Reportase Workshop Online Angkatan IV LOGISTIK DALAM INCIDENT COMMAND SYSTEM (ICS) PENANGANAN COVID-19 DI RUMAH SAKIT – Kamis, 28 Mei 2020

Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

Hari kedua pada workshop online tahap Logistik Dalam Incident Command System (ICS) Penanganan COVID-19 Di Rumah Sakit dengan materi ‘Interoperabilitas ICS Di Rumah Sakit Dengan Sistem Klaster Nasional/Daerah Dan Antar-Klaster’ menghadirkan Narasumber yaitu Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt dengan moderator Happy R Pangaribuan SKM, MPH.

Sebelum pemaparan materi, moderator menyampaikan informasi bahwa sampai Rabu, 27 Mei 2020 pukul 14.00 WIB ada sebanyak 19 RS yang sudah mengisi hasil survey awal logistic dalam ICS antara lain: RSUD Pandan, RSU Sis Aldjufrie Palu, RS Woodward, RS Sari Mulia, RSI Pati, RSUD Sultan Imanuddin, RSUD Tarakan, TMC NU, RS Islam Malang Unisma, RSIJCP, RSUD Undata, RSNU Banyuwangi, RSUD Tarakan, RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung, RSUD Wonosari, RSUD Ungaran, RS NU Jombang dan RS Permata Bekasi. Survey awal meliputi Log-Safety, Log-Surge dan Log-EssensialLog Safety terbagi menjadi produk komunikasi resiko dan komunikasi aktif keselamatan. Kemudian, yang belum memiliki produk komunikasi resiko ada 2 RS yaitu RSUD pandan dan RSUD Ungaran. Untuk komunikasi aktif keselamatan yang belum memiliki adalah RSUD Pandan, RSUD Ungaran dan TMC NU. Dari hasil Log-Surge didapatkan bahwa sudah semua RS yang sudah memiliki perhitungan tempat tidur dan maksimal SDM, perkiraan peningkatan permintaan layanan dan identifikasi memperluas kapasitas rawat inap. Dari hasil Log-Essensial didapatkan bahwa ada 2 poin dimana RS belum mempersiapkannya yaitu ketersediaan SDM cadangan dan SOP penerima bantuan. Adapun masalah yang dihadapi RS yaitu keterbatasan APD, komunikasi, kekurangan SDM, kesulitan mendapatkan bantuan, stok alat atau obat untuk mencari vendor dan COD sedikit rumit. Tetapi secara keseluruhan permasalahannya adalah di komunikasi, SDM dan penggunaan APD yang terbatas.

Pada sesi ini narasumber membahas mengenai platform koordinasi dan kolaborasi sumber daya diluar RS (system klaster) pada COVID-19 dan bagaimana memahami alur komunikasi untuk menginisiasi permintaan kebutuhan sumber daya ke luar RS pada COVID-19. Platform koordinasi dan kolaborasi sumber daya di luar RS yaitu bisa dari dalam RS, lingkungan sekitar RS, pemda bahkan luar negeri berdasarkan Keppres No. 12 Tahun 2020. Peran pemerintah dalam klaster Kepka BNPB no. 173 tahun 2014 ada 8 klaster. Untuk klaster Kesehatan antara lain lintas aktor, lintas program, lintas sector, pemerintah, non pemerintah, masyarakat dan Lembaga usaha yang dikoordinir oelh Dinas Kesehatan atau Satgas COVID-19. Komunikasi ini penting untuk mendapatkan bantuan dari Dinas Kesehatan maupun BNPB. Ada RS swasta yang secara gamblang menyampaikan kebutuhan RS melalui media sosial. Potensi bantuan ini bisa dikerahkan bila mempunyai link yang tepat dan yang penting leadershipnya mempunyai sense of crisis. Bagaimana leadership bisa menggunakan ICS dengan efektif dan efisien untuk mengkomunikasikan ke luar. Narasumber juga mengingatkan pentingnya RS untuk menjadi bagian dalam rencana kontinjensi menghadapi hazard apapun di daerah peserta.

Pada sesi diskusi narasumber ingin mengetahui apakah RS menjadi bagian dari potensi Kesehatan daerah dalam rencana kontijensi daerah dan apakah sumber daya Kesehatan di daerah terpetakan dengan baik didalam rencana kontinjensi Kesehatan tersebut.

RSI Pati yang diwakili oleh dr. Nur Iffa menanyakan tentang adakah contoh form penyusunan rencana kontinjensi, apakah rencana kontinjensi bisa dimasukkan dalam pedoman HDP RS atau dalam bentuk dokumen yang terpisah, terkait keterlibatan RS terhadap rencana kontinjensi di daerah jika sudah ada penunjukan SK sebagai RS Rujukan lini ketiga apakah sudah dapat dikatakan masuk dalam rencana kontijensi dan terkait pedoman HDP RSI Pati memasukkan beberapa hazard potensial yang terjadi di RSI Pati apakah tiap – tiap hazard dibuatkan rencana kontijensinya.

Narasumber memberi tanggapan bahwa rencana kontinjensi itu sudah dipublikasikan di website kementerian kesehatan maupun oleh BPBD. Rencana kontinjensi masuk dalam bagian HDP ini merupakan Interoperabilitas bagaimana operasi dari ICS dalam RS bisa ngelink ICS yang ada di Dinas Kesehatan. Jadi saat diaktivasi rencana kontinjensi Dinkes berubah menjadi rencana operasi. Jadi setelah masuk fase new normal dibuat rencana kontinjensi maka jika ada hazard gelombang selanjutnya sudah bisa mengatasi. Jadi dapat dikatakan bahwa RSI Pati sudah menjadi bagian dari rencana operasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten atau Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Paling idealnya rencana kontinjensi setiap hazard ini harus ada tetapi ini agak sulit paling tidak dibuat risk assessment. Dilihat dari beberapa hazard mana yang paling tinggi potensinya / frekuensinya, kita prioritaskan yang paling tinggi.

RSI Pati juga memberikan informasi mengenai SDM di RSI Pati apabila ada kondisi bencana. RSI Pati sudah melakukan MOU dengan STIKES Muhammadiyah dan juga sebagai lahan untuk penempatan dokter insternship, sehingga pada saat terjadi bencana mereka akan dijadikan relawan untuk membantu SDM di RS.  Untuk relawan bagian security, RS bekerjasama dengan banser.

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan pemahaman alur komunikasi inisiasi permintaan kebutuhan sumber daya eksternal”

Narasumber melanjutkan pemaparan tentang pemahaman alur komunikasi untuk menginisiasi permintaan kebutuhan sumber daya ke luar RS pada COVID-19. Narasumber mengingatkan kembali materi sebelumnya bahwa alur komunikasi ini dimulai dari end user, bidang operasi / manajer medis untuk disampaikan ke IC dan IC akan menginstruksikan ke bidang logistik untuk memenuhi kebutuhan, jika sumber daya itu didapat dari luar RS maka harus didokumentasikan dan dijamin kualitasnya, dengan dibuatkan berita acara serah terima. Untuk ICS dalam HDP RS apakah sudah interoperability dengan ICS rencana operasi Dinas Kesehatan setempat. Contoh alur ICS RS untuk pengadaan dan distribusi sumber daya dari luar RS yaitu ICS menyampaikan ke PJ humas, kemudian humas menyampaikan permintaan ke instansi horizontal untuk mendapatkan tambahan bantuan baik medis, non medis, sumber daya dll. Kemudian bidang logistik juga memikirkan bagaimana transportasi, distribusi dan penyimpanan ke unit – unit terkait di dalam RS. Berita Acara Serah Terima penting mencantumkan nominal untuk menghindari konflik administrasi setelah terjadinya pandemi.

Memasuki sesi diskusi,  klarifikasi pertama dari RSUD Tarakan yang diwakili oleh Ibu Nia bahwa RSUD Tarakan sudah mempunyai SOP pengadaan APD baik itu dari Dinas Kesehatan maupun BNPB. Untuk SOP pengadaan APD masih mengacu pada SOP kondisi non pandemi, tetapi kita juga sedang proses merapikan SOP untuk pengadaan APD pada saat pandemi. Ketua berkoordinasi ke Dinas Kesehatan donasi apa yang dibutuhkan RS. RS sudah mempunyai posko donasi dan ada pencatatan. Sudah mempunyai formulir penerimaan bantuan dan ada bagian sendiri yang menerima donasi.

Narasumber menjelaskan bahwa RS di Jabodetabek sangat mudah aksesnya, sehingga sangat mudah mendapatkan bantuan. SOP dalam ICS untuk menjamin keselamatan dari tenaga kesehatan juga termasuk yang menerima bantuan.

RSUD Wonosari yang diwakili oleh Tasmi memberikan penjelasan bahwa RS sudah mempunyai SOP pengelolaan bantuan jika bantuannya berupa bahan pangan maka disalurkan ke bagian gizi, obat ke bagian farmasi dan APD ke bagian sanitasi. RSUD Wonosari menanyakan berkaitan dengan quality control jika menerima donasi dalam keadaan tidak sesuai atau rusak bagaimana dengan pelaporannya. Narasumber memberikan jawaban bahwa hal ini pernah terjadi saat gempa jogja dimana harus keliling ke Dinas Kesehatan dan RS di sekitar Yogyakarta untuk mengambil bantuan-bantuan yang rusak untuk dimusnahkan. Tentunya hal ini jangan terjadi lagi jadi saat menerima bantuan yang tidak sesuai atau rusak ini tergantung kebijakan RS jika barang rusak maka di berita acara dijelaskan secara rinci dan diperhatikan standar keamanannya dan dikomunikasikan. Kuncinya ada di SOP bagaimana menerima donasi dan pada saat penerimaan ada quality control dari tim PPI dan K3. Apakah akan diterima atau ditolak dan bagaimana tatacara pemusnahannya harus tercantum dalam SPO.

Sesi selanjutnya dijelaskan mengenai tools untuk menghitung kebutuhan APD dengan menggunakan WHO COVID-19 Essential Supplies Forecasting Tool (COVID-ESFT v2.0). Tools ini  dikembangkan oleh WHO dan digunakan oleh seluruh negara di dunia. Narasumber juga menjelaskan bagaimana cara menggunakan tools dengan menyesuaikan kondisi daerah dan RS masing – masing kemudian mempraktikkan cara mengisi tools dengan daerah Yogyakarta sebagai sample.

Workshop hari kedua Logistik Dalam Incident Command System (ICS) Penanganan COVID-19 Di Rumah Sakit ditutup dengan moderator menyampaikan penugasan hari ini Rabu, 28 Mei 2020 yang dibatasi waktu sampai pukul 17.00 WIB. Penugasan tentang memetakan RS terkait logistik bisa di – download di website https://bencana-kesehatan.net dan akan dipresentasikan pada hari berikutnya dengan memilih 4 RS yang akan mewakili presentasi penugasan.

Reporter:

  1. Indrawati Wurdianing
  2. Ajeng Choirin

Bapelkes Semarang

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments