Diskusi Hasil Penelitian Kesiapan Sistem Kesehatan Daerah Menghadapi Lonjakan Pasien COVID-19: Studi Kasus Provinsi DIY

Diskusi Hasil Penelitian Kesiapan Sistem Kesehatan Daerah Menghadapi Lonjakan Pasien COVID-19: Studi Kasus Provinsi DIY

Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

PKMK FK – KMK UGM menyelenggarakan kegiatan serial webinar penelitian surge capacity pada penelitian tentang kesiapan sistem kesehatan daerah menghadapi lonjakan pasien COVID-19 di Provinsi DIY. Webinar diadakan pada 15 Juli 2020 dihadiri kurang lebih 100 peserta secara online dari berbagai wilayah di Indonesia. Narasumber webinar ini adalah Putu Eka Andayani SKM., M.Kes. dimoderatori oleh dr. Bella Donna M.Kes.

Webinar ini menghadirkan 3 pembahas, yang pertama drg Pembajun M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DIY yang akan membawakan tema strategi pemda DIY dalam menghadapi kemungkinan Lonjakan Pasien COVID-19. Pembahas kedua Wuri Handayani SE., Ak., CA., M.Sc., PhD. perwakilan dari SONJO yang membawakan tema peranan masyarakat dalam mendukung pelaksanaan kebijakan pemerintah provinsi DIY dalam penanggulangan pandemi COVID-19 kasus SONJO dan pembahas ketiga Prof. dr. Laksono Trisnantoro M.Sc., PhD. membawakan tema peluang dan tantangan bagi pemerintah Provinsi DIY dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Putu menyampaikan bahwasanya pemaparan hasil penelitian perlu dilakukan kembali karena adanya fenomena lonjakan pasien di beberapa daerah yang berpotensi untuk mempengaruhi penambahan jumlah pasien COVID-19 di DIY. Dalam penelitian ini tim PKMK FK – KMK UGM mengacu pada konsep 4s yakni System, Structure, Stuff dan Staff serta acuan dari kementrian kesehatan yang merujuk kepada WHO. Dari hasil pengamatan dalam penelitian ini ada beberapa hal yang dapat diambil mengenai kesiapan Yogyakarta dalam menghadapi lonjakan pasien.

Dari acuan 4s, rumah sakit responden dalam penelitan ini sebagian besar menyatakan bahwasanya siap. Dari sisi organisasi dan sistem, sudah memiliki tim khusus COVID dan masuk dalam selalu berkoordinasi dengan gugus tugas Provinsi DIY. Dari sisi structure beberapa rumah sakit responden yang relatif besar bisa menambah kapasitasnya apabila diperlukan ketika terjadi lonjakan pasien, tapi di sisi lain dari sisi fasilitas masih ada rumah sakit responden yang belum memiliki hepafilter atau ruangan tekanan negatif yang cukup. Dari sisi stuff, logistik medis di beberapa rumah sakit memiliki cadangan logistik medis untuk 4 – 6 bulan ke depan dan ada yang cukup. Sementara yang masih menjadi kendala beberapa rumah sakit responden adalah ketersediaan SDM, yang mungkin kemudian rekrutmen dibutuhkan ketika terjadi lonjakan pasien terutama tenaga perawat.

Pembahasan dimulai dari Wuri menyampaikan bahwa pandemi COVID-19 merupakan beban bersama yang harus melibatkan semua pihak dalam penanggulangannya. Dalam kondisi pandemi ini Sambatan Jogja (SONJO) melihat adanya potensi apa yang dimiliki untuk memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam penanggulangan pandemi COVID-19. SONJO memiliki beberapa grup yang terjun langsung dalam berbagai bidang antara lain dalam pemenuhan kebutuhan logistik medis, kebutuhan logistik umum dengan mempertemukan antara pembeli dan penjual melalui penyusunan database supplier/penjual serta ada grup yang berisi inovasi terbaru seperti pembuatan Virus Transfer Media (VTM), handsanitizer dan bilik swab. SONJO bergerak mempergunakan aplikasi whatsapp dimana didalamnya juga tergabung dari unsur pemerintah Provinsi DIY sehingga ada keterbukaan informasi antara masyarakat dan eksekutif yang bergerak bersama selaras menanggulangi permasalahan bersama. SONJO juga didesain untuk berjalan layaknya maraton tidak hanya berkontribusi secara jangka pendek merespon kelangkaan APD pada awal COVID-19 tetapi juga masih berjalan terus menerus memonitor perkembangan penanggulangan COVID-19 terutama di Provinsi DIY.

Pembahas kedua, Pembayun  menyampaikan bahwa Dinas Kesehatan Provinsi DIY tiap 2 minggu sekali melakukan evaluasi terhadap zonasi persebaran penyakit COVID-19. Hal ini penting mengingat pariwisata dan transportasi publik mulai akan dibuka kembali. Zonasi ini akan menentukan langkah-langkah yang diambil daerah dalam melakukan penanggulangan pandemi COVID-19.

Dari sisi ketersediaan fasilitas di Yogyakarta terdapat 3 laboratorium yang meliputi laboratorium di bawah UPT Kementrian Pertanian dan Laboratorium Promkes di bawah UPT Kementrian Kesehatan, kemudian ada di RS Sardjito dan FK – KMK UGM dan RS Hardjolukito. Apabila laboratorium ini bisa dimaksimalkan untuk melakukan pemeriksaan bisa sampai dengan 900 sampel per hari. Dengan kemampuan laboratorium tersebut sebenarnya bisa melaksanakan screening lebih luas lagi, karena saat ini pemeriksaan menggunakan PCR merupakan satu – satunya pemeriksaan yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis COVID-19.

Saat ini dinas kesehatan sudah mengarahkan pada pengembangan bed untuk pasien critical dan non critical di RS rujukan COVID-19 dalam mengantisipasi, tidak hanya menekankan pada kapasitas semata. Untuk pengembangan SDM, Dinas Kesehatan Provinsi DIY belum dapat melaksanakan semaksimal mungkin, akan tetapi di lapangan terutama rumah sakit rujukan yang sudah memiliki akreditasi didukung oleh tenaga PPI – nya dalam mengembangkan tata laksana COVID-19 di masing – masing rumah sakit.

Pembahas ketiga, Laksono menyampaikan sejauh ini dalam konteks Provinsi DIY, permasalahan penanggulangan COVID-19 relatif tenang dibandingkan dengan daerah lain seperti di DKI Jakarta atau Surabaya, serta yang terakhir di Solo. Di Provinsi DIY, dapat kita sampaikan seperti pembahas sebelumnya bahwa antara peneliti dan pembuat kebijakan ada kedekatan. Ada hubungan baik yang saling bahu membahu dalam menanggulangi pandemi COVID-19. Pada wilayah lain, dimana terjadi kegaduhan akan menciptakan ekosisitem kebijakan yang tidak kondusif yang akan  mempengaruhi proses penanggulangan pandemi COVID-19. Sehingga penelitian semacam ini mungkin tidak akan dapat memberikan masukan kepada daerah dalam melakukan evaluasi penanggulangan COVID-19.

Dalam sesi tanya jawab, dibahas mengenai partisipasi masyarakat tanpa organisasi semacam SONJO dapat digalakkan atau direplikasi di daerah lain. Kegiatan semacam ini dapat memberikan dukungan kepada pemerintah daerah dalam waktu yang panjang dalam penanganan COVID-19, tidak hanya bersifat sporadis saja. Hal ini mengingat bahwa pandemi COVID-19 tidak diketahui kapan akan berakhir.

Penelitian ini harapannya dapat memperolah masukkan dari berbagai pihak, sehingga dapat segera untuk disampaikan kepada pembuat kebijakan di daerah terutama di Provinsi DIY. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah lainnya untuk memberikan potret kesiapan di Provinsi DIY dalam penanggulangan pandemi COVID-19 dan dapat diambil sebagai contoh terutama dari sisi – sisi positif yang terjadi di Provinsi DIY.

Reporter: Barkah Prasetyo

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of