Reportase Webinar “KORELASI ETIKA, HUKUM, DAN SOSIAL” Aspek etika di era pandemi COVID-19

Reportase Webinar “KORELASI ETIKA, HUKUM, DAN SOSIAL” Aspek etika di era pandemi COVID-19

Klinisi Primer Klinisi Rujukan Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan Tenaga Pencegahan

Webinar lanjutan yang diadakan oleh IBF Chapter 15 menggandeng PKMK FK – KMK UGM dengan tema “Korelasi Etika, Hukum, dan Sosial” dengan moderator Dr. Peter Johannes Manopo, Sp. B., FINACS, FICS, MBIO dihadiri oleh lebih dari 100 peserta secara online. Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc., PhD selaku perwakilan penyelenggara mengungkapkan bahwasanya webinar ini bertujuan untuk mengisi kekosongan pengetahuan di tengah kondisi saat ini.

Webinar dimulai dengan penyampaian materi pembuka yaitu dari perspektif bioetika disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Soenarto Sastrowijoto, Sp. THTKL. Prof Narto membuka materi dengan menjelaskan identitas dokter modern yang harus wajib dimiliki salah satunya adalah dapat menimbulkan hubungan terapeutik antara dokter – pasien dengan memahami clinical ethics agar pasien dan dokter mengarah ke tujuan yang sama yaitu menyelesaikan permasalahan medis sesuai kondisi. Sebagai contoh ketika pasien menolak pengobatan namun dokter mempunyai kewajiban moral untuk merawat pasien, bagaimana mengatasinya? Itulah inti dari aplikasi etika klinis yaitu kemampuan praktisi mengidentifikasi dan menganalisis permasalah etik dengan tujuan menemukan kesimpulan dan rekomendasi yang masuk akal.

Dari munculnya permasalahan- permasalahan baru dan komplektivitas manusia yang semakin luas, lahirlah paham baru yaitu The New Sense of Bioethics. Tujuan dari lahirnya the new sense of bioethics ialah dapat terciptanya manfaat sosial kepada kelompok yang kurang beruntung dan menyeimbangkan aspek kapital sehingga aspek sosial dan kapital dapat bergerak dengan seimbang termasuk dalam praktik kesehatan. Demi tercapainya tujuan tersebut dibutuhkan regulasi, legislasi, dan litigasi yang jelas dan tepat sebagai pedoman dalam menyelesaikan permasalahan yang berpotensi dapat terjadi.

Dilanjutkan materi dari Prof. dr. Yati Soenarto, Sp.A(K)  PhD dari perspektif budaya dengan timnya yaitu Prof. Syafa’atun Almirzanah, PhD, D.Min, Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, MA., Erlin Erlina, S. IP., PhD., dan dr. Nur Azid Mahardinata. Prof Yati memaparkan bagaimana budaya sangat berperan dalam korelasi antara etika, hukum, dan sosial. Hal tersebut dikarenakan Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai perbedaan budaya yang paling banyak di dunia. Mengutip dari Hippocrates; “Cure sometimes, treat often, comfort always,”  yang mengindikasikan bahwa praktisi kesehatan tidak harus selalu menyembuhkan. Terkadang mereka merawat, dan yang paling penting mereka harus selalu memberi kenyamanan. Lebih penting mengetahui bagaimanakah pasien yang terkena penyakit tersebut, daripada apakah penyakit yang diderita pasien (William Osler, 1912).

Local wisdom atau kearifan lokal yang dimiliki Indonesia dapat menjadi solusi global dengan cara melibatkan komunitas, berkolaborasi, dan mengeksplor kebudayaan lokal untuk menyelesaikan permasalahan etik dan menciptakan kehidupan yang berkelanjutan, hal tersebut yang mendasari slogan UGM; Locally rooted, globally respected.

Materi ketiga tentang Korelasi Etik, Hukum, dan Sosial dilanjutkan dari aspek sosial disampaikan oleh Dra. Eunike Sri Tyas Suci, PhD. Menurut ahli sosial, ahli etika dalam memutuskan suatu hal tidak mempertimbangkan konteks sosial, budaya, empirik, dan kekuasaan. Di samping itu, ahli etika beranggapan bahwa ahli sosial ceroboh dalam memformulasikan argumen, enggan mencari kesimpulan moral. Perbandingan kedua ilmu tersebut bukanlah suatu hal yang harus diperdebatkan, namun untuk dipahami bagaimana ilmu tersebut bisa benar-benar berbeda, mengacu pernyataan Gregory Bateson; “all knowledge began with a conscious awareness of difference”.

Materi dilanjutkan dari perspektif pendidikan kedokteran oleh Dr. Amalia Muhaimin, M. Sc., Bioethics. Amalia mengungkapkan bahwa di Indonesia, dosen pengajar bioetika 90% adalah seorang dokter. Kondisi ini berkebalikan dengan Belanda yang 90% nya berasal dari latar belakang profesi yang bermacam – macam seperti etichist, philosopher, teologi, lebih banyak berasal dari hukum. Begitu pula dengan sasaran materi bioetika kepada mahasiswa kedokteran preklinik, di Indonesia tujuannya untuk mempelajari medikolegal, KODEKi, dan profesionalisme. Di sisi lain, di Belanda, tujuan mengajarkan materi bioetika adalah untuk refleksi, problem solving, profesionalisme, dan pembentukan karakter. Hal tersebut membuka banyak ruang diskusi untuk kita agar menemukan formulasi yang tepat dalam kegiatan pembelajaran bioetika.

Penyampaian materi dilanjutkan dari segi hukum oleh Dr. Yovita Arie Mangesti, S. H., M. H., CLA di Surabaya. Dalam pemaparannya, Yoita mengemukakan bahwa titik paut etika dan hukum adalah di mana etika berada di dalam asas – asas hukum dan sanksi hukum. Yovita mengungkapkan bahwa titik taut etika, hukum, dan sosial berada dalam; hukum sebagai panduan publik, yang mana hukum asing tidak dapat langsung diadopsi menjadi hukum di Indonesia, hukum adalah milik masyarakat Indonesia, tidak untuk dimonopoli kelompok tertentu, dan pengkhianatan terhadap hukum dianggap sebagai perbuatan tercela karena mencederai masyarakat Indonesia.Reporter: Zahwa Arsy Azzahra

Unduh Materi
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments