Reportase Webinar MENDEFINISIKAN NEW NORMAL DI INDONESIA: APA, KAPAN, DIMANA, SIAPA DAN BAGAIMANA

Klinisi Rujukan Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

Yogya – PKMK FK-KMK UGM bersama berbagai 20 organisasi dengan sebutan Kolaborasi menyelenggarakan diskusi membahas isu “new normal di Indonesia”. Diskusi diselenggarakan pada 2 Juni 2020 dalam bentuk webinar dan live streaming youtube. Terdapat tiga narasumber dalam diskusi tersebut yaitu: Ir. Dodi Izwardi, MA – Kepala Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI; dr. Dicky Budiman M.Sc.PH, PhD (Cand) – PhD candidate GHS & Pandemi Griffith University; dan dr. Agustin Kusumayati, M.Sc, Ph.D – Ahli Kesehatan Masyarakat, Dosen FKMUI. Diskusi juga di moderatori oleh Dr. Ede Surya Darmawan, SKM, MDM dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia. Mengawali diskusi, moderator memberikan kesempatan kepada Dr. dr. Tubagus Rachmat Sentika, Sp.A, MARS dari Ketua Pelaksana Kolaborasi Seminar Twice Weekly untuk mengisi sesi pembukaan.

Tubagus Rachmat Sentika menyampaikan harapan untuk berakhirnya pandemi yang saat ini telah dimulai dari 102 kabupaten/kota hingga dapat menyeluruh ke 300 lebih kabupaten/kota lainnya. Kabupaten/kota yang masih dalam bahaya pandemi menurutnya perlu didorong agar dapat masik ke dalam garis hujau, biru dan secara epidemologi dapat menurun serta layanan kesehatan membaik dengan testing  50.000/1 juta. Tubagus Rachmat Sentika menyampaikan bahwa new normal dapat dilaksanakan dimulai dari 102 kabupaten/kota tersebut. Strategi melaksanakan new normal akan didiskusikan bersama narasumber.

Narsumber pertama yang mendapatkan kesempatan adalah Dodi Izwadi yang menjelaskan beberapa hasil penelitian mengenai Kesiapan Masyarakat dalam Kenormalan Baru: Studi Ketaatan Masyarakat dalam Pembatas Sosial Skala Besar (PSBB). Dari penelitian tersebut, hasil utama yang Dodi Izwadi temukan bahwa sosial media merupakan sumber informasi utama. Namun, stigma sosial mengenai inveksi COVID-19 masih berkembang di lingkungan masyarakat. Perilaku PSBB lebih dipahami oleh masyarakat dengan pendidikan dan kondisi ekonomi yang lebih baik serta tinggal di daerah kota. Kepatuhan PSBB yang tinggi juga diperani oleh tokoh masyarakat yang aktif.

Masuk ke pemaparan kedua, moderator memberikan kesempatan kepada Dicky Budiman dengan topik The New Normal Sejarah Fakta di Berbagai Negara dalam Menanggulangi COVID-19. Berdasarkan sejarah, dijelaskan bahwa new normal merupakan hal yang sudah pernah dilakukan pada tahun 1918 untuk merespons pandemi Spanish flu dengan mengubah perilaku. Pada tahun 2008, new normal juga pernah disebutkan oleh Mohamed El-Erian untuk menyikapi resesi ekonomi. Pandemi memiliki srategi utama yaitu testing, tracing, isolating dan treating. Sementara menurut Dicky, Lockdown, Karantina Wilyah dan PSBB merupakan tambahn dari intervensi. Strategi pencegahan juga dibutuhkan dalam pandemi sebegai obat sementara sebelum ditemukannya vaksin. Pencegahan tersebut berupa perubahan perilaku populasi dan institusi, yang di mana menjadi bagian dari new normal. “Ini perlu dipahami oleh masyarakat dan pemerintah bahwa new normal sebetulnya bagian dari pencegahan yang berupa perubahn perilaku. Jika tidak dilakukan maka akan terjadi puncak pandemi yang berjenjan,g” jelas Dicky. Konsep new normal dapat dipahami oleh masyarakat dengan infodemik yang baik dan terarah sesuai dengan prinsip pencegahan.

Setelah Dicky menyelesaikan pemaparannya, moderator memberikan kesempatan kepada dr. Agustin Kusumayati, M.Sc, Ph.D yang menjelaskan new normal dari sisi kesehatan masyarakat untuk melengkapi sudut pandang diskusi siang itu. Secara garis besar, new normal yang Agustin paparkan adalah sebuah tatanan kehidupan baru yang dipicu oleh keberadaan Covid-19, yang memungkinkan manusia untuk hidup sehat, menjalankan fungsi dan perannya sebagai mahluk sosial, dan menjadi produktif, sehingga terciptalah kehidupan yang mulia dan sejahtera. Berdasarkan kriteria untuk penerapan new normal, Agustin memberikan penjelasan mengenai posisi Indonesia. Agustin Kusumayati memberikan catatan penting untuk menciptakan tatanan kehidupan yang baru melalui sudut pandang kesehatan masyarakat yaitu upaya harus dilakukan secara terorganisir, kolektif, dan menekankan pemberdayaan masyarakat untuk mencegah kejadian penyakit. Berdasrkan prinsip kesehatan masyarakat, maka kehidupan baru harus memperhatikan promotion dan prevention.

Setelah pemaparan dari narasumber ketiga, moderator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya. Terdapat enam penanya dengan pertanyaan mayoritas mengenai new normal untuk lingkungan sekolah. Diskusi mengenai new normal lebih lanjut dapat mengakses materi dalam link berikut.

Reporter: Tri Muhartini/PKMK FK-KMK UGM

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments