Reportase Webinar PEMETAAN KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL MASA PANDEMI COVID-19

Klinisi Primer Klinisi Rujukan Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan Tenaga Pencegahan

Yogya – PKMK FK – KMK UGM bekerjasama dengan Center for Economic Development Study (CEDS) FE UNPAD dan Prodi Magister IKM FK UNPAD menggelar diskusi webinar yang membahas tentang psikososial pada masa pandemi COVID-19 pada Kamis (30/04/2020). Diskusi tersebut merupakan rangkaian best practice webinar yang ketiga. Adapun pemateri dari diskusi yaitu Dr. Diana Setiawati P, MHsc.Psy dari Center for Public Mental Health Fakultas Psikologi UGM dan pembahas Dr. Deni K Sunjaya, dr, DESS.

Pada awal diskusi, Dr. Diana Setiawati P mendapatkan kesempatan untuk menjadi narasumber pertama yang menyampaikan hasil analisis pemetaan kebutuhan psikososial pada masa pandemi berdasarkan beberapa hal yang telah dilakukan sebagai Center for Public Mental. “Dalam tujuh minggu pandemi telah dilakukan kegiatan mitigasi dan pemberian support psikososial,” ujar Dr. Diana Setiawati P.

Gambar 1. Kegiatan Mitigasi dan Tema Pertanyaan

Kegiatan tersebut terdiri atas tiga seperti: 1) online sharing session bersama pakar; 2) webinar dengan international expert; dan 3) call centre psikososial UGM. Saat pelaksanaan diskusi interaktif yang telah dilaksanakan oleh Center for Public Mental terdapat beberapa tema pertanyaan dari peserta yang merasa bingung maupun gelisah. Tema pertanyaan yang muncul salah satunya adalah mengenai “agar teguh pendirian” dimana peserta bingung untuk bersikap atau mengambil keputusan (seperti: pasangan suami istri yang berada di daerah terpisah dan dilema untuk mengambil keputusan dalam hal menyusul pasangan). Ada pula pertanyaan dengan tema “cara tetap produktif” ketika masa pandemi yang tidak dapat membuat seseorang untuk beraktivitas banyak di luar rumah. Beberapa tema pertanyaan lainnya mengenai dampak stres, dampak kesehatan mental, deteksi dini apakah saya masih normal, dilema kerja, edukasi, filter informasi, dan lainnya. Tema pertanyaan tersebut berasal dari online sharing session yang diselenggarakan Center for Public Mental.

Sementara itu, diskusi bersama international expert diselenggarakan bersama salah satu guru besar dari Amerika dengan tema Family Strength & Crisis Situation. Peserta yang hadir berasalkan dari BKKBN, LIPI Peneliti Keluarga, pemerintah daerah, dosen, mahasiswa dan umum. Dalam diskusi tersebut menyediakan survei pada para peserta secara online yang menggambarkan bahwa Work from Home dan School from Home memberikan tekanan cukup besar saat masa pandemi sehingga menjadi sumber stres. Tema pertanyaan dalam diskusi international expert mengenai toxic family, work from home, school from home, hubungan anak dan orang tua, ketahanan keluarga, konflik keluarga, perkembangan anak, merawat lansia dan lainnya. Sedangkan kegiatan call center dilakukan bersama HPU bersama Center for Public Mental dengan menyediakan case manager untuk menjadi rujukan berjenjangnya.

Dr. Diana Setiawati P menjelaskan bahwa tahapan dari call center dimulai dari publik menghubungi relawan dan case manager akan mempertimbangkan apakah perlu psikolog, psikiater atau peer konselor. Keberadaan call center telah banyak dimanfaatkan oleh publik, tetapi tidak seluruhnya membutuhkan psikolog dan psikiater melainkan hanya perlu untuk didengarkan, social support, bantuan ekonomi, maupun fasilitas belajar yang menimbulkan kecemasan.

Tidak berhenti pada tiga kegiatan, Center for Public Mental juga melakukan systematic review untuk menjawab beberapa pertanyaan penelitian seperti, apa dampak pandemi COVID-19 pada kesehatan mental? Apa reaksi psikologikal pada situasi pandemi? Siapa kelompok rentan? Hasil systematic review menjelaskan bahwa isolasi merupakan hal yang tidak natural sehingga memberikan konsekuensi psikologis sehingga meningkatkan mental disorder jangka panjang, kecemasan, deprsesi, dan PTSD. Gejala umum yang dapat dilihat seperti stres, cemas, insomnia, denial, anger, dan ketakutan. Untuk mahasiwa, protektif dari kecemasan adalah untuk mereka yang berada di kota karena memiliki fasilitas memadai, berada dengan keluarga, dan memiliki keluarga dengan pendapatan yang stabil.

“Masalah psikologi saat masa pandemi juga mempengaruhi pasien COVID-19,” jelas Dr. Diana Setiawati P. Reaksi psikologi yang muncul pada pasien adalah ketakutan akan adanya kematian dan PTSD. Selain pasien, reaksi psikologis juga memberikan risiko pada keluarga pasien yang kehilangan seperti depresi dan rasa kehilangan mendalam. Panjangnya masa pandemi ini akan memberikan reaksi psikologis yang membuat seseorang dapat bertindak irasional seperti memakai ramuan tertentu atau ritual tradisional yang tidak efektif. Namun, reaksi psikologis saat masa pandemi dapat sembuh atau menjadi resisten sehingga menjadi tantangan dalam sistem kesehatan mental.

Dr. Diana Setiawati P menjelaskan terdapat dua golongan ekstrim di masyarakat, yaitu: 1) high health anxiety, dimana menerapkan protokol kesehatan melebih anjuran sehingga rentan untuk mengalami sickness behavior seperti mual fatigue, gangguan tidur, mudah lupa dan lainnya; dan 2) low health anxiety, beberapa orang yang tidak memperdulikan dan tidak patuh kepada protokol kesehatan. Kelompok low health anxiety sering kali merasa tidak berisiko untuk terinfeksi COVID-19. Berdasarkan dari systematic review menemukan bahwa kelompok rentan dari psikososial adalah tenaga kesehatan, perempuan, lansia, ODGJ, orang dengan komorbiditas penyakit, orang dengan kesulitan pemenuhan kebutuhan dasar, dan orang kepribadian tertentu. Selain itu, kelompok rentan risiko psikososial juga adalah orang dengan gaya pencarian informasi yang ekstrim seperti: 1) monitoring yaitu orang yang mengumpulkan informasi secara terus menerus dan terus waspada akan informasi mengancam sehingga memiliki risiko kecemasan yang tinggi; dan 2) blunting yaitu orang yang melakukan distraksi dan menjauhi informasi yang mengancam sehingga berisiko untuk melawan hal penting untuk kesehatannya.

Gambar 2. Fase Individu dan Masyarakat pada Masa Bencana (Pandemi).

Pada akhir sesi, Dr. Diana Setiawati P menjelaskan prediksi dari hasil seluruh systematic review “bila dilihat dari psikologi bencana, saat ini kita berada di tingkat setelah terdampak terdapat heroism yaitu ada orang yang membuat masker, membagi sembako, gotong royong dan sebagainya. Ini jika tidak terpenuhi bisa menimbulkan penurunan emosional yang tajam atau disillusion seperti kekerasan, anarki, beban emosional meninggi karena ketidakpastian. Kita sebenarnya mengantisipasi yang lebih buruk pada saat ini.” Maka kebutuhan psikososial berada pada pemenuhan fisik yang berkaitan dengan ekonomi, safety dan support effection.

Pada sesi selanjutnya, terdapat pembahas yaitu dari Dr. Siwi Padmawati, Dr. Deni K Sunyajaya dan dr. Ronny Tri Wirasto. Pembahasan pertama berasal dari Dr. Siwi yang menyampaikan bahwa pemaparan dari Dr. Diana Setiawati P telah dapat memberikan gambaran atau pemetaan mengenai masalah yang psikologis yang terjadi dalam tujuh minggu masa pandemi COVID-19. “Jika ini terus berlanjut, keadaannya bisa semakin buruk. Seperti beberapa tempat ditemukan ada kecenderungan hingga untuk bunuh diri. Lalu, dari hasil pemetaan perlu dilihat pula bagaimana implikasi praktis berdasarkan peran masing – masing? Agar dapat mengantisipasi kejadian lebih buruknya. Pertanyaan berikutnya jika sudah ada implikasi praktis dari peran dinas kesehatan dan lainnya adalah bagaimana manajemennya? Karena psikososial tidak banyak menjadi perhatian dan prioritas,” ujar Dr. Siwi untuk memantik awal diskusi.

Selain itu juga ada pembahas dari Dr. Deny K Sunjaya yang menyampaikan bahwa saat pandemi masalah tidak hanya dari penyakit dari COVID-19, tetapi ada masalah yang menonjol lainnya seperti ekonomi, sosial dan perilaku. Masalah tersebut menimbulkan suatu kepanikan yang tidak dapat membuat seseorang berpikir secara jernih dan tenang. Keberadaan pandemi COVID-19 ini di jelaskan oleh Dr. Deny K Sunjaya telah mengganggu program kesehatan lainnya yang masih membutuhkan penanganan seperti, masalah stunting, kematian ibu, dan sebagainya. Maka, dibutuhkan suatu pergerakan untuk menangani psikososial sebagaimana yang telah dilakukan Dr. Diana Setiawati P.

Akan tetapi, hasil dari analisis Dr. Diana Setiawati P menurut Dr. Deny K Sunjaya perlu dikaitkan secara langsung dengan kondisi masyarakat di Indonesia. Terdapat aspek yang menurut Dr. Deny K Sunjaya masih kurang dalam persoalan psikososial yaitu aspek agama. Masalah psikososial lainnya saat ini juga mengenai kepercayaan di mana berkurangnya kepercayaan masyarakat dengan pemerintah dan kepercayaan antar masyarakat. Dr. Deny K Sunjaya mengungkapkan untuk pandemi dengan physical distancing saat ini membutuhkan tools untuk menangani psikososial untuk konfirmasi kasus. Saat ini, tools yang tersedia berada di kluster tertentu seperti UI, UGM dan UNPAD sementara Indonesia memiliki cakupan wilayah yang luas dan tenaga psikiater atau psikologi tidak tersedia secara merata. Untuk itu, Dr. Deny K Sunjaya merekomendasikan kepada Dr. Diana dan Dr. Ronny untuk memberikan pelatihan kepada tenaga yang berada di primary care atau puskesmas agar dapat memberikan pelayanan yang berkaitan dengan masalah psikososial.

Selanjutnya pembahasan ketiga adalah dr. Roni yang menyampaikan saat ini masyarakat umum, tenaga medis, dan pasien terdapat ketumpulan mental yang dapat mempengaruhi tingkat emosi seseorang. Merujuk materi Dr. Diana pada bagian akhir, dr. Roni berpendapat bahwa saat ini Indonesia berada dalam fase honey moon setelah melewati fase heroik. Pada masa fase honey moon diharapkan tidak turun ke fase yang lebih buruk.

Setelah pemateri dan tiga pembahas memberikan penjelasan selanjutnya adalah sesi tanya jawab untuk peserta webinar. Terdapat beberapa pertanyaan yang hadir melalui kolom pesan dan interaksi langsung melalui lisan. Salah satu pertanyaan dari peserta adalah mengenai kebutuhan pelayanan psikologis di tengah pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak memiliki kesadaran perhatian mengenai isu kesehatan jiwa, tetapi lebih fokus kepada APD, pelayanan ISPA, non ISPA dan ibu hamil. Pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh Dr. Diana yang memberikan tanggapan bahwa yang dapat dilakukan adalah advokasi dan perlu memahami pelayanan yang menjadi prioritas pimpinan saat ini bukan merupakan hal yang salah karena hal tersebut juga merupakan tindakan untuk menangani masalah pandemi. Rendahnya kesadaran akan kesehatan jiwa dan selfcare juga disebabkan oleh masih terbatasnya pelatihan mengenai hal tersebut pada tenaga kesehatan. Tanggapan lainnya dari Dr. Ronny yang menyampaikan bahwa di fasilitas layanan kesehatan saat ini sedang mengupayakan telemedicine melalui kerja sama antar layanan kesehatan untuk memenuhi pelayanan kesehatan jiwa dengan media.

Informasi lebih lanjut mengenai diskusi dapat mengakses video dan materi disini.

Reporter: Tri Muhartini/ PKMK

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments