Reportase Potensi Knowledge Management untuk Pengembangan Inovasi di Rumah Sakit

Reportase Knowledge Management Seri 18 Potensi Knowledge Management untuk Pengembangan Inovasi di Rumah Sakit

Reportase Reportase Kegiatan

Series ke-18 Forum Knowledge Management kali ini mendiskusikan tentang potensi knowledge management untuk pengembangan inovasi di rumah sakit. Pada pertemuan kali ini menghadirkan Ni Luh Putu Eka Andayani, SKM, M.Kes (Ketua Divisi Manajemen RS PKMK FK – KMK UGM) sebagai pembicara dan dr. Lutfan Lazuardi, PhD sebagai moderator. Pembahas pada pertemuan ini adalah Adj. Prof. dr. Hans Wijaya, MM (CEO National Hospital Surabaya), Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD (Ketua Dept. HPM FKKMK UGM/Ketua Board PKMK FKKMK UGM) serta dr. Rukmono Siswishanto, SpOG(K), M.Kes (Direktur Utama RSUP dr. Sardjito).

Memulai paparan, Putu sedikit menyampaikan poin penting pertemuan sebelumnya mengenai definisi knowledge management, siapa saja knowledge workers, knowledge management yang harus bisa menjadi budaya bangsa, dan kebijakan publik yang diperlukan.

Salah satu keuntungan knowledge management menurut Morr, CE. dan Subercaze, J. (2010) yaitu dapat membuka peluang kerjasama dan inovasi. Pustakawan yang awalnya hanya sebagai pelengkap di RS, diharapkan dapat mendukung klinisi dalam pengambilan keputusan klinik yang berbasis bukti.  Pustakawan sebagai knowledge manager memiliki tugas menavigasi, memfasilitasi, mengkolaborasi, dan mengedukasi. Di Indonesia perpustakaan RS belum berperan dalam memenuhi kebutuhan informasi  ilmiah para civitas hospitalia. Ada banyak kemungkinan yang menjadi penyebab belum optimalnya perpustakaan dan pustakawan RS, antara lain koleksi kurang updated, tidak ada atau sedikit sekali koleksi dari jurnal non-free access, kurang nyaman, lebih suka mengakses referensi dari departemen/bagian masing – masing, sambil bersosialisasi dengan dosen, staf, dan peserta didik lain di bagian/departemen tersebut.

Pembahasan diawali oleh pemaparan Laksono yang menyampaikan jika ingin menerapkan knowledge management di RS maka pemimpin harus mendukung. Pustakawan di Indonesia tidak dirancang untuk mengerjakan tugas – tugas seperti yang ada dalam literatur. Banyak RS yang tidak memiliki perpustakaan. Jangan sampai pengetahuan baru di era COVID-19 tidak kita manfaatkan semaksimal mungkin. Rukmono menyampaikan bahwa peran pustakawan belum bisa sampai tahap mendampingi visite dokter seperti yang dipaparkan dalam literatur. Kendala yang ditemui pada pengembangan knowledge management adalah pengetahuan belum optimal dimanfaatkan karena kita belum menyadari jika kita memiliki pengetahuan, kesulitan mengakses, dan kesulitan sharing pengetahuan. Kita mengalami learning disabilities, maka selain membangun sistem, RS harus menyiapkan sumber daya manusia. Aktivitas produksi pengetahuan di RS dapat terjadi pada instalasi perpustakaan dan pengembangan SDM, serta instalasi penelitian dimana bisa share penelitian, proses orientasi dan magang. Hans menambahkan keputusan manajemen, klinis, dan strategis harus berbasis pada informasi. Tidak ada informasi tanpa data yang akurat. Dari piramid yang telah dipaparkan, sebetulnya di bawah data ada yang disebut noise. Noise bisa diinterpretasikan menjadi data lalu diubah jadi informasi oleh orang yang tepat dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Perpustakaan di RS biasanya ada hanya untuk memenuhi aturan. Fungsi pustakawan di RS swasta melekat pada satu tim yang selalu mencari data terbaru mengenai pandemi dan tidak ada profesi pustakawan. Peran pustakawan ada di tim IT dan tim dokter umum yang melakukan kajian. Chief information officer akan meramu informasi yang ada lalu diberikan oleh CEO untuk pengambilan keputusan. Hans menyarankan bagaimana jika ada satu pusat yang menjadi database, misalnya UGM mensuplai data infomasi untuk pembelajaran seluruh RS di Indonesia.

Pada sesi diskusi, Peter Johannes memaparkan bahwa di RS swasta dan RS daerah, unit perpustakaan jarang digunakan. Faktanya public library di RS juga sangat penting karena dapat dimanfaatkan untuk pasien dan keluarganya sehingga dapat menjadi sarana edukasi. Mahasiswa hanya memanfaatkan wifi tanpa membaca buku atau jurnal yang disediakan perpustakaan. Agus menyatakan perlu ada data mengenai jumlah dokter yang membutuhkan layanan perpustakaan. Kita perlu mengubah existing condition menjadi ideal condition. Salah satu kendala yang besar adalah Indonesia masih memiliki budaya lisan yang tidak ilmiah. Putu menjawab bahwa saat ini fungsi perpustakan konvensional sudah bergeser dan diharapkan perpustakaan ikut membantu dalam proses pelayanan pasien. Misalnya ada permintaan dari klinisi yang membutuhkan penelitian terbaru akan suatu kasus, maka tim akan melakukan penelusuran, sitasi, summary, dan membuat evidence brief. Evidence brief diserahkan kepada klinisi yang menilai apakah relevan atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa mereka dapat mensuplai informasi yang dibutuhkan untuk klinisi yang tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan penelusuran. Belum ada riset khusus mengenai data jumlah dokter karena kita masih di tahap mempelajari. Kompetensi pustakawan harus diupgrade, budaya pembelajaran perlu dikembangkan, dan fasilitas mendukung perlu dibuat.

Laksono menanyakan apakah RS yang tidak memiliki perpustakaan tertarik berlangganan ke RS besar atau ke FK – KMK UGM? Mungkin RSUP dr. Sardjito dapat menarik RS lain untuk langganan pengetahuan, khususnya untuk jurnal yang sudah dianalisis. Rumah sakit rujukan bukan hanya menjadi rujukan spesimen atau layanan klinis namun juga dapat menjadi RS rujukan pengetahuan. Rukmono menanggapi bahwa peran RS rujukan saat ini bisa memberikan fasilitas pada sister hospital untuk percepatan pembelajaran di daerah dan adanya forum ilmiah. Agus menambahkan sebaiknya proses dan IT segera dikembangkan. Dokter dan manajemen harus mudah mengakses pengetahuan dari perpustakaan. Kita harus mulai menyadarkan orang-orang untuk saling berbagi pengetahuan. Apalagi saat pandemi ini banyak pengetahuan yang disimpan sendiri dan tidak terintegrasi. Agus khawatir akan adanya literasi keilmiahan yang rendah di kalangan dokter, seperti yang prof. Laksono paparkan bahwa terkadang ada dokter yang merasa pengetahuan itu terlalu teoritis. Azwan menambahkan apabila pemimpin peduli pada perpustakaan maka knowledge management di RS akan berjalan dengan baik.

Lutfan menutup forum hari ini dengan menyampaikan bahwa minggu depan akan ada pertemuan lebih lanjut untuk membahas knowledge management di RS secara lebih mendalam. Sampai jumpa.

Reporter: Monica Abigail


Video Rekaman Unduh Materi
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments