Reportase Webinar Kolaborasi Diagnosis & Penatalaksanaan Covid 19 – Terkini

Klinisi Primer Klinisi Rujukan Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

Mohammad Syahril Mansyur, direktur RSPI Sulianti Saroso bertindak sebagai moderator pada pertemuan jarak jauh dengan tema “Diagnosis dan Penatalaksanaan COVID-19 Terkini”. Pertemuan ini merupakan rangkaian kegiatan webinar rutin dengan isu strategis COVID-19. Pertemuan dilaksanakan pada Kamis, 14 Mei 2020 dengan narasumber Dr.dr. Soedarsono SpP(K) (Kepala Div. Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK Unair _ RSUD Dr. Soepomo) dan  dr. Prasenohadi PhD, SpP(K),KIC (Kepala Respiratory ICU (RICU) RSUP Persahabatan. Pertemuan ini berlangsung melalui webinar dan live youtube.

Pemateri pertama yaitu Soedarsono menyampaikan Tata Laksana Covid 19 untuk pasien rawat jalan dan rawat inap, khususnya implementasi di RSUD Dr Soepomo. Soedarsono mendahuluinya dengan beberapa informasi perjalanan corona virus hingga saat ini. Yakni mulai ditemukan pertama kali di Wuhan, metode penyebaran hingga menjadi pandemi, penularan paling utama melalui droplet, masa penularan, dan media penularannya. Pada masa pengembangannya sendiri terdapat berbagai situasi, mulai dari fase tanpa gejala, ringan (ISPA), sedang (pneumonia), berat (demam dengan gejala ISPA) hingga kritis (ISPA yang akut).

Layanan untuk pasien rawat jalan paling banyak diminati oleh sebagian besar pasien COVID-19, khususnya yang tidak termasuk pada fase berat. Pasien tidak perlu datang berdesakan ke fasyankes dengan APD yang mulai terbatas, selain itu risiko penyebaran dapat dikurangi dimana mengurangi intensitas pertemuan dengan orang lain pada transportasi umum bahkan pasien lainnya di fasilitas kesehatan. Namun, tetap akan dilakukan penilaian sebelumnya untuk memastikan pasien tepat menerima layanan rawat jalan jarak jauh, seperti; tersedianya alat pelindung diri, triase telfon awal, uji COVID-19, serta penilaian risiko keparahan penyakit, durasi gejala, factor lingkungan, dan tempat tinggal.

Tata laksana pasien rawat jalan dan konseling disebutkan terdiri dari kontrol terhadap infeksi, tatalaksana pada gejala yang muncul, tata laksana penyebab gejala yang potensial. pengobatan spesifik untuk pasien COVID-19, serta untuk penyakit penyertanya. Konseling sendiri juga dilakukan pengecekan jika terjadi perburukan gejala. Penyakit penyerta menjadi perhatian khusus diakibatkan kematian paling besar dan berisiko adalah mereka yang memilki penyakit penyerta. Sedangkan bagi mereke yang memiliki perjalanan rawat inap atau di UGD, maka pasien yang dipulangkan akan mendapatkan perawatan di rumah dan akan mendapatkan pengawasan yang ketat.

Pada pasien rawat jalan, tata laksana dilakukan berdasarkan standard  of care pasien pneumonia umumnya, dengan pemberian terapi empiric pneumonia bakteri pada pasien tertentu, pencegahan dan evaluasi dan evaluasi venous thromboembolism, penggunaan non-steoridal anti inflammatoru drugs (NSAIDs). Dalam penanganan di rawat inap, perlu memerhatikan penggunaan obat nebulisasi, glukokotikosteroid, dan obat kronik lain. Hal yang perlu diperhatikan lainnya adalah tipe ruangan, penggunaan APD untuk petugas.

Di lain sisi, Prasenohadi sebagai pemateri kedua menyampaikan materi terkait diagnosis dan penatalaksanaan COVID- 19 di ruang internsif, sebagaimana implementasi di RSUP Persahabatan  Jakarta. Pada bagian ini, pasien yang mendapat perawatan di ruang intensif adalah mereka yang mendapatkan pneumonia berat dan menderita acute respiratory distress syndrome. Pada pasien dengan pneumonia berat, pasien dewasa dan anak-anak memiliki kriteria masing – masing. Sedangkan bagi pasien akut, memerlukan foto laboratorium, penanganan edema, dan oksigenasi.

Adapun terapi suportif awal dan monitoring dengan memberikan terapi tambahan oksigen segera pada pasien dengan SARS dan gangguan pernapasan, hipokesmia, atau syok. Kemudian memberikan tatalaksana cairan konservatif pada pasien SARI jika tidak memiliki tanda syok.  Antibiotik empiris menyusul untuk mengatasi pathogen yang mungkin menyebabkan SARS. Antibotik diberikan dalam waktu satu jam pertama untuk pasien dengan sepsis. Selain itu, perlu menghindaei pemberian kortkosteroid sistemik secara rutin, memonitor ketat pasien SARS, mengontrol kondisi komorbid pasien, serta perlu komunikasi dengan keluarga.

Bagi pasien dengan gagal nafas hipoksemia dan ARDS memerlukan beberapa tindakan dengan non-invasive ventilation, mengetatkan penjagaan, intubasi endotrakeal yang dilakukan orang terlatih, sementara pasien dengan ARDS sedangberat sangat perlu mendapatkan  PEEP tinggi dan pelumpuh otat yang tidak boleh digunakan secara terus menerus, kecuali ventilasi mekanis harus rutin diberikan.

Diskusi juga berlangsung dalam sesi ini, beberapa peserta melontarkan pertanyaan pemateri. Beberapa di antaranya terkait dengan masyarakat yang menderita COVID-19 yang sengaja atau tidak sengaja naik pesawat perlu penanganan tertentu setelah landing. Ada pula pertanyaan terkait imunonodulator herbal, yang bisa saja digunakan tergantung dari standar layanan dari sebuah rumah sakit. Sementara setelah COVID-19 berlalu tidak dianjurkan untuk menggunakan hazmat untuk semua pasien pnemunia kecuali memang terindikasi COVID-19. Reporter, Faisal Mansur/PKMK


Unduh Materi

Video Rekaman

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments