Serial Webinar Knowledge Management Pertemuan 1: Selasa, 2 Juni 2020, 13.00 – 14.45 Kepemimpinan di Lembaga Kesehatan dalam masa Krisis Covid19: Mengkaji apa yang disebut sebagai Meta-Leadership

Reportase

Pengantar

Forum Manajemen Covid19 Topik Knowledge Management dengan tema Leadership menyelenggarakan diskusi online pada 2 Juni 2020 yang diselenggarakan secara virtual melalui webinar dan live streaming. Webinar dan live streaming ini diikuti oleh hampir 300 peserta dari berbagai lokasi.

Saat pendemi ini terjadi penurunan utilisasi rumah sakit oleh pasien. “Ada dua kemungkinan penyebabnya, yaitu sitgma mengenai Covid-19 dan turunnya daya beli masyarakat”, kata Dr. Andreasta Meliala selaku fasilitator saat membuka diskusi. Menurutnya ini bisa menjadi ancaman bagi bisnis RS dan leader di RS harus bisa memahami situasi ini, mengantisipasi serta membuat program. Ada satu konsep yaitu meta-leadership yang akan dibahas oleh Adj.Prof. Hans Wijaya (National Hospital) dan mengapa hal ini menjadi penting yang akan disampaikan oleh Prof. Laksono Trisnantoro (Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, FK KMK UGM).

Meta-Leadership: Leading Through Covid-19 Crisis

Adj.Prof. Hans Wijaya mempelajari mengenai meta-leadership ini di Harvard tiga tahun lalu dan tepat sekali digunakan saat manajemen sedang krisis, termasuk saat menghadapi Pandemi Covid-19. “Business continuity, bahwa the business must go on. Rumah sakit tentu dengan berbagai kondisi ini, kita harus berpikir bagaimana perubahan rencana strategis dari rumah sakit”, katanya mengawali presentasi.

Meta-leadership punya arah kepemipinan yaitu leader tidak hanya mempimpin ke bawah (lead-down) tetapi juga harus bisa lead-up, lead accross dan lead beyond. Karena lahir dari situasi krisis (bom Boston), konsep ini dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan para leaders dalam mengelola risiko, mengambil keputusan strategis secara cepat, untuk mempertahankan keberlanjutan usaha RS. Ada tiga dimensi yang dijelaskan dalam penggunaan konsep meta-leadership ini dalam konteks pandemi, yaitu person (bagaimana menjadi seorang meta-leader), leader harus paham bagaimana dampak situasi Covid-19 terhadap RS (dimensi Situasi), serta bagaimana dimensi konektivitasnya. Adj. Prof. Hans memberi banyak contoh bagaimana penerapan meta-leadership ini di National Hospital, dimana penurunan jumlah pasien akibat pandemi Covid-19 tidak menjadi alasan untuk menurunkan safety tenaga kesehatan di RS. NH justru harus menerapkan standar safety yang lebih tinggi meskipun berdampak pada meningkatnya biaya operasional. Dengan perhitungan yang tepat, hal ini justru akan meningkatkan kemampuan survival rumah sakit.

Prospek Penggunaan Meta-Leadership di RS-RS di Indonesia

Prof Laksono mengawali pembahasan dengan melihat risiko terjadinya gangguan berat di RS, dan juga bahkan sampai ke kematian tenaga kesehatan karena Covid-19. Penyakit ini berbahaya dan dibutuhkan respon yang berbasis pengetahuan oleh RS untuk menghadapinya. Dalam hal ini memang masih ditemui adanya anggapan di sebagian kecil direktur RS yang menyatakan bahwa untuk memimpin sebuah RS adalah kemampuan aplikasi (action), bukan pengetahuan teori. Kepemimpinan sering disebut sebagai seni atau bakat untuk melakukan tindakan, bukan sebuah ilmu yang dapat dipelajari. Prof. Laksono menyatakan diawal bahwa  leadership adalah gabungan antara pengetahuan (ilmu) dan seni yang dapat dipelajari, bukan hanya suatu talenta yang dimiliki oleh sedikit orang tanpa bisa dipelajari oleh orang lainnya. Sifat ini yang ada di kerangka Meta-Leadership yang disampaikan Adj. Prof Hans.  “Apakah Meta-Leadership ini cocok diterapkan pada RS-RS lainnya di Indonesia pada masa pandemik dan sesudahnya?”, merupakan pertanyaan yang menjadi topik pemaparannya.

Aspek menarik penggunaan konsep meta-leadership sebagai pegangan ilmu Kepemimpinan di masa pandemik untuk organisasi kesehatan adalah sifat dapat dipelajari. Di dalam kerangka Meta-Leadership ada komponen untuk analisis situasi dan usaha pemecahan masalah (Dimensi 2: Situasi)  melalui proses learning dan development di organisasi RS masing masing. Ini semua untuk menjamin keberlangsungan usaha (business continuity) dan pertumbuhan organisasi. Semangat untuk melakukan action berdasarkan analisis yang baik memang mencerminkan semangat survival. Semangat ini diperlukan pada kepribadian direktur yang merupakan dimensi 1 Meta-Leadership.

Wajar hasil survey PKMK FK UGM pada pertemuan sebelum libur Hari Raya Idul Fitri menunjukkan bahwa direktur RS swasta merasa lebih membutuhkan peningkatan kemampuan survival RS, dibandingkan dengan direktur RS pemerintah. Keberlangsungan usaha RS Swasta lebih rentan dibanding RS Pemerintah. Analisis “pop-doc” di Dimensi 2 (Situasi) menarik untuk digunakan, dan harus sampai pada action. Dalam membuat analisis ini, direktur RS tidak sendirian melainkan bersama dengan timnya. Hal ini terkait dengan prinsip Knowledge Management dan Learning Organization yang menyarankan adanya pembelajaran organisasi. Para profesional di RS yang sudah berbulan-bulan mempelajari pengetahuan tentang Covid-19 ini perlu dikoordinasi oleh Direktur.

Action tidak bisa dikerjakan tanpa analisis yang tajam. Analisis inilah menjadi dasar untuk menyusun atau mengubah rencana anggaran dan mungkin juga renstra/RSB RS.  Di sini artinya analisis digunakan untuk dasar mengambil keputusan strategis yang ditetapkan direksi dengan persetujuan pemilik RS.  Terakhir Dimensi 3 dari Meta-Leadership tentang sinergi dari berbagai unit internal dan berbagai organisasi eksternal perlu dicari melalui prinsip konekttivitas. Kesimpulan Prof. Laksono, aplikasi meta-leadership yang dapat dipelajari ini terlihat cocok menjadi pegangan direktur RS swasta dan pemerintah di masa pandemik Covid-19 dan juga sesudah pandemik selesai untuk memimpin lembaganya. Silahkan klik PP Prof. Laksono di sini.


What Next?

Hari ini adalah pertemuan pertama yang membahas mengenai apa itu meta-leadership.  Akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya yang akan membahas berbagai Dimensi dalam Meta-Leadership. Sebagai catatan, program ini memang masih bersifat pembelajaran perorangan. DI samping program ini dianjurkan ada pelatihan ke direktur RS dan timnya untuk mengembangan respon yang tepat sebagai hasil aplikasi Meta-Leadership.

Pertemuan kedua: Kepribadian dan sifat-sifat seorang pemimpin meta
Jumat, 5 Juni 2020, Pk. 13.00 – 14.00 WIB

Pertemuan ketiga: Memahami situasi RS saat ini
Senin, 8 Juni 2020, Pk. 13.00 – 14.00 WIB

Pertemuan keempat: Menyusun usaha pemecahan masalah; mereview RBA untuk business continuity RS
Rabu, 10 Juni 2020, Pk. 13.00 – 14.00 WIB

Pertemuan kelima: Memimpin review Renstra Bisnis RS
Jumat, 12 Juni 2020, Pk. 13.00 – 14.00 WIB

Pertemuan keenam: Menganalisis dimensi konektivitas dalam masa pandemik Covid-19
Senin, 15 Juni 2020

Video bisa diklik di sini.

Para peminat Seri Diskusi ini dapat klik di website www.manajemencovid.net untuk mengikuti perkembangan.


Hasil Survey

Untuk melihat efektifitas diskusi, di akhir diskusi dilakukan survey jarak jauh untuk mengukur pemahaman peserta diskusi. Silahkan dilihat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah mengikuti webinar. Ada 24 responses yang masuk dan hasil analisisnya adalah sebagai berikut.

Para peserta berasal dari berbagai lembaga, tidak hanya rumah sakit melainkan juga lembaga pendidikan dan lembaga lainnya.

1. Pemahaman mengenai dimensi Person

Terdapat perbedaan dimana sebelum mengikuti webinar cukup banyak yang tidak paham atau tidak paham sama sekali mengenai dimensi Person pada Meta-Leadership, dan setelah mengikuti webinar para peserta menjadi paham.

2. Pemahaman mengenai dimensi The Situation

Terdapat peningkatan pemahaman, dimana sebelum mengikuti webinar cukup banyak yang tidak paham atau tidak paham sama sekali mengenai dimensi The Situation pada Meta-Leadership, dan setelah mengikuti webinar para peserta menjadi lebih paham.

3. Pemahaman mengenai dimensi Connectivity

Terdapat peningkatan pemahaman, dimana sebelum mengikuti webinar cukup banyak yang tidak paham atau tidak paham sama sekali mengenai dimensi Connectivity pada Meta-Leadership, dan setelah mengikuti webinar para peserta menjadi lebih paham.

4. Pemahaman keseluruhan tentang Meta-Leadership

Terdapat peningkatan pemahaman, dimana sebelum mengikuti webinar cukup banyak yang tidak paham atau tidak paham sama sekali mengenai konsep Meta-Leadership secara keseluruhan, dan setelah mengikuti webinar para peserta menjadi lebih paham.

5. Pemahaman tentang Mobius Loop

Terdapat peningkatan pemahaman, dimana sebelum mengikuti webinar cukup banyak yang tidak paham atau tidak paham sama sekali mengenai Mobius Loop, dan setelah mengikuti webinar para peserta menjadi lebih paham. Namun masih ada 5 peserta yang belum paham konsep mobius loop ini.

6. Pendapat peserta mengenai ketepatan penggunaan konsep Meta-Leadership untuk Direktur RS

Terdapat perubahan pendapat pada beberapa peserta, dimana sebelum mengikuti webinar ada peserta yang menganggap konsep ini tidak tepat atau tidak tepat sama sekali, dan setelah mengikuti webinar seluruh peserta menganggap penggunaan konsep ini tepat dan tepat sekali untuk direktur RS.

7. Ketertarikan peserta untuk mengikuti pertemuan-pertemuan serial leadership selanjutnya

Sebanyak 92% (atau 22 orang) responden merasa tertarik untuk mengikuti seminar-seminar selanjutnya pada tema leadership.
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments