Reportase Penerapan Dimensi I Meta-Leadership: Kepribadian dan Sifat – Sifat Seorang Pemimpin Meta

Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

Forum Manajemen COVID-19 Topik Knowledge Management dengan tema Penerapan Dimensi I MetaLeadership : Kepribadian dan Sifat – Sifat Seorang Pemimpin Meta menyelenggarakan diskusi virtual pada 5 Juni 2020 melalui zoom meeting dan live streaming yang diikuti kurang lebih 500 partisipan. Pertemuan pertama pada 2 Juni  lalu telah membahas konsep metaleadership mengenai pemahaman leadership sebagai ilmu dan seni.   Pertemuan dibuka oleh Professor Laksono Trisnantoro dengan beberapa poin terkait diskusi minggu lalu dan pembelajaran online.

Diskusi pada pertemuan 1 – 3 masih merupakan pembelajaran perorangan, dan selanjutnya akan menjadi pembelajaran kelembagaan jika sudah ada pelatihan maupun pendampingan bagi rumah sakit.  Cara belajar yang ditawarkan secara online live (webinar/ zoom meeting) dan online reportase bagi yang tidak sempat mengikuti secara live.  Pembelajaran tersebut dapat diikuti melalui https://manajemencovid.net/.

Lebih lanjut, ditekankan bahwa yang disebut sebagai Business berlaku untuk lembaga profit dan non profit yang mempunyai tugas.   Business continuity bukan berarti mencari keuntungan, namun lebih kepada pemenuhan keinginan pengguna dan lembaga yang ingin berkembang.   Silahkan melihat videonya.

Menurut Prof. Laksono Trisnantoro (Departemen HPM FK-KMK UGM), meta leadership dapat dikelola sebagai pengetahuan dengan berbagai dimensi yang dapat dianalisis.  Selanjutnya dilanjutkan diskusi awal dengan topik apakah kerangka kerja Meta-Leadership dapat dipergunakan oleh RS Swasta, RS Pemerintah pusat dan RS Daerah.  Topik ini dibahas oleh 3 direktur sebagai panelis: drg. Iing Ichsan Hanafi, MARS, Direktur Regional V Hermina Hospital Grup, dr. Nuzelly Husnedi, MARS, Direktur RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru dan   dr. Rukmono Siswishanto, M. Kes., Sp. OG (K), Dirut RSUP dr. Sardjito.

“Kepemimpinan menjadi hal paling penting dalam menggerakkan roda organisasi”, menurut drg. Iing Ichsan Hanafi, MARS, Direktur Regional V Hermina Hospital Grup.  Menghadapi COVID-19, manajemen harus cepat beradaptasi dan mengambil keputusan, mengambil peluang, menetralisir hambatan yang ada di rumah sakit, dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.  Rumah sakit dituntut memberikan konektivitas mulai dari awal, melalui hubungan kepada pemerintah, rekanan pemasok, organisasi profesi, maupun lembaga lainnya.

Manajemen merupakan seni tersendiri.  Di RSUD lebih banyak aturan – aturan, terkadang lebih banyak aturan daripada yang harus dilakukan, sehingga perlu adanya terobosan.  Hal utama yang perlu dilakukan adalah pemahaman mengelola rumah sakit dan mengikuti aturan yang ada.  Seperti pengalaman dr. Nuzelly Husnedi, MARS, Direktur RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru dalam mengelola COVID-19 dimana sejak awal sudah mengelola informasi Wuhan sehingga dapat mengambil keputusan untuk persiapan menghadapi wabah tersebut dan menyampaikan kepada gubernur.  Bagi rumah sakit daerah, metaleadership penting untuk konektivitas antar pihak.

Sebagai rumah sakit pusat dan pendidikan, RSUP dr. Sardjito memiliki misi, bagaimana harus memberikan pelayanan publik yang berkualitas tanpa membebani negara.  Peran sebagai BLU  terkait erat dengan business continuity.  Menurut dr. Rukmono Siswishanto, M. Kes., Sp. OG (K), Dirut RSUP dr. Sardjito, tantangan di rumah sakit adalah bagaimana mengembangkan leadership skill dari SDM yang ada karena adanya kebutuhan untuk mengelola stakeholder yang berbeda-beda, memiliki tanggung jawab cross functional yang meningkat, menghadapi perubahan lingkungan bisnis, serta sebagai rumah sakit rujukan dan pendidikan yang ruang lingkupnya menjadi pekerjaan multinasional.

Leader’s Personality dalam Meta-Leadership

Selanjutnya dilakukan pemaparan dimensi 1 meta leadership yaitu the person oleh Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes, MAS (PKMK FK-KMK UGM), kemudian pembahasan oleh setiap panelis.

Meta leadership merupakan  framework dan practice method yang dikembangkan melalui observasi dengan melihat langsung pemimpin pada situasi high stress dan high stakes.  Terdapat 4 dimensi metaleadership yaitu leading up memimpin terhadap supra system, seperti gubernur atau bupati;  leading down memimpin subordinat; leading across memimpin unit di lingkungan; dan leading beyond memberikan sesuatu kepada masyarakat atau stakeholder yang tidak langsung berhubungan.

Referensi bersumber pada tulisan Nichols (1988), leadership intinya mempengaruhi orang lain, melalui 2 perspektif yaitu tanpa otoritas atau mindset approach dengan mengelola perception, articulation, conviction, empathy (PACE) dan menggunakan otoritas untuk memicu shaking and moving agar organisasi dapat menghadapi krisis sehingga dapat menjangkau stakeholder di luar organisasi.  Disini, meta leadership menggabungkan keduanya.  Ketika menerapkan leading up dapat menggunakan perspektif tanpa otoritas – PACE, sedangkan saat menerapkan leading down  dapat menggunakan pendekatan otoritas.  Faktor kunci metaleadership meliputi influencing capacity melalui PACE dan otoritas, managing organization within ecosystem melalui konektivitas, dan  contextual melalui scanning and defining, dalam hal ini  bagaimana melihat secara kontekstual kondisi pandemi di wilayah.  Organisasi akan dapat berhasil jika dapat keluar dari kondisi isolasi dan hal tersebut perlu didorong oleh seorang meta leader, sehingga personaliti seorang pemimpin menjadi faktor yang sangat penting.

Personaliti pemimpin bukan hanya tergantung dari kharisma namun juga dari stability dimana seorang pemimpin dapat tetap di jalurnya dan yakin dengan strategi – strategi yang diambil dan plasticity dimana mampu beradaptasi terhadap lingkungan yang mudah berubah.  (Craig et al., 2019).  Dalam situasi krisis terdapat paradoxical management dimana  leadership and managerialship dapat dipertukarkan saat bisnis berjalan normal, namun pada saat krisis keduanya harus dijalankan bersamaan.   Disebut paradoxical karena leadership berbeda dengan managerialshipLeadership lebih ke inovasi, pengembangan, serta harus menjaga business continuity sedangkan managerialship lebih kepada pengendalian dan dapat menerima status quo.

Penerapan metaleadership, pemimpin harus memiliki good practice kepada regulator, good result kepada macro policy maker, good partnership kepada unit relevan lainnya, good service kepada pasien, dan dan good vision kepada rumah sakit.  Dalam konteks krisis ini, seorang pemimpin dapat melakukan 10 langkah pengelolaan menggunakan metaleadership dengan mulai merasakan krisis sejak awal, melakukan perencanaan untuk manajemen krisis, sampai kepada merancang apa yang akan dilakukan setelah krisis.  Hal tersebut tentunya membutuhkan komunikasi yang kredibel dan dapat dipercaya, dapat memutuskan hal yang akan dilakukan, dan menjadi risk taker.

Pembahasan Diskusi

Pelatihan metaleadership merupakan program komprehensif antara peneliti, dosen, praktisi rumah sakit yang bergabung untuk mengaplikasi teori dan implementasi di lapangan, sehingga ada pandangan akademisi dan praktisi, sesuai dengan pengalaman dari Ass.Prof. Hans Widjaya, MM, CEO National Hospital yang pernah mengikuti pelatihan tersebut di Harvard University. Sedangkan menurut dr. Rukmono yang memulai karir sebagai seorang klinisi dan saat ini menjadi direktur sakit merasakan bahwa teori manajemen dapat diaplikasikan pada pengembangan karir dimana yang penting adalah perubahan orientasi.  Pembelajaran menggunakan model outside in, melakukan sesuatu aksi kemudian dibimbing untuk melakukan perbaikan, daripada memikirkan terlebih dulu tanpa adanya eksekusi.  Apalagi dalam situasi COVID-19 akan lebih penting  kecepatan untuk eksekusi sambil berpikir dan memperbaiki.  Perlu adanya kombinasi antara decisive dan risk taker.

Demikian pula pengalaman dr. Nuzelly dalam mengelola RSUD di saat pandemi, dimana ada 2 sisi yaitu how to manage the boss – bagaimana harus meyakinkan langkah – langkah yang harus dikerjakan kepada gubernur dan how to lead the boss –  bagaimana langkah-langkah yang sudah disampaikan tersebut dapat berjalan,  seperti pelayanan menghadapi COVID-19 dengan inovasi.    Sebagai pengelola manajemen rumah sakit jejaring, dr. Ichsan menyatakan bahwa pemimpin berfungsi sebagai penyeimbang semua pihak, seperti pemerintah, asuransi, pasien, dokter, karyawan, organisasi profesi, maupun pemilik saham.  Seorang pemimpin harus dapat meyakinkan ke semua stakeholder yang ada.  Rumah sakit banyak menghadapi tantangan di saat pandemi dan hal tersebut membutuhkan pemimpin yang dapat beradaptasi.  Kompetensi kepemimpinan  dapat berfungsi sebagai komandan, guru, teman, dan enterpreneur. Seorang pemimpin akan berhasil jika mampu menciptakan banyak kader. Disebutkan sebagai sebuah jaringan RS Hermina juga mempunyai tantangan untuk mengembangkan kepemimpinan bagi lebih dari 30 RS yang tersebar di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Dalam konteks ini ada pendapat menarik dari Pak Fadjar Sihombing mengenai bagaimana penanganan untuk RS-RS swasta yang stand-alone, bukan berbentuk jaringan. Diharapkan ada diskusi di kelompok RS ini.

Kesimpulan pada diskusi kali ini, krisis dan perubahan akan terus terjadi dilingkungan RS. Dengan demikian Direktur RS tidak dapat berharap berada di lingkungan yang stabil yang nyaman.  Oleh karena itu sebagai pemimpin rumah sakit di dalam ekosistem yang dinamis diharapkan menyadari untuk melakukan investasi waktu, tenaga, dan sumberdaya pribadi untuk  mempelajari berbagai konsep kepemimpinan dan mempraktekkan yang cocok.  Ke depannya juga dapat dianalisis keterkaitan antara leader personality dengan hospital performance dan perlunya pelatihan untuk para pemimpin muda.


What Next?

Hari ini adalah pertemuan kedua yang membahas mengenai Penerapan Dimensi I Meta Leadership : Kepribadian dan Sifat – Sifat Seorang Pemimpin Meta.  Akan ada pertemuan – pertemuan berikutnya yang membahas berbagai dimensi dalam metaleadership. Sebagai catatan, program ini memang masih bersifat pembelajaran perorangan. Di samping program ini dianjurkan ada pelatihan ke direktur rumah sakit dan timnya untuk mengembangkan respon yang tepat sebagai hasil aplikasi meta-leadership.

  • Pertemuan ketiga: Memahami situasi RS saat ini
    Senin, 8 Juni 2020, Pk. 13.00 – 14.00 WIB
  • Pertemuan keempat: Menyusun usaha pemecahan masalah; me – review RBA untuk business continuity RS
    Rabu, 10 Juni 2020, Pk. 13.00 – 14.00 WIB
  • Pertemuan kelima: Memimpin review Renstra Bisnis RS
    Jumat, 12 Juni 2020, Pk. 13.00 – 14.00 WIB
    Pertemuan keenam: Menganalisis dimensi konektivitas dalam masa pandemik Covid-19
    Senin, 15 Juni 2020

Para peminat seri diskusi ini dapat klik di website www.manajemencovid.net untuk mengikuti perkembangan


Hasil Survei

Untuk melihat efektivitas diskusi, pada akhir sesi dilakukan survei jarak jauh untuk mengukur pemahaman peserta diskusi. Silahkan melihat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah mengikuti webinar. Terdapat 39 respon yang masuk dan hasil analisisnya adalah sebagai berikut.

1. Dimensi person dalam meta-leadership

Terdapat perbedaan dimana sebelum mengikuti webinar cukup banyak yang tidak paham atau tidak paham sama sekali mengenai dimensi person pada meta-leadership, dan setelah mengikuti webinar para peserta menjadi paham dan paham sekali.

2. Emotional Inteligence sebagai salah satu atribut seorang pemimpin

Terdapat perbedaan dimana sebelum mengikuti webinar cukup banyak yang tidak paham mengenai emotional inteligence sebagai salah satu atribut seorang pemimpin namun ada reponden yang sudah paham sebelumnya, setelah mengikuti webinar para peserta menjadi paham dan paham sekali.

3. Sifat – sifat kepribadian pemimpin meta

Terdapat perbedaan dimana sebelum mengikuti webinar cukup banyak yang tidak paham mengenai sifat – sifat kepribadian pemimpin meta, setelah mengikuti webinar para peserta menjadi paham dan paham sekali.

4. Bagaimana pendapat anda tentang diskusi hari ini

Pertemuan ke 2 ini menggunakan model Panel diskusi. Sebanyak 64.1% responden menyatakan bahwa diskusi Penerapan Dimensi I Meta-Leadership : Kepribadian dan Sifat – Sifat Seorang Pemimpin Meta sangat menarik 30.8% menyatakan diskusi ini menarik. Sementara itu sekitar 5% menyatakan sangat tidak menarik.

5. Apakah Anda ingin pelatihan untuk meningkatkan ketrampilan sebagai pemimpin ?

Sebanyak 92.3% dari 39 responden menyatakan bahwa perlunya pelatihan untuk meningkatkan ketrampilan sebagai pemimpin.

6. Kalau ya, di dalam hal apa saja (bisa lebih dari satu, termasuk mengisi “lainnya” jika pilihan belum menyediakan kebutuhan anda.

Sebanyak > 60% responden tertarik untuk meningkatkan ketrampilan terkait pengambilan keputusan, menangani konflik, negosiasi, dan ketrampilan menganalisa.  Serta ada usulan lain seperti :

  • Ketrampilan dalam leader dan manager dalam mengintegrasikan.
  • Kepemimpinan di saat krisis maupun
  • Contoh rumah sakit yang dikelola dengan meta-leadership.

Reporter: EL/ PKMK


Unduh Hasil Survei Unduh Materi
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments