Reportase Webinar “Genetics Diversity And Evolution Of Sars-Cov-2: Its Implication To The Management Of Covid-19”

Klinisi Primer Klinisi Rujukan Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan Tenaga Pencegahan

Jumat, 15 Mei 2020 – Webinar ini membahas tentang keberagaman genetik dan evolusi dari SAR-CoV-2 serta implikasinya terhadap manajemen COVID-19. Sesi dimoderatori oleh Ni Luh Putu Eka Putri Andayani, SKM MKes dan yang menjadi narasumber adalah Prof. Tri Wibawa. Narasumber mengawali materi dengan menunjukkan data bahwa tercatat 4.438.371 orang yang terkonfirmasi positif di dunia dengan 302.115 jiwa kematian. Ini menunjukkan masalah serius secara global.

Pada awal yang diumumkan pemerintah tentang adanya virus baru ini dengan sebutan novel coronavirus  (2019-nCoV) pada Desember 2019, kemudian per Februari 2020 dideklarasikan oleh WHO menjadi  COVID-19. Coronavirus memiliki 4 general yaitu Alphacoronavirus, betacoronavirus, gammacoronavirus dan delta coronavirus. Dimana yang menginfeksi manusia diantaranya adalah alphacoronavirus, SARS-CoV, MERS-CoV, dan 2019-nCoV. Bicara tentang SARS-CoV-2, orang sudah paham bahwa ini adalah infeksi zoonosis dimana infeksi penularan berasal dari hewal kepada manusia. Virus corona ini sudah berkembang menjadi virus manusia artinya bisa tertular antar manusia. Disebut coronavirus karena terdiri dari protein yaitu spike glycoprotein trimer (S), nucleoprotein (N), membrane protein (M) dan envelope small membrane protein (E). SARS-CoV-2 ini berdekatan clade betacoronavirus seperti SARS-CoV dan MERS-CoV.

Evolusi virus membutuhkan perubahan genetik secara secara gradual. Keragaman genetik dan evolusi ini disebabkan oleh mutasi dan rekombinasi. Mutasi yang dimaksud adalah perubahan genom virus secara random pada saat mengalami replikasi atau pembelahan. Efek dari rekomendasi jauh lebih besar dibandingkan efek dari mutasi. Mutasi  SAR-CoV-2 ini tidak terlalu cepat, meskipun demikian perubahan ini akan terakumulasi sejak dari inang awal. Kemungkinan akibat dari proses mutasi ini, kadang – kadang ditemui dalam satu pasien pasien terdapat lebih dari 1 varian virus.  Pada prinsipnya data keberagaman SAR-CoV-2 bisa digunakan sebagai referenai oleh pembuat kebijakan yang memiliki tanggung jawab untuk pencegahan.

Keberagaman genetik SAR-CoV-2  juga berimplikasi terhadap beberapa hal yaitu terhadap diagnosis laboratorium, pengembangan vaksin, virulensi dan transmisi serta manifistasi klinik. Implikasinya untuk diagnosis laboratorium berimbas pada nucleotide amplifivation dan serologi. Serologi melihat respon imun dari orang terkena terhadap virus. Implikasi ke pengembangan vaksis mengakibatkan perubahan imunogeniknya karena akan ada perubahan antigenik, perubahan conformational, perubahan imunitas humoral cellular. Sementara dalam pengembangan vaksin membutuhkan genetik virus yang stabil, artinya keberagaman genetik SAR-CoV-2  signifikan berimplikasi terhadap vaksin.

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Diskusi”

Diskusi :

  1. Saefudin Ahmad : bertanya mengenai perlombaan vaksin dalam rangka penanganan COVID-19, apakah akan bermanfaat untuk Indonesia jika vaksin ditemukan oleh China atau Amerika karena strain Indonesia versi OTD UNAIR dan EIJKMAN Jakarta berbeda. Bagaimana dengan trasnmisi di Jogja apakah sudah dilakukan sequencing oleh FK-KMK UGM?
  • Narasumber : transmisi lokal di Yogya belum berhasil disekuensi, mudah-mudahn dalam waktu dekat muncul hasilnya. Tentang perlombahan vaksin, melihat mutasinya tidak terlalu besar, yang sudah men – develop vaksin berdasarkan strain “S” harus waspada, jika ingin men – develop vaksin S jangan di daerah itu tapi bisa berdekatan. Jika vaksin berasal dari luar negeri mungkin jatah untuk Indonesia tidak akan cukup, karena bagaimanpun juga produksi vaksin di luar negeri akan mendahulukan kebutuhan negara mereka.
  1. Lestari Octavia : Strain yang dianalisis di EIJKMAN Jakarta jika tidak termasuk varian S, G dan V bagaimana dengan mutasinya? Perubahan di tingkat asam aminonya bagaimana?
  • Narasumber : harus berhati – hati menyikapi varian S,G, dan V. Yang dilakukan di tingkat asam animo yaitu untuk mendapatkan varian S, G dan V tersebut. Virus ini tidak bisa hidup di temperature yang tinggi. Selama belum ada bukti yang akumulatif dari sisi biomediknya, virulensinya, harus berhati – hati.
  1. Bagaimana dengan terapi plasma convalecent?
  • Narasumber : terapi plasma convalescent ini masih pro kontra, dan masing – masing pro kontra memiliki referensi yang kuat juga. Pihak pro menyatakan bahwa jika seseorang sudah mengalami infeksi diharapkan memiliki antibodi yang mampu menetralisasi virus. Sementara pihak kontra melihat dari aspek keselamatan sehingga belakangan ini orang meminimalisir memberikan transfusi. Ada lagi orang berpendapat hal itu sudah pernah dilakukan pada wabah virus lain seperti ebola, ternyata disimpulkan tidak ada perubahan yang signifikan pada antibodi pasien yang terkena ebola. Kemudian yang penting skemanya adalah penelitian dulu, jangan langsung dicobakan menjadi terapi pada pasien.
  1. Saefudin Ahmad : pertanyaan berikutnya bahwa dengan alasan mitigasi muncul pandemi Spanyol 1918, para ahli virus melakukan rekayasa dengan mengaktifkan Kembali virus flu spanyol di laboratorium maka muncullah pandemi H5N1.
  • Narasumber : ini juga masih pro kontra. Ini tergantung tujuannya apa. Tidak salah kalau seseorang ilmuwan melakukan rekayasa genetika virus. Yang paling ditekankan adalah security – nya, tidak bisa memberikan ijin kepada laboratorium yang tidak menerapkan baik security– nya, tidak ada SOP untuk membatasi akses. Rekayasa ini masih diperkenankan, tujuannya bukan hanya untuk knowledge namun harus didasari pada kepentingan keselamatan manusia. Dalam hal ini penting regulasi tentang security yang tinggi kepada laboratorium- laboratorium yang akan melakukan itu.
  1. Irene Agustiningtyas : terkait hal yang disampaikan oleh Prof tadi, bagaimana peluang antara membuat vaksin atau antivirus yang bisa diandalkan dalam keadaan seperti ini?
  • Narasumber : peluangnya adalah dua – duanya harus jalan. Obat – obat lainnya yang bisa menyembuhkan orang sakit juga perlu untuk dikembangkan. Peluang vaksin ini sama – sama pentingnya, tidak mudah membuat vaksin tergantung pada pemanfaatan resources Jika dipadukan akan lebih cepat.
  1. Dwiki Prasetya : jika vaksin coronavirus bisa ditemukan, bagaimana dengan vaksin – vaksin untuk coronavirus sebelumnya seperti MERS dan SARS, apakah sudah pernah ditemukan dan efektif?
  • MERS dan SARS sudah pernah ada vaksinnya, jika kasusnya sudah habis. Namun vaksin ini belum bisa dipasarkan langsung ke masyarakat secara bebas.

Sebagai penutup diskusi ini dari pertanyaan peserta narasumber menyampaikan sudah  saatnya untuk memikirkan biosecurity yang kuat kepada laboratorium. Biosecurity di Indonesia baru muncul akhir – akhir ini dan dilakukan oleh TNI dan BIN. Jika Lembaga penelitian tidak diberikan biosecurity bisa jadi makan laboratorium rentan tidak aware. Apalagi pasca corona ini, misalnya ada 190 laboratorium memeriksa dan tidak didampingi maka akan terjadi letupan – letupan kecil.

Materi silahkan KLIK DISINI

Reporter : Happy R Pangaribuan (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments