Reportase Pengalaman dan Tantangan Pengelolaan RT-PCR Rumah Sakit Swasta

Klinisi Primer

Webinar ini dibuka oleh Prof. Laksono Trisnantoro, MSc., PhD. PCR adalah suatu pemeriksaan yang strategis dalam pencegahan pandemi COVID-19 meluas. Dalam teknologi yang kompleks, ada yang disebut kemitraan antara pemerintahan dan swasta, dimana masing – masing bisa mengisi gap SDM dan peralatan.

Paparan pertama dipresentasikan oleh Dr. Rosidi Roslan, SH, SKM, MPH, MH, Kepala Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya dengan judul “Pengalaman dan Tantangan Sebagai Pusat Rujukan Pemeriksaan COVID-19 di Jawa Timur”. BBTKLPP Surabaya merupakan pusat unggulan pencegahan dan pengendalian penyakit berbasis laboratorium di 4 wilayah, yaitu Jawa Timur, NTT, NTB, dan Bali. Dalam rangka melihat masalah kesehatan masyrajat dilakukan 3 langkah. Yang pertama dilakukan adalah mengkaji tren penyakit dan faktor risiko, lalu melakukan uji pada host, agen, dan lingkungannya, dan mencari solusi untuk rekomendasi perbaikan manajemen program dalam rangka mengendalikan faktor risiko dan teknologi tepat guna berbasis masyarakat.

Program strategis dalam rangka COVID-19 yaitu penerimaan spesimen, pemeriksaan laboratorium dengan RT-PCR, biosafety dan biosecurity, OJT pengambilan, pengemasan, dan pengiriman specimen serta OJT laboratorium pemeriksaan COVID-19 menggunakan RT-PCR, penyelidikan epidemiologi dan telusur kontak kasus, dukungan SDM/BKO pada pintu masuk negara, misi kemanusiaan di Pulau Sebaru, dan food security di dapur umum selama PSBB di Surabaya. Spesimen kriteria yang diterima BTK adalah PDP, ODP dan OTG dengan RDT reaktif, dengan syarat melampirkan formulir 7 untuk PDP dan ODP, formulir 2 untuk OTG, surat pengantar Dinas Kesehatan, dan bukti RDT reaktif. Terdapat 4 isu strategis dari pandemi COVID-19 ini yaitu ketersediaan alat dan bahan reagensia, kemampuan dan kapasitas pemeriksaan, jumlah specimen yang diterima, dan potensi pengembangan laboratorium.

Peran BBTKLPP Surabaya antara lain yaitu : di pintu masuk negara, mendukung pemeriksaan penumoang yang ketat di Bandara Internasional Juanda, bantuan operasional kemanusiaan, dan melalukan on the job training. Peran yang lain adalah dukungan penyelidikan epidemiologi, tracing kontak, dan logistik, seperti yang terjadi di kluster Pondok Al Falah Temboro, pabrik rokok HM Sampoerna, dan pasar Bojonegoro. BBTKLPP juga sedang melakukan kajian untuk menganalisis prediksi puncak pandemi di Jawa Timur berbasis lab. BBTKLPP juga memastikan ketersediaan bahan reagen dan APD, serta keandalan alat. BBTKLPP melakukan pelaporan cepat dan akurat melalui pembentukan pusat data dan informasi (bank data).  Untuk tahapan penanganan specimen di BBTKLPP dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Paparan dilanjutkan oleh dr. Zahrotunissa, M. Biotech dari Laboratorium Virologi BBTKLPP Surabaya tentang “Standarisasi packing specimen SWAB dokter RS agar dapat dibaca tepat dan cepat”. Pedoman pemeriksaan uji RT-PCR bagi laboratorium sudah tertera di surat edaran Nomor HK.02.01/MENKES/234/2020, termasuk di dalamnya persyaratan Gedung dan ruang laboratorium, persyaratan biosafety cabinet, persyaratan peralatan, persyaratan SDM, dan persyaratan praktik biosafety dan biosecurity dan persyaratan good laboratory practice. Laboratorium yang sudah bisa melakukan pemeriksaan PCR diharapkan untuk menghubungi Balitbangkes agar bisa terdata dengan baik.

Quality assurance cycle di laboratorium dipengaruhi oleh banyak hal, yaitu preanalitik dengan presentase 46-68% (pengambilan sampel,pengepakan sampel, sampai penyimpanan sampel), analitik (7-13%), dan post analitik (18-47%). Pengambilan sampel di RS adalah PDP dan ODP, sedangkan pengambilan sampel OTG dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Jenis specimen yang diambil utamanya adalah usap nasofaring atau orofaring dan sputum. Bila pasien pakai ventilator, maka ambil spesimen dari cairan ETT atau cairan dari suction lalu dimasukkan dalam VTM.

Pada paparannya dr. Nissa menyampaikan tentang persiapan pengambilan sampel dan langkah – langkah pengambilan spesimen. Bila sampel didapatkan dari PDP, usahakan untuk mendapatkan sputum sebagai sampel. Untuk pengemasan dan pengiriman sampel dapat terlihat pada gambar di bawah ini:

Paparan terakhir dipresentasikan oleh Adj. Prof. Hananiel Prakasya Widjaya, MM , CEO National Hospital Surabaya. Di Indonesia, jumlah pemeriksaan PCR untuk COVID-19 sangat kurang, sekitar 743 uji PCR per 1 juta penduduk. Persebaran laboratorium yang memiliki alat PCR belum merata. Di Surabaya sendiri ada 5 laboratorium yang bisa melakukan tes PCR, yang melayani sekitar 380 rumah sakit. Baru pada Mei 2020, 2 rumah sakit swasta di Surabaya, RS National Hospital dan RS Premier Surabaya mulai melayanai pemeriksaan tes PCR untuk COVID-19.  Dengan ketimpangan jumlah alat PCR dan fasilitas kesehatan, uji PCR ini menjadi bottle neck tersendiri dalam proses diagnosis COVID-19.

National Hospital membuka layanan PCR awalnya untuk kepentingan internal. Pasien yang dirawat, gejala sudah membaik, namun lama menunggu hasil tes PCR sehingga memperpanjang length of stay pasien, dimana hal ini menjadi masalah di National Hospital karena jumlah bed yang tersedia tidak banyak. Lama kelamaan, tes PCR di National Hospital mulai dipakai untuk pasien eksternal, misalnya perusahaan yang membutuhkan diagnostik COVID-19 dengan cepat, pasien rujukan rumah sakit lain atau pasien datang sendiri untuk skrining. Dalam rentang waktu 10 hari, National Hospital sudah memeriksa 600 lebih sampel dengan prioritas pasien internal. Persiapan National Hospital selama 2 minggu dari persiapan alat, ruangan, hingga training petugas lab. Terdapat hambatan di supply chain, karena ada PSBB dan kesulitan reagen. National Hospital menjaga agar dalam 12 jam hasil PCR bisa keluar, supaya perputaran sampel lebih cepat. Untuk menunjang kelancaran pelayanan RT-PCR ini, dibutuhkan koordinasi antar departemen, dukungan terhadap tim laboratorium, dan kerjasama tim yang kuat.

Terdapat beberapa tantangan dalam pengelolaan RT-PCR ini antara lain karena animo yang tinggi. Di National Hospital tidak perlu menjadi ODP atau PDP untuk bisa melakukan tes RT-PCR, sehingga banyak perusahaan yang memeriksakan karyawan – karyawannya di National Hospital dan juga rujukan rumah sakit lain. Sehingga ada antrean Panjang dan harus disiplin untuk melakukan tes RT-PCR. Tantangan lain adalah keterbatasan SDM yang terlatih karena merupakan tes baru di National Hospital, ekspektasi pasien yang tinggi akan ketepatan waktu hasil RT-PCR. Terdapat beberapa kendala juga dalam menerima rujukan sampel antara lain kondisi sampel tidak representatif untuk diperiksa dan pengemasan yang tidak standar.

National Hospital sangat terbuka dengan usulan public-private partnership. Karena ada beberapa RS swasta yang berencana memiliki alat PCR namun terkendala kurangnya SDM. Sedangkan di BBTKLPP Surabaya, terdapat puluhan tenaga terlatih namun kekurangan alat. Kerja sama ini diharapkan bisa untuk melaksanakan uji RT-PCR yang lebih banyak seperti program dari pemerintah.

Reporter: S. Rarasati

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments