Reportase Webinar Estimasi Biaya Essential Supplies Pelayanan Pasien COVID-19 di Indonesia

Klinisi Primer Klinisi Rujukan Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

Webinar kali ini diselenggarakan oleh PERSI (18 Mei 2020) dengan moderator Abdul Choliq Amin,SE., MM. dan narasumber dr. Josephat Suwanta Sinarya, M.Kes., Ifrad, BDS,DDS,MBA serta pembahas oleh Prof Laksono, Pungkas Bahjuri Ali, STP, MS, Ph.D, dr Endang Widuri. dr Kuntjoro Purjanto sebagai ketua umum PERSI Pusat membuka webinar dengan  menyampaikan bahwa event ini adalah strategis. Berharap bisa jadi bagian penambahan pengetahuan semua pihak, akan menghadapi the new normal. Apa yang terjadi ini bisa diintegrasikan, yang diaplikasikan oleh semua rumah sakit.

Dr Suwanta menyampaikan mengenai Essensial Supplies Forcasting Tool  yang selanjutnya disingkat ESFT, bahwa beban pembiyaan yang diperkirakan akan muncul. Melakukan komunikasi dengan UI, Bappenas dan WHO, parameter apa yang dipakai untuk kebutuhaan nasional. Data yang digunakan dari BNPB. Mendiskusikan dengan tim kompartemen pembiayaan. Kebutuhan pembiayaan terhadap persediaan yang harus disiapkan oleh fasyankes meliputi perkiraan bahan hygiene, APD, kebutuhan diagnostic, peralatan biomedis dan obat serta bahan habis pakai. Perkiraan yang dapat dihitung untuk kasus COVID-19 pada 12 pekan ke depan, terkait dengan kapasitas rawat inap, kapasitas testing, kebutuhan tenaga kesehatan, estimasi biayanya berapa.  Selain itu juga membahas dampak pandemi terhadap ketimpangan pelayanan kesehatan di Indonesia serta memahami sumber pendanaan untuk penanganan pasien COVID-19. Adapun batasan analisisnya menggunakan susceptible infectious removed model dengan periode waktu 12 pekan, infectious 7 hari, frekuensi kontak 11,5 orang per hari, probabilitiy infectious 2,29% dan doubling time selama 9 hari. Data yang digunakan berasal dari BNPB per 16 mei. Menghitung kapasitas faskes dengan jumlah tempat tidur COVID-19 dan non COVID-19 sebanyak 200.000 TT untuk kasus berat dan 8000 TT untuk kasus kritis dan peralatan laboratorium dan kapasitas tes perhari sebanyak 14.438. Selain itu juga kebutuhan tenaga Kesehatan di unit screening, laboratorium dan rawat inap. Ada 6 komponen biaya yang muncul yaitu hygiene, PPE, diagnostic, drugs and consumable, biomedical equipment, biomedical consumable dan screening. Estimasi biaya untuk 12 minggu sebesar 15 triliun dengan komponen biomedical equipment sebesar 10 triliun dan komponen hygiene, APD, diagnostic, obat dan consumable lainnya senilai 5 triliun.

Ifrad menyampaikan bahwa estimasi biaya persediaan penanganan pasien COVID-19.  Menggunakan satu tools yang disediakan oleh WHO untuk negara terdampak. Melakukan prediksi terhadap biaya yang akan dikeluarkan. Untuk memproyeksi 12 minggu yang akan datang.  Di aplikasi terbaru dimasukkan beberapa basis data yang lebih baik. Asumsi yang digunakan yang disediakan oleh WHO. Melihat kejadian dari beberapa kejadian yang terdampak. Prediksi yang akan datang jumlah estimasi populasi, jumlah komulatif kasus, level severity 9 hari berdasarkan panduan WHO. Dengan case severity ringan 40% LOS 2 pekan , moderat 44% LOS 2 pekan, berat 11%  LOS 1 pekan dan kritis 5% LOS 2 pekan. Serta case fatality rate   sebesar 13,4% dan kasus kristis 50%. Tenaga Kesehatan mengacu data dari  PPSDM. Sebesar 40% tenaga Kesehatan yang tidak melayani COVID-19, 52% melayani dan 8% melayani rawat jalan. Sehingga rasio tenaga Kesehatan per tempat tidur 1,3 per TT, rasio petugas sanitarian 0,4, personli ambulan per temppat tidur 0.04, biomedical engineering per TT 0.02 dan sreening kasus per hari sebanyak 23 kasus. Jumlah total tempat tidur rumah sakit di Indonesia sebnyak 325.494, dari jumlah yang ada hanya 38% tidak dialokasikan untuk pasien COVID-19. 60% untuk kasus berat dan 2,38% untuk kasus kritis. Maksimum tes per hari sebanyak 14.438. tenaga laboratorium adalah petugas ahli laboratorium medik dan patalogi klinik yang dikategorikan sebanyak 16.906. Prediksi 12 minggu yang akan datang, minggu ke 6 jumlah kasus sebanyak 47.381 per hari dan minggu ke 12 sebanyak 484 kasus . Perhitungan proyeksi terlihat over estimate. Proyeksi pasien masuk dan menggambarkan kapasitas tempat tidur. LOS pasien kritis lebih Panjang dibandingkan pada pasien berat. Dan kapasitas testing sebanyak 874.595. Kebutuhan tenaga kesehatan dirawat inap penunuruan utilisasi pada pekan ke 5, screening di garis depan terus dilakukan untuk pasien COVID-19. Estimasi biaya 12 minggu yang akan datan, APD, BMHP, peralatan dan lainnya sebesar 15 triliun. Cenderung over estimate, belum memperhitungkan kondisi eksisting. Paling tinggi biaya biomedical equipment.

Prof Laksono menyatakan bahwa memahami sumber pendanaan dari perspektif rumah sakit merupakan  model dari bagian perkembangan pandemi. Ketika melihat konteks mikro, ada pertanyaan menarik, ada beberapa lembaga tumbang karena COVID-10. Pendanaan perlu dilihat dari aspek mikro, rumah sakit dapat melaksanakan misi dengan baik saat pandemi dan melanjutkan usahanya di pasca pandemi COVID-19. Harus diperkirakan jangka panjangnya. Rumah sakit memproyeksikan  ke depan. Dana pemerintah APBN dan APBD, kebijakan, alokasi. Dana transfer sangat jauh yang disampaikan oleh Pak Ifrad. Untuk APBD turun derastis, jadi anggaran untuk COVID-19 juga turun. Lalu dana dari masyarakat apakah bisa menjadi katup pengaman? Pelaku filantropi ada dari individu dan institusi. Urun dana dari crowd funding dan pengumpul dana. Dana yang dikumpulkan cukup besar. Juga charity dari perusahaan. Namun sumbangan masyarakat innatura tidak bisa dideteksi. Pendanaan filantropi lebih fleksibel, namun perlu adanya koordinasi pengawasan dalam pendistribusian. Respon rumah sakit terhadap pembiayaan yang berbeda – beda. Dampak mikro yang telah dihitung secara makro tadi akan berlainan. Rumah sakit mengatasi masalah keuangan dengan melakukan efisiensi seketat mungkin.

Pungkas menambahkan bahwa banyak orang melakukan proyeksi, dan tidak ada yang salah dengan proyeksi. Asumsi yang menjadikan berbeda – beda. Dari data yang masuk juga hasil proyeksi berbeda beda. Memperkirakan under reported terlalu bersar. Ada masalah di laboratorium, akan sangat mempengaruhi angka yang dikeluarkan. Selain itu proyeksi bisa berubah  – ubah, asumsi juga berubah. Semua proyeksi yang dilakukan sangat tinggi. Menggunakan proyeksi untuk menghitungkan kebutuhkan. Proyeksi nasional sangat berbeda  dengan di daerah. Banyak daerah trennya berbeda dengan DKI.  Jatim dan DIY trennya meningkat. Daerah lain baru mulai meningkat. Tidak bisa serta merta mengadopsi dari tingkat nasional.  Disarankan menggunakan data dari provinsi, sangat penting karena upaya mitigasi sebagian besar di tingkat wilayah. Ada masalah di supply side, dari luar negeri maupun dengan dalam negeri. Sulit ditransportasi, membuat terkendala dan kekurangan. Mobilisasi tingkat dalam negeri juga sulit.

Selain itu mengenai anggaran, relatif moderat estimasi anggarannya. Secara umum anggaran untuk APD, alat kesehatan, laboratorium, dan klaim cukup tinggi. Juga Insentif  tenaga Kesehatan juga cukup besar.  Banyak sumber dana dari pemerintah, ada rumah sakit mengadakan sendiri. Dana besar, namun mobilisasi yang tidak bagus. Membuat proses terlambat, tidak terlalu siap dengan sistem informasi. Misalnya PCR cukup banyak, ketika disediakan reagen tidak bisa dilakukan. Bappenas Menyusun reformasi Kesehatan, selama ini pengumpulan data terkendala. Mobilisasi dana kendala, yang menjadi masalah adalah koordinasi dan mobilisasi. Secara nasional belum ada protocol bencana non alam. Mengenai akses dana, dengan mode sekarang dimudahkan. Rumah sakit mencari dil uar negeri juga bisa yang dapat dimanfaatkan, dan tidak perlu terpusat. Ada bantuan juga bisa langsung diproses. Banyak hal yang mengevaluasi yang perlu diperkuat, di Bappenas ada  komponen besar salah satu fokus penguatan sistem Kesehatan nasional pada 2021. Melibatkan berbagai pihak, termasuk PERSI. Promotif preventif, pencegahan COVID-19 sebenarnya sederhana namun menjadi isu penting.

Dr Endang menyampaikan bahwa sudah baik memakai data yang ada di indonesia. Lebih lagi apabila di perinci dengan per provinsi. Juga provinsi bisa menggunakan tools ini. bisa digunakan untuk rencana respons. Sehingga jumlah kasus yang dimasukkan sesuai dengan daerah masing – masing. Selanjutnya bisa melihat gambaran daerah yang terdapat kasus besar dan diprioritaskan. Asumsi yang digunakan ada beberapa model, di Indonesia perlu disepakati yang sama, ringan, moderat, tinggi dan kritis. Asumsi sudah menggunakan data analisis di Indonesia. Jumlah kasus bisa digunakan terkonfirmasi, PDP dan ODP. Ada permasalahan pada laboratorium. Data yang lebih lengkap akan lebih akurat untuk forecasting, data untuk daerah dimasukkan akan lebih baik. Juga bisa di integrasikan kebutuhan sampai pada kebutuhan rencana respons.

Dari penghitungan ESFT, melihat kebutuhan lebih baik lagi link dengan sumber pendanaan. ESFT hanya proyeksi kebutuhan saja. Harus melihat konteks lokal, misal akses ke rumah sakit. Berapa rumah sakit yang memiliki ruang yang dialihkan untuk COVID-19. Selain itu perlu melihat dinamika sosial yang ada dimasyarakat, menjelang Idul Fitri ada masyarakat yang mudik, mempengaruhi asumsi kasus yang kemungkinan di daerah. Selain tools melihat kebutuhan  rawat inap, juga bisa melihat kebutuhan rawat jalan, berapa peralatan yang diperlukan petugas dilapangan saat triase, berapa juga untuk rawat jalan. Bisa juga per breakdown kebutuhan tenaga Kesehatan, bahkan kebutuhan masker. Untuk review kesiapsiagaan, kebutuhan ESFT merupakan bagian dari rencana respon yang perlu di – review secara berkala. Komponen surveillance yang feed data, sehingga data akurat. Selanjutnya dilakukan penguatan. Respon medis dan laboratorium, melihat kesiapsiagaan rumah sakit apakah mempunyai rencana ekspansi suatu ruangan yang dialih fungsikan, serta bagaimana juga jejaring dan meminta bantuan. Intervensi farmasi, melihat kebutuhan obat – obatan yang dibutuhkan. Salah satu yang harus diisi berapa pekan kebutuhan. Intervensi non farmasi, komunikasi risiko yang dilakukan tim promosi Kesehatan, pesan kunci yang mempengaruhi dampak pandemic. Semua komponen saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan, ESFT hanya salah satu bagian dari respon pandemic secara keseluruhan.

Pada sesi diskusi dimulai dengan tanggapan dari dr suwanta, bahwa PERSI membantu rumah sakit, berharap ESFT bisa dirasakan oleh daerah. Diisikan data yang berasal dari daerah. Apalagi dilakukan di daerah yang berisiko. Kepala daerah bisa mempunyai gambaran kebutuhan untuk penangann. Juga menggunakan metodologi yang punya dasar, Jatim sudah merah, Sulawesi juga sudah merah. Paling tidak ada satu model dari daerah yang memberikan gambaran di daerah, rumah sakit dan FKTP secara tajam merasa didukung menangani pasien COVID-19. paling tidak ESFT dijadikan model daerah melakukannya sebagai exercise. Dr Kuntjoro menambahkan, silakan melakukan kolaborasi untuk melakukan Langkah selanjutnya dari masukan masukan yang telah diberikan.  Apabila ESFT di share dampaknya seperti apa untuk daerah harus di sampaikam juga.

Pertanyaan datang dari dr Ricardo, bagaimana dengan ketersediaan rapid test, mengapa sekarang menjurus pada rumah sakit swasta, apakah diperbolehkan? Dan dalam situasi pandemi apakah rapid test tidak gratis? dr Kuntjoro menyatakan bahwa PERSI akan bersikap, menjawab apa yang terjadi. Mengiklankan dengan ada nilai uang melanggar etis, cukup mecantumkan penyediaan rapid test. Ada persaingan harga wajar, kalau memasarkan jangan ditampilkan nilai rupiahnya.

Dr Endang berkomentar, untuk ke depan PERSI menginisiasi training daerah untuk mengikutsertakan dinkes provinsi. Sehingga apabila dinkes sudah dapat memprediksi kebutuhan, dimasukkan ke rencana respon bisa diidentifikasi sumber dayanya. Rumah sakit yang ada bisa mendapatkan sumber daya yang ada. Abdul choliq menegaskan bahwa ada dukukang dari WHO apabila ESFT dilakukan ke daerah.

Pungkas menambahkan, ke depan akan minta masukkan dari PERSI, agenda Bappenas kedepan termasuk peningkatan jejaring laboratorium. Mendukung daerah bisa memanfaatkan ESFT, karena bisa mengestimasi kebutuhan perminggunya. Abdul Choliq menegaskan apabila segera membuat langkah berikutnya, bisa membuat perencanaan  apakah sampling terlebih dulu dan bisa di replikasi bentuk yang lebih baik.

Dr Suwanta mengatakan bahwa akan memprioritaskan zona merah, cenderung menjadi merah dan remote area/ daerah terpencil misalnya Maluku kececnderungan merah, diamati juga berisiko. Akan ditindaklanjuti daerah mana yang akan didahulukan pada awal. Ifrad menambahkan bahwa rencana replikasi ke daerah ada baiknya bersamaan dengan yang dilakukan Prof Laksono, identifikasi sumber pendanaan. Isu saat ini bukan ketidakcukupan dana, namun juga permasalahan mobilisasi kebutuhan yang diperlukan. Endang mengatakan, akan berkaitan dengan rencana respon per provinsi, tidak hanya memperkenalkan ESFT. Bisa bekerja sama dengan Kemenkes. Bisa dilakukan perkenalan ESFT, sehingga bisa dilakukan pengumpulan data.

Pada akhir diskusi, dr Suwanta menyampaikan bahwa siap untuk melaksanakan, jika memang akan mempercepat akan segera dilakukan. Kemungkinan akan diprogramkan setelah lebaran. Akan meminta masukkan dari Bappenas dan WHO. Dan Prof laksono menambahkan bagaimana membawa hal ini ke mikro rumah sakit.

Materi Kegiatan ini silahkan kunjungi: https://www.persi.or.id/

Reporter: Husniawan P/ PKMK

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments