NOTULENSI WEBINAR KOLABORASI SESI XV – 4 Juni 2020

NOTULENSI WEBINAR KOLABORASI SESI XV – 4 Juni 2020

Klinisi Primer Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

Dapat disimpulkan beberapa hal sebagai  berikut:

  1. Indonesia selama ini memiliki banyak kultur daerah yang menggunakan cara tradisional guna menyehatkan tubuh. Berdasarkan data Riskesdas 2018, 44,3% masyarakat menggunakan upaya kesehatan tradisional baik melalui praktisi kesehatan tradisional ataupun melalui upaya sendiri. Berdasarkan data Riskesdas 2010, 59,12% penduduk mengkonsumsi herbal untuk kesehatan tubuh. Kondisi ini menunjukkan adanya permintaan yang tinggi atas upaya kesehatan tradisional termasuk penggunaan konsumsi herbal seperti jamu.
  2. Herbal antivirus utama teratas yang diakui dunia saat ini adalah bawang putih, lemon balm, turmeric/kunyit, jahe, oregano, dan elderbery. Banyak jenis tanaman obat yang telah dilakukan uji antiviral selama ini. Berdasarkan sejarah, kejadian pandemi flu burung pada akhirnya menggunakan obat tamiflu yang berasal dari tumbuhan tradisional. Tanaman obat antivirus bekerja dengan menghambat sistesis RNA dan bereaksi dengan membran virus; merusak sebagian envelop virus; menghambat replikasi dan antihemaglutinasi; menghambat penetrasi virus pada sel; memproduksi, antibodi, hingga menghambat pertumbuhan virus.
  3. Di Indonesia, berdasarkan riset tumbuhan obat dan jamu (Ristoja) yang dilakukan pada 2012, 2015, dan 2017 diperoleh informasi bahwa di Indonesia terdapat 32.014 jenis ramuan, 47.466 informasi tumbuhan, 2848 spesies tumbuhan obat, dan 27.743 nomor koleksi herbarium. Berdasakan hasil ristorja ditemukan pula 10 tanaman obat terbanyak yang digunakan untuk penyakit akibat virus hasil Ristoja seperti herpes, flu/masuk angin, dan HIV. Dalam hal ini tanaman obat di Indonesia sangat menjanjikan untuk digunakan seabgai antiviral.
  4. Obat tradisional atau herbal memiliki tujuan untuk merevitalisasi fungsi tubuh sehingga tubuh dapat bekerja secara optimal. Hal ini akan berdampak pada kemampuan tubuh untuk beradaptasi terhadap lingkungan secara baik. Hal ini sangat relevan dengan kebutuhan peningkatan daya tahan tubuh penduduk saat kejadian pandemi seperti pandemi COVID-19 saat ini. Penggunaan pendekatan ramuan tradisional dapat sangat berperan baik untuk pencegahan dan pengobatan. pencegahan dilakukan melalui peningkatan daya tahan tubuh dan pengobatan dapat digunakan sebagai pelengkap/komplementer terapi konvensional.
  5. Virus COVID-19 yang mudah menyebar dan menular, namun virus ini mudah hancur oleh pelarut lemak, deterjen/sabun, dan disinfektan. Kemampuan fisik tubuh yang baik untuk menangkal dan memerangi virus ini sangat penting. Hal ini penting menjadi dasar bagi pengobatan tradisional/ramuan dalam meningkatkan daya tahan tubuh secara baik sehingga tidak gampang terserang virus.
  6. Dalam penanganan COVID-19, obat tradisional sangat bermanfaat untuk imunodulator; untuk mengurangi gejala COVID-19; dan mengatasi factor Co-morbid COVID-19. Sebagai imunodulator, dapat dimanfaatkan tanaman obat yang mengandung zat aktif seperti jahe merah, temulawak, kunyit, meniran, dan empon-empon. Sebagai pengurang gejala, dapat dimanfaatkan rimpang kencur, bawang putih, antanan, biji pala, dan jahe. Kemudian untuk mengatasi faktor Co-morbid COVID-19 dapat dimanfaatkan seledri, bawang putih, daun salam, sambiloto, hingga daun jati belanda dan daun ceremai.
  7. Saat ini diperlukan pengembangan dan pemanfaatan fitofarmaka dengan melibatkan peran lintas sektor baik bisnis, praktisi, masyarakat, akademisi, hingga pemerintah. Banyak hal yang dapat dilakukan baik hilirisasi penelitian menjadi produk, pemanfaatan obat di faskes, hingga pemanfaatan regulasi yang baik sesuai kebutuhan publik. Lemahnya pengembangan fitofarmaka selama ini berdampak pada lemahnya perhatian pada sektor obat tradisional dan lemahnya pelibatan sektor obat tradisional dalam pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kesehatan COVID-19.
  8. Selama COVID-19, jamu masih kurang diberikan ruang dalam pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan, baik sebagai peningkat daya tahan tubuh, maupun sebagai pelengkap/komplementer terapi konvensional. Di sisi lain, seharusnya pemanfaatan obat tradisional dapat diperkenalkan dan didorong lebih banyak lagi guna peningkatan kualitas daya tahan tubuh masyarakat dan tenaga kesehatan menghadapi COVID-19, terlebih obat tradisional jauh lebih terjangkau oleh masyarakat luas sehingga tidak membebani daya beli penduduk.
  9. Banyak hal yang perlu dilakukan agar lebih banyak lagi upaya pemanfaatan obat jamu bagi kepentingan penanganan COVID-19 dan pembangunan kesehatan nasional. salah satu yang perlu didorong adalah meningkatkan jenis obat herbal yang terstandar fitofarmaka khususnya obat – obat yang bersifat antivirus.

Terima kasih.

Notulis: Rahmat Sentika/ PERSI


Video Rekaman

Pengantar Webinar Kolaborasi: Kesehatan Tradisional dan Prospek Jamu Indonesia - Dr.dr. Supriyantoro
Prev 1 of 2 Next
Prev 1 of 2 Next
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments