Reportase Webinar RATIONAL THINKING IN SCIENCE

Klinisi Primer Klinisi Rujukan Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan Tenaga Pencegahan

Webinar Bioetika yang berjudul “Rational Thinking in Science” diadakan atas kolaborasi FGD IBF Chapter 15 dengan PKMK FKKMK UGM telah diselenggarakan pada tanggal 6 Mei 2020. Materi disampaikan oleh narasumber tunggal yaitu Prof. Dr. dr. Djohansjah Marzoeki,Sp.BP dan moderator oleh Dr. Peter Johannes Manoppo MBIO.

Dalam paparannya, Prof Djohan mengungkapkan bahwa ada begitu banyak orang yang tidak mengikuti anjuran dari pemerintah terkait dengan penyebaran COVIDd-19. Terbukti dengan masih banyak orang yang berkumpul dimana – mana dan diijinkan oleh kepala daerah setempat, misalnya di Bengkulu,  Aceh, Baubau,  Gowa, dan ada yang bertindak semaunya sendiri seperti yang terjadi di Tulungagung. Hal seperti ini juga terjadi di luar negeri, seperti di India, Malaysia, dan bahkan terjadi pula di Amerika Serikat. Hal ini berlangsungkarena minimnya ilmu pengetahuan dan adanya dominasi pola pikir yang tidak rasional. Untuk meningkatkan daya reaksi masyarakat terhadap isu, maka diperlukan ilmu, cara berpikir ilmiah, dan etika dalam ilmu. Penyakit COVID-19 ini adalah masalah ilmu dan masalah berpikir secara rasional.

Ilmu (science) adalah suatu bidang studi atau pengetahuan yang sistematik untuk menerangkan suatu fenomena dengan acuan materi dan fisiknya dan dapat dibuktikan kebenarannya. Sedangkan pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang diketahui, bisa apa saja tanpa syarat tertentu, bisa berupa ilmu atau bukan. Ilmu adalah salah satu pengetahuan, sedangkan pengetahuan belum tentu berupa ilmu. Ada  2 macam ilmu yaitu natural science (ilmu fisika, biologi, kimia, astronomi, geologi, matematika) dan social science yang mempelajatri perilaku manusia (ekonomi, psikologi, antropologi, hukum, dan lain – lain). Social science bersifat kurang memiliki Batasan-batasan yang jelas dan kurang memprediksi secara akurat, sehingga disebut sebagai pseudoscience.

Prof Djohan juga menyampaikan bahwa kebenaran ilmiah adalah fokus dari semua kegiatan ilmiah. Pembuktian dilakukan dengan memakai data dengan alat ukur yang valid dari hasil pengamatan di lapangan atau eksperimen. Pembuktian dalam ilmu natural terkait dengan sebab akibat yang harus konsisten dan repeatable (reproducible). Pembuktian kebenaran harus mencapai suatu level yaitu beyond reasonable doubt (BYD). Prof Djohan memberikan gambaran tentang jumlah pengulangan kebenaran melalui pernyataan Einstein “tidak ada jumlah eksperimen yang bisa mengatakan saya benar (mutlak), tetapi cukup satu eksperimen untuk mengatakan kalau saya salah.” Akibatnya, membuktikan kesalahan lebih mudah dilakukan.

Kebenaran dalam ilmu sosial adalah kesepakatan, bukan pembuktian yang konsisten dan repeatable, berlaku lokal atau wilayah hokum saja, tidak berlaku universal. Alat bukti dalam ilmu sosial misalnya hukum alat bukti berupa UU, aturan yurisprudensi, surat ikatan, perjanjian, sertifikat, ijazah. Terdapat authenticity yaitu hakim, notaris, dan pejabat public dan ada badan yang memutuskan benar atau salah seperti pengadilan, majelis, atau organisasi.

Pola pikir adalah cara yang ditempuh untuk menghasilkan pendapat, dan ada beberapa macam pola pikir yaitu pola pikir rasional (benar/salah, valid/invalid), pola pikir emosional (suka/tidak suka), pola pikir spiritual (wawasan), pola pikir commonsense (karena pengalaman).Berpikir rasional berarti mencari reasoning (mempertanyakan) benar/salah, valid/invalid. Bila benar maka diteruskan (berguna/tidak berguna, efektif/tidak efektif, penting/tidak penting) dan bila salah langsung dibuang. Mencari kebeneran dan berbicara ilmiah itu sama dengan berbicara rasional.

Kebenaran itu harus didukung oleh alat bukti (evidence), bukan karena dukungan banyak orang atau ikut campurnya pejabat. Pemakaian pola pikir rasional adalah untuk masalah ilmu, untuk masalah kepentingan umum agar bisa diterima semua pihak dan menghilangkan kontroversi, untuk maju dan hidup modern. Ilmu itu memihak kebenaran, bukan memihak kepentingan golongan, tidak boleh ada kubu di institusi keilmuan dan institusi publik, Hanya untuk kepentingan kebenaran dan publik, karena kubu di dalam institusi itu merusak institusi.

Menyampaikan pendapat yang rasional harus jelas batasannya, relevan, dan plain. Tidak harus sopan atau hormat tapi plain, tidak pula kurang ajar, tidak mempercantik kata dan tidak memakai kiasan (metaphor). Kemudian untuk mendapatkan pola pikir rasional yang tidak dibawa dari lahir itu kita harus belajar, sbaiknya diajarkan di sekolah, dilatih hingga menjadi pola pikir yang dominan. Jumlah pemimpin yang rasional masih rendah.

Berpikir emosinal adalah Rasa Suka dan tidak suka, Rasa tersinggung, malu, kecewa, benci, marah, sedih, rasa tersanjung,  senang, bahagia , sayang , kasih, bisa terhadap relasi musuh, teman, kolega, keluarga. Berpikir emosional itu lebih banyak untuk masalah pribadi atau kelompok dan dilakukan di ranah pribadi. Dalam ranah professional, lawan bukan berarti musuh, Kita harus bekerja dengan budaya ilmiah dan berpikir rasional dengan memakai sistem, SOP, dan tata tertib. Harus dibedakan pula antara kritik dan menghina. Kritik itu rasional ditujukan kepada  pendapat dan kinerja. Kritik itu berguna dan moralnya baik. Sedangkan Menghina itu emosional ditujukan identitas  orangnya atau pejabatnya. Tidak ada gunanya malah membuat ribut. Moral diragukan atau jelek.

Berpikir spiritual itu wawasan khayalan, cita – cita seperti membuat visi dan misi. Kekaguman dan pemujaan, misalnya agama. Cara berfikir spiritual dapat merangsang,  memotivasi untuk  mendapatkan, menemukan  dan pengembangan sesuatu/ilmu. Bukan untuk pembuktian. Agama adalah bentuk spiritual dengan sifat khusus, karena diyakini benar, sekalipun tanpa pembuktian, suci, dan diimani. Agama masuk dalam ranah spiritual yang tertutup dan ranah kepentingan pribadi. Contoh spiritual yang lain adalah sebagai motivator umum, berada dlm ranah spiritual terbuka dan publik.

Commonsense adalah cara berpikir kira – kira berdasarkan pengalaman, Kadang – kadang benar tetapi sering salah, misalnya Matahari terbit di timur dan tenggelam di barat. Semua orang merasa begitu dan merasa benar, tetapi itu salah karena matahari relatif  tidak bergerak dan yang bergerak adalah bumi. Reporter: Raras (MMR UGM)


Unduh Materi

Video Rekaman

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments