Reportase Workshop Online Angkatan IV LOGISTIK DALAM INCIDENT COMMAND SYSTEM (ICS) PENANGANAN COVID-19 DI RUMAH SAKIT – 29 Mei 2020

Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

Hari ketiga workshop online  Aktivasi Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command System dalam Menghadapi Pandemi COVID-19 dengan materi ‘Logistik Dalam Incident Command System (ICS) Penanganan COVID-19 Di Rumah Sakit’ menghadirkan Narasumber yaitu Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt dan Sri Purwaningsih, S.Kep. Ners, M.Sc dengan moderator Happy R Pangaribuan SKM, MPH. Dari hasil penugasan yang sudah dibuat dipilih 4 rumah sakit untuk dibahas yaitu: 1) RSUD Tarakan; 2) RSUD Pandan; 3) RSI Pati dan 4) RS UNISMA. Sebelum masuk pembahasan penugasan, narasumber menegaskan bahwa penggunaan tools itu tergantung RS masing – masing dan kebijakan pimpinan pemerintah daerah. Hal yang terpenting ada tools untuk membuat perencanaan kebutuhan.

Narasumber memaparkan penugasan pertama dari RSUD Tarakan. RSUD Tarakan mempunyai kapasitas  TT: 450, BOR: 79,78%, ICU: 37 Bed. Jumlah SDM : Dokter 139 orang, Perawat 535 orang, Bidan 26 orang, Laboran 41 orang, jumlah ambulans 2 buah. Populasi yang dapat dilayani RS yaitu 47.061 jiwa. Jumlah PDP yang dilayani 401 orang, jumlah ODP 1848 orang, positif 61 orang dan MD 157 orang. Sumber bantuan internal berasal dari anggaran BLUD RSUD Tarakan. Sumber bantuan eksternal berasal dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, BNPB, DPR RI, KKP Kanwil Jakarta Selatan, Puskesmas Kecamatan Gambir, RSUD Cengkareng, organisasi masyarakat, partai politik, institusi pendidikan, ikatan alumni dan pribadi. Luas gudang jumlah bangunan : 2/361 m2, terdapat 28 SOP terkait COVID-19. RSUD Tarakan ini sudah melakukan usaha – usaha untuk mendapatkan bantuan melalui media sosial. Dengan memasukkan parameter indikator – indikator di tools WHO ini perhitungannya untuk 8 minggu ke depan diproleh perkiraan  sekitar 1.223 kasus. Terdapat kesenjangan karena adanya perbedaan standar skala prioritas, prinsipnya diambil perhitungan yang paling tinggi karena dalam ICS itu untuk menjamin kesehatan dan keselamatan tenaga kesehatan di RS. Fungsi dari tools ini untuk menghitung dan mengadvokasi pimpinan RS dan Dinas kesehatan untuk memberikan APD. RSUD Tarakan ini terletak dekat dengan RS Rujukan nasional sehingga ada kemungkinan mendapatkan rujukan dari RS Rujukan nasional. Selain itu, RSUD Tarakan tidak mempunyai ambulans banyak karena ambulans gawat darurat (AGD) dinkes banyak memberikan ambulans. Narasumber menekankan tentang adanya 9 ruangan isolasi yang masuk dalam zona merah terkait juga dengan perhitungan APD.

Klarifikasi RSUD Tarakan bahwa RSUD Tarakan termasuk RS Rujukan tipe A dan selama pandemik mengistirahatkan mahasiswa / PPDS yang praktek di RS. Dari pihak kampus juga bersurat kepada RS sampai dengan waktu yang tidak bisa ditentukan. APD sudah terpenuhi dan sampai dengan 3 bulan ke depan. Untuk kebutuhan APD tidak ada MoU dengan pihak eksternal hanya sebatas bantuan saja. Untuk bantuan hanya APD, multivitamin, makanan dan belum ada bantuan yang menjamin bantuannya sampai pandemik berakhir. Untuk bantuan makanan langsung diberikan ke bagian gizi untuk diperiksa keamanan makanannya dan mendistribusikan ke bagian – bagian. Untuk 9 ruangan isolasi sudah termasuk ruangan untuk perawatan ibu dan anak, perawatan bayi, dan lain – lain.

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Diskusi Hasil Review Penugasan dari RSI Unisma”

Hasil review RSUD Pandan yaitu RS mempunyai kapasitas TT 120, ICU 5, Ventilator 3. Jumlah SDM: dokter 45 orang, Perawat 118 orang, laboran 6 orang. Ambulans 6 buah. Populasi yang dilayani RS 250 jiwa/hari. Jumlah ODP 1 orang, PDP 4 orang, Positif Rapid Test 3 orang, meninggal 2 orang. Sumber bantuan internal berasal dari APBD. Sumber bantuan eksternal berasal dari LSM, BUMN dan perusahaan. RSUD Pandan dengan kasus 3 positif rapid test ini tidak banyak membutuhkan APD namun sudah mulai menghitung APD. Dari data yang ada inilah yang dibutuhkan RSUD pandan untuk 8 minggu ke depan jika tidak ada perbaikan atau tidak melakukan PSBB dan tidak ada intervensi akan ada lonjakan 150 kasus. Di Sumatera Utara sudah ada penunjukan RS Rujukan jika keadaan memburuk akan dibutuhkan ambulans yang banyak untuk membawa pasien ke RS rujukan dan RSUD Pandan ini sudah mempunyai ambulans banyak.

Klarifikasi dari RSUD Pandan jika menerima pasien PDP dan mengharuskan untuk dirujuk sedang kondisi RS saat itu tidak ada ambulans maka menggunakan ambulans puskesmas. Perlakuan dengan ambulans dan petugasnya baik di RS rujukan maupun sampai RSUD Pandan dilakukan disinfeksi dan petugasnya berganti APD. Petugas langsung mandi di RS Rujukan. Di ambulans ada pembatas antara sopir dengan area pasien. Karena stok APD masih cukup, maka sopir menggunakan APD level 3.

Hasil review RSI Pati yaitu RS mempunyai kapasitas TT 119, BOR 60%, ICU 5, dan ventilator 1. Jumlah SDM: dokter 36, perawat 122, laboran 11, jumlah ambulans 4 buah. Jumlah pemudik 22.579 orang, ODP 68 orang, PDP 5 orang, OTG 2 orang, positif 1 orang dan meninggal 13 orang. Dengan kondisi yang ada dimasukkan tools WHO kurang lebih 8 minggu ada 120 kasus ini belum terjadi lonjakan pasien dan yang paling banyak penggunaan sarung tangan. Dilihat dari peta respon RS rujukan yang paling dekat RS Kudus tapi dilihat dari SK – nya yang menjadi RS Rujukan, RS Soewondo Pati.

Klarifikasi RSI Pati bahwa untuk hasil penugasan ini ada beberapa kendala belum memasukkan jumlah populasi masyarakat yang dilayani, untuk perhitungan APD atau kebutuhan logistik belum dilakukan secara benar baru secara estimasi/perhitungan kasar belum sesuai kaidah keilmuan karena belum pernah mendapat pasien positif. Sistem rujukan jika mendapatkan pasien suspect dirujuk ke RS Soewondo Pati namun jika penuh akan dirujuk ke RSUD Dr. Loekmonohadi Kudus.  Apabila masih penuh juga akan dirujuk ke area Semarang.

Hasil review RSI Unisma yaitu RS mempunyai kapasitas TT 107, BOR 61, ICU 5, ventilator 2. Jumlah SDM: dokter 68 orang, perawat 106 orang, dan laboran 5 orang. Jumlah ambulans 3 buah. Populasi yang dilayani sebanyak 823.000 jiwa. Jumlah ODP 4 orang, PDP 13 orang, positif 1 orang, dan tidak ada yang meninggal. Sumber bantuan internal berasal dari anggaran RS. Sumber bantuan eksternal < 5.000.000. Luas : jumlah bangunan = 1m2:27. Dengan kondisi BOR 61, nakes kurang lebih 70 orang, jumlah ambulans 3 dan sistem rujukan yang sudah bagus, setelah dimasukkan parameter – parameter indikatornya untuk 8 minggu ke depan diperoleh 210 kasus. Dilihat peta respon RS Rujukan RSI Unisma langsung ke RSUD dr. Saiful Anwar.

Klarifikasi RSI Unisma bahwa dikota Malang sudah ada 5 RS Rujukan dan RSI Unisma terakhir yang ditunjuk sesuai dengan SK Gubernur 1 bulan yang lalu. Dengan workshop ini kami sedang belajar membuat SOP yang dibutuhkan pada masa pandemi ini. Sistem rujukan bisa horizontal atau vertikal ke RSUD dr. Saiful Anwar. APD masih cukup. Menerima beberapa bantuan APD dari beberapa LSM dan farmasi. RSI Unisma sudah menerima bantuan eksternal dan untuk mengatasi lonjakan akan merenovasi ruang anatomi menjadi ruang isolasi khusus COVID-19 dan menambah SDM. Untuk alur pasien dari awal melalui skrining suhu. Jika kategori ODP atau PDP, diarahkan ke isolasi di IGD. Setelah pasien dipastikan PDP, pasien dirawat di ruang isolasi untuk meminimalkan kontak dengan populasi di RS, memakai ambulans dengan akses yang tertutup melalui pintu samping kemudian masuk ke ruang isolasi bekas ruang anatomi. Untuk ventilasi dipastikan bertekanan negatif yang ditetapkan.  Apabila ada lonjakan pasien sudah ada MoU dengan Universitas Islam Malang, namun sampai saat ini masih tercukupi dari SDM internal RS.

Kegiatan workshop ditutup oleh moderator dengan mengingatkan kembali untuk mengisi evaluasi Kirkpatrick. Menginformasikan juga  bahwa WAG tidak dibubarkan dan jika ada kendala bisa mengirim chat dan akan diteruskan ke narasumber. Sesi terakhir adalah workshop simulasi yang  akan dilaksanakan pada Rabu, 03 Juni 2020 yaitu dengan menyiapkan beberapa skenario dan akan disimulasikan apabila skenario tersebut terjadi dimana peserta akan menjawab secara langsung. Moderator juga mengingatkan RS yang belum mengirim penugasan untuk mengirim penugasan karena terkait dengan sertifikat.

Reporter:

  1. Indrawati Wurdianing
  2. Ajeng Choirin

Bapelkes Semarang

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments