Reportase Workshop Online Angkatan IV Aktivasi Hospital Disaster Plan Berbasis Incident Command System Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

Reportase Workshop Online
Angkatan IV

AKTIVASI HOSPITAL DISASTER PLAN BERBASIS INCIDENT COMMAND SYSTEM
DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19

 Diselenggarakan oleh Badan PPSDM Kesehatan, Kementerian Kesehatan berkerjasama dengan
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM

Jum’at, 15 Mei 2020


Memasuki hari terakhir pertemuan minggu pertama pada workshop online tahap Aktivasi Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command System dalam Menghadapi Pandemi COVID-19  ‘Presentasi dan Evaluasi’ menghadirkan Narasumber yaitu dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD(K)BD dan dr. Bella Donna, M.Kes dengan moderator Madelina Ariani SKM,MPH.

Tujuan sesi ini untuk melihat penerapan aktivasi HDP berbasis ICS untuk menghadapi COVID-19 dan lebih ditekankan pada bagaimana alur komunikasi, skenario daerah dalam menghadapi COVID-19 dan perencanaan rumah sakit untuk COVID-19. Ada beberapa RS yang mempresentasikan penugasan tersebut, diantaranya :

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung:

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung memiliki alur komunikasi rujukan dengan menggunakan Sarana komunikasi rujukan yaitu SISRUTE dan WA Grup PIE Lampung yang dibentuk oleh Dinas Kesehatan Provinsi yang digunakan untuk berkoordinasi dengan dinas Kkesehatan dan RS di seluruh Lampung. Sedangkan sarana komunikasi internal RS dengan menggunakan telepon, WA Grup Satgas COVID-19 RS dan phone. Adapun skenario daerah dalam menghadapi covid 19 antara lain kemenkes sudah menetapkan 4 RS rujukan COVID-19  termasuk salah satunya RS Dr. H. Abdul Moeloek. Gubernur menetapkan 26 RS lainnya sebagai RS penyangga rujukan dan membentuk Satgas COVID-19 Provinsi sampai dengan tingkat desa yang diketuai oleh Gubernur.  RS bandar Negara Husada ditetapkan sebagai RS Darurat COVID-19. RS sudah menyusun perencanaan untuk menetapkan tim satgas COVID-19, menginventarisasi sumber daya yang ada dan melakukan simulasi penanganan COVID-19 bekerjasama dengan dinas kesehatan provinsi dan KKP. Dalam penyusunan rencana contigensi RS menetapkan zonasi /peta resiko, mempersiapkan ruang isolasi tekanan negatif, menyiapkan ruang isolasi tambahan dengan menyatukan beberapa ruangan tidak menular ke dalam zona hijau, menetapkan 6 ruang isolasi  dengan total 39 tempat tidur, mengurangi jam pelayanan instalasi rawat jalan, membuat ruang pelayanan COVID-19 terpadu di gedung tersendiri, mempersiapkan kamar operasi khusus COVID-19, mempersiapkan penunjang diagnostik, melengkapi alat – alat kedokteran, melengkapi APD dan penyusunan SOP.

RSI Jakarta Cempaka Putih

RSI Jakarta Cempaka Putih memiliki Tim Penanggulangan COVID-19 yang sudah dibentuk 5 Maret 2020 melalui WAG dan kemudian disahkan 17 Maret 2020. Sarana komunikasi rujukan pasien COVID-19 menggunakan SISRUTE, SPGDT IGD, grup manajemen, WAG tiap pavilion dan penunjang.  Sedangkan alur komunikasi merujuk pasien COVID-19 :

  • Pasien dikaji DPJP
  • Membuat data lengkap dan kirim data via WA Wisma Atlit
  • Melapor data pasien dengan petugas di RS yang akan dirujuk
  • Pasien yang dikirim dengan perbaikan tidak terpasang alat bantu pernapasan apapun, didaftarakan untuk ambulans dengan dilengkapi data KTP, tinggi badan dan berat badan
  • Untuk form PE ada di IGD jika ada yang positif maka dilaporkan ke dokter spesialis paru.

RSUD Tarakan Jakarta:

Alur komunikasi di RSUD Tarakan Jakarta dibagi menjadi alur komunikasi internal dan eksternal.  Alur komunikasi internal menggunakan telpon, handy talkie, WAG dan video conference, sedangkan untuk rujukan eksternal menggunakan Dashboard DKI Tanggap COVID-19, RS Online, Gugus Tugas, Telepon,  SPGDT, Handy Talkie,  Video Conference, dan SISRUTE. Skenario daerah dalam menghadapi COVID-19 dengan penunjukan 11 RS sebagai RS Rujukan, Berlakunya PSBB dan Pembentukan Satgas COVID-19. Perencanaan RS menghadapi Covid-19 adalah (a) Kebijakan : pembentukan SK Gubernur tentang RSUD Tarakan menjadi RS Rujukan, pembuatan SK Penanggulangan Emerging Dissease; (b)  Persiapan : fasilitas, SOP, Alur dan panduan klinik COVID-19, telemedicine untuk pasien rawat jalan, Persiapan lab PCR di RSUD Tarakan; (c) Pemetaan : tenaga SDM dan penambahan tenaga kesehatan atau relawan, kebutuhan APD, swab, rapid test dan logistic lain; dan (d) Networking : kerjasama pemeriksaan PCR, koordinasi dengan lintas sektor.

RSUD Ungaran:

Alur komunikasi menggunakan WAG untuk komunikasi internal, menggunakan jaringan telepon seluler maupun telepon lokal untuk komunikasi antar RS maupun lintas sectoral. Dalam rujukan pasien RS menggunakan SISRUTE PDP. Alat komunikasi lainnya adalah walkie talkie dalam kondisi kekhusususan didalam RS.  Untuk pelaporan setiap pukul 16.00 WIB secara online dengan sistem yang sudah dibuat oleh dinas kesehatan. Skenario daerah dalam menghadapi COVID-19 antara lain menunda dan/ atau membatasi kegiatan yang menghadirkan banyak orang pada tempat – tempat umum. Daerah juga sudah membentuk posko informasi di masing – masing instansi dan membuat layanan pengaduan dan penanganan COVID-19 dengan menghubungi Tim Gerak Cepat Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang. Kebijakan lainnya adalah siswa sekolah belajar di rumah dan masyarakat diminta untuk menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

RSUD Undata:

Alur komunikasi di RSUD Undata  terdiri dari alur komunikasi eksternal dan alur komunikasi internal. Alur komunikasi eksternal antara lain grup WA (tim Covid-19 dinas kesehatan provinsi dan rumah sakit), telepon (jalur telepon PSC untuk rujukan dalam kota), SISRUTE (alur rujukan antar kab/kota). Sedangkan alur komunikasi internal antara lain Grup WA (tim COVID-19 RS dan direksi), intercom internal RS, HT. Skenario daerah dalam menghadapi COVID-19 adalah dengan mengeluarkan berbagai kebijakan yaitu SE tentang Pencegahan dan antisipasi penyebaran COVID-19, SE tentang Penyesuaian Sistem Kerja ASN , Surat Instruksi kepada Bupati dan Walikota untuk mengambil Langkah strategis, Surat Keputusan tentang Penyiapan Gedung Cadangan untuk Penanganan Penderita COVID-19 Menetapkan Pembatasan Pergerakan Arus Barang dan Penumpang dan Menetapkan Surat Keputusan tentang Penetapan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana COVID-19 sampai batas waktu yang belum ditentukan. Perencanaan RS  dalam menghadapi COVID-19 salah satunya adalah dengan mengurangi kunjungan pasien. RS juga sedang melengkapi ketersediaan APD dan menambah kapasitas ruang isolasi. Hal lain yang menjadi perhatian RS dengan menyiapkan pelayanan satu atap/ Gedung terintegrasi untuk perawatan isolasi COVID-19 (IGD, klinik, ICU, dan ruang perawatan) serta mobilisasi dan menambah prasarana untuk pelayanan COVID-19  (ventilator, mobile x-ray, hepafilter)

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Presentasi Hasil Penugasan dari RSUD Ungaran”

RSU SIS Aldjufrie Palu :

Alur komunikasi di RS Sis Aldjufrie Palu terbagi menjadi 3 fase kasus yaitu  (a)Pra Kasus : penyiapan tim Satgas COVID-19, Penyiapan materi komunikasi , sosialisasi di seluruh unit terkait, stakeholder communications; (b) Kasus : Persiapan tenaga tim skrining, update data Rajal / ranap,Penyiapan bahan data untuk pelaporan, penyiapan fasilitas media; dan (c) Pasca kasus : Pemberian edukasi kepada pasien, memberikan pemahaman dan membangun kepercayaan publik terhadap pelayanan RS, membuat sarana informasi dengan menggunakan social media. Dalam kegiatan perencanaan RS meningkatkan ketersediaan APD, sarana dan prasarana dalam menghadapi COVID-19. Alur peta skrining sudah dibuat dan bidang logistik memastikan kebutuhan logistik terpenuhi. RS juga mengurangi / membatasi jam besuk pasien. Sementara untuk keselamatan tenaga kesehatan RS melakukan pemantauan absensi pegawai / nakes yang tidak hadir dan melakukan sosialisasi resiko penularan infeksi Covid-19 beserta upaya pencegahan dan pengendalian unit kerja masing-masing. Semua kegiatan yang dilakukan di RS berkoordinasi dengan dinkes kota/ provinsi dan instansi Kesehatan lainnya.

RSNU Banyuwangi:

Skenario daerah dalam menghadapi COVID-19 berdasarkan SE Bupati Banyuwangi berupa pembatasan kegiatan. Pemda menunjuk 1 RS Rujukan dan mempersiapkan 5 RS Rujukan bila terjadi lonjakan pasien covid dan menyediakan ruang isolasi mandiri bagi pemudik. Sama dengan daerah lainnya Pemda juga menghimbau untuk stay at home, CTPS dan memakai masker. Untuk RS sendiri, dalam perencanaan RS melakukan pembatasan jumlah pasien poli, penambahan ruang isolasi, melakukan pelayanan rapid test dan memaksimalkan penggunaan APD. Dalam penanganan rujukan pasien RS berkooordinasi dengan RS Rujukan, Dinkes dan gugus tugas daerah. RS juga telah membuat alur tersendiri bagi pasien curiga COVID-19

Dari hasil pemaparan rumah sakit di atas narasumber memaparkan beberapa hal sebagai feedback dari penugasan RS. ICS itu merupakan model tetapi aplikasinya didaerah boleh berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi RS. HDP harus tetap ada dan terdokumentasi, apabila terjadi bencana maka tim dapat berubah-ubah. Proses kegiatan dapat dilanjut berdasarkan skenario dengan memberi ruang jika terjadi adanya  perubahan/perkembangan dan dengan dilakukan  komunikasi yang kontinyu antara unit-unit kerja bisa melalui WhatsApp, dan sebagainya. Saat ini kegiatan difokuskan terlebih dahulu untuk penanganan COVID-19 dan yang terpenting mencatat semua kegiatan yang dilakukan sehingga nantinya itu yang akan menjadi panduan. Semua RS , IGD harus tetap melakukan protokol – protokol sesuai alur. Memisahkan antara IGD umum dan IGD COVID-19.Sebaiknya setiap RS memahami dan melakukan sendiri proses dekontaminasi ambulans setelah mengantar pasien COVID-19 ataupun jenazah.

Kegiatan workshop diakhiri oleh moderator dengan menjelaskan kegiatan workshop untuk minggu kedua yaitu Komunikasi dalam Incident Command System (ICS) Penanganan COVID-19 di rumah sakit.

Materi dan Video rekaman Silahkan KLIK DISINI

Reporter:

  1. Indrawati Wurdianing
  2. Ajeng Choirin

Bapelkes Semarang

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments