane berasal dari dana masyarakat FK – KMK UGM dengan syarat melibatkan capacity building sebagian besar staf FK  – KMK UGM dan menyambut dengan positif masukan dari Laksono tentang mencari bentuk organisasi yang sustainable untuk Cochrane. Detty juga menyetujui pendapat Hari tentang metascience. Guardian menanyakan tentang sasaran Cochrane dan Detty memaparkan bahwa sasaran Cochrane sangat bervariasi, dari mahasiswa, klinisi, pengambil kebijakan, maupun jurnalis. Sesi webinar dirasakan bermanfaat karena beberapa RS meminta literatur dan dilanjutkan untuk membuat guideline lokal. Reporter: Monica Abigail

Unduh Materi

Video Rekaman Kegiatan

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments