Reportase Webinar Cochrane Masalah dan Kebutuhan Pasien Kanker Selama Masa Pandemi COVID-19

Reportase Webinar Cochrane Masalah dan Kebutuhan Pasien Kanker Selama Masa Pandemi COVID-19

Klinisi Rujukan

Berbagai masalah dan kebutuhan bermunculan akibat pandemi COVID-19, tidak terkecuali pada pasien kanker yang pada dasarnya memiliki beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi untuk memperbaiki kondisi klinis mereka. Untuk itu, Cochrane Indonesia bekerjasama dengan PKMK FK – KMK UGM menyelenggarakan Journal Reading yang membahas Masalah dan Kebutuhan Pasien Kanker Selama Masa Pandemi COVID-19, pada jurnal : Patients with Cancer and COVID-19: A Whatsapp-Messanger-Based Survey of Patient’s Queries, Need, Fears, and Action Taken yang terbit di JCO Global Oncology. Presentasi journal reading ini dibawakan oleh Haryani, S.Kp.,M.Kes.,PhD.

Pasien kanker adalah kelompok rentan yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadi infeksi berat, karena ada gangguan fungsi imunnya, baik karena penyakit kanker atau terapinya yang bersifat imunosupresi. Bila pasien kanker terinfeksi COVID-19, maka pengobatan kankernya tertunda.

Perawat memiliki peran penting pada prevensi dan kontrol COVID-19 untuk kepentingan pasien kanker, karena perawat adalah garda depan dalam merawat pasien kanker dan melakukan edukasi publik di komunitas terkait dengan pengendalian infeksi. Selain itu, perawat juga menyediakan perawatan berdasar bukti, termasuk pengendalian infeksi dan dukungan fisik dan psikologis komprehensif untuk pasien kanker yang berisiko atau didiagnosis COVID-19.

Tujuan penelitian jurnal ini adalah untuk melaporkan adanya pertanyaan, kebutuhan dan ketakutan terkait COVID-19 pada pasien kanker, dan juga misinformasi yang didapatkan lewat aplikasi pesan Whatsapp. Pasien yang dilibatkan adalah pasien yang dirawat oleh institusi onkologi selama 4 minggu terakhir di Sicily, Italia.

Pertanyaan dari pasien dan jawaban dari dokter onkologi dapat dirangkum sebagai berikut :

Kesimpulan dari artikel ini Whatsapp Messenger adalah alat yang cepat dan bermanfaat untuk memberi info terkait pertanyaan pasien dan memfasilitasi untuk melakukan triase pasien pada saat pandemic COVID-19. Saran yang diberikan adalah perlu adanya alat yang lebih baik dan lebih aman bisa digunakan untuk mengelola pasien kanker.

Artikel kedua yang dibahas adalah Cancer survivorship care during COVID-19- perspectives and recommendations from the MASCC survivorship study group. Jurnal ini bersi tentang survey oleh MASCC yang terdiri dari dokter, perawat, dokter gigi, peneliti klinis, radiografer, dan farmasis, untuk mendeskripsikan respon mereka terhadap dampak COVID-19 terhadap perawatan pasien kanker.

Hampir semuanya melaporkan bahwa mereka menggantikan pertemuan tatap muka dengan telehealth (baik telepon atau video conference). Mayoritas responden menyarankan penggunaan telehealth dan platform online lain untuk post treatment survivorship follow up untuk masa setelah pandemic berakhir. Namun ada beberapa keterbatasan telehealth, yaitu : keterbatasan akses teknologi, tidak adanya kebijakan reimbursement dan pendanaan telehealth, dan kekawatiran tentang keamanan/privasi. Beberapa responden memiliki kekhawatiran naiknya kecemasan dan stress pada pasien kanker terkait penggunaan telehealth. Mayoritas responden menyarankan penundaan atau pembatalan perjanjian follow up pasien, kecuali mendesak. Kemudian untuk menentukan perawatan mendesak diperlukan atau tidak, para responden mengandalkan tanda dan gejala yang dilaporkan pasien saat konsultasi telehealth.

Saran untuk pengembangan praktek di masa datang adalah mengimplementasikan model perawatan alternatif seperti shared-care, PCP-led care, nurse led care, dan self management. Hal ini bertujuan agar para onkologis fokus pada kasus pasien akut dan meminimalisir pasien datang ke fasilitas kesehatan agar menurunkan risiko tertular infeksi.

Poin yyang bisa dipelajari dari 2 jurnal ini adalah telehealth dengan cara sederhana seperti Whatsapp Messenger memberikan manfaat selama pandemi COVID-19. Kita juga harus mempersiapkan telehealth dalam keperawatan karena merupakan garda depan untuk memonitor dan mendukung kebutuhan pasien.

Pembahasan oleh Dr. Christantie Effendy, S.Kp., M.Kes

Pasien kanker tidak hanya memiliki masalah fisik, namun juga masalah psikososial. Berdasarkan artikel yang dibahas, pasien memiliki concern terhadap apa yang harus dilakukan, haruskah menunda terapi selama pandemic COVID-19. Keinginan untuk menunda terapi ini bukan karena pasien merasa lelah atau sakit, tapi karena memikirkan risiko penyakit lain (dalam hal ini adalah COVID-19) yang bisa didapatkan apabila pasien kanker pergi ke rumah sakit.

Pembahasan oleh Santi Wahyuningsih, S.Kep., Ns.

COVID-19 ini memiliki dampak terhadap aspek sosial, ekonomi, dan kesehatan. Di bidang kesehatan, COVID-19 ini berakibat pada gangguan pelayanan, termasuk terapi kanker (42%), penugasan staf untuk mengatasi COVID-19, penundaan skrining publick yang tidak perlu, dan implementasi strategi alternatif. Pelayanan kanker selama pandemic di Instalasi Kanker Terpadu Tulip RSUP dr. Sardjito yaitu penundaan kunjungan surveilans, follow up ditunda/dibatalkan kecuali perlu tindakan segera, layanan kemoterapi atau terapi target tidak mengalami perubahan, dan memanjangkan periode follow up dan mengurangi frekuensi kunjungan. Untuk menanggapi artikel yang dibahas, survei dan pemantauan via WA apakah memungkinkan untuk dilakukan. Peluangnya besar, karena rata-rata pasien dan keluarganya memiliki aplikasi WA. Saat ini pasien dan keluarga cukup proaktif dengan menghubungi poliklinik via telpon. Perlu ditunjuk seseorang sebagai penanggungjawab admin WA. Hambatan yang mungkin terjadi : waktu, perlu melibatkan konsulen, akses terbatas, dokumentasi dalam rekam medis atau HER, pembiayaan, dan apakah bisa menggantikan konsultasi langsung.

Tindak lanjutnya adalah mengembangkan metode terstandar untuk melakukan triase kebutuhan pasien kanker (fisik, psikososial, dan spiritual), mengembangkan telehealth dengan mempertimbangkan barrier – nya, menggunakan model alternatif perawatan, dan melakukan evaluasi keterlambatan/drop out terapi. (Oleh : S. Rarasati)


Unduh Materi

Video Rekaman

Diskusi Patients with cancer and Covid 19 A whatsapp messenger based survey of patients' queries, mp
Prev 1 of 1 Next
Prev 1 of 1 Next
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments