Reportase Zoom Meeting Konsep Surge Capacity Untuk Kesiapsiagaan Sistem Kesehatan Menghadapi Lonjakan Kasus Pandemi Covid-19

Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

(14 Mei 10.00 – 12.00 WIB) – Zoom meeting kali ini merupakan serial pembahasan surge capacity. dr Bella Dona sebagai narasumber pada kegiatan ini. dr Bella menyampaikan, perencanaan surge capacity atau konsep surge capacity, sudah dipakai dalam situasi bencana. Ada 4S dalam surge capacity yang disampaikan. Structure atau fasilitas, menggunakan rumah sakit yang sudah tidak berfungsi, misal rumah sakit dipulau galang yang sudah pernah ditutup perlu perencanaan dalam pembukaan kembali. Harus dilihat juga HDP, tetap melihat kebutuhannya, tidak asal membuka saja dan memperhatikan standar yang ada. Fasilitas peluang , misalnya wisma atlit, wisma haji. Kemudian difungsikan untuk rumah isolasi/karantina, diperhatikan ukuran ruangan, lokasi dekat fasyankes, pusat layanan yang sudah ada misalnya RSPI SS, RSPAU DIY dibuat levelling. Selain itu, memanfaatkan fasilitas yang dapat diubah menjadi rumah sakit, membuat fasilitas bergerak. Ada rumah sakit container, rumah sakit portable, rumah sakit lapangan tenda. namun rumah sakit lapangan ada aturan – aturan yang lebih dalam.

Staff atau sumber daya manusia. Pemenuhan SDM dilakukan dalam surge capacity, dibutuhkan jumlah SDM apabila penambahan fasilitas dilakukan. Jenis SDM juga diperhatikan. Apabila ada relawan yang bergabung, kemampuan pelatihan, meminjam staf dari rumah sakit non surge namun diperhatikan bagaimana sistem peminjamannya, juga perlindungan asuransi dan salary. Stuff atau peralatan. Diperhatikan kebutuhan akan perlatan yang dibutuhkan misal APD, obat, ventilator, bed, ruang isolasi, peralatan medis, sampah, pengolahan limbah, fasilitas di rumah isolasi.

Sistem, manajemen dan kebijakan. Dari manajemen dan kebijakan ada organisasi yang dibentuk, selama ini  dengan sistem komando. Tim itu operasional, di Indonesia mengggunakan sistem komando. Pedoman yang dibutuhkan didaerah harus disiapkan. prosedur, sistem komunikasi internal dan eksternal. Data dan informasi harus dipersiapkan dari puskesmas hingga dinas kesehatan, siapa yang melaporkan juga ditentukan. Pendanaan, apakah perlu realokasi anggaran? Sangat dibutuhkan konektivitas pimpinan daerah, tidak bisa hanya rumah sakit saja.

Surge hospital, fasilitas yang didesain dalam kondisi darurat uuntuk menambah RS yang ada. HDP, perencanaan rumah sakit dalam menghadapi keadaan darurat. Tujuannya menentukan jenis yang kemungkinan terjadi dan konsekuensi bahaya, Melakukan integritas struktural di lingkungan pelayanan pasien dan bagaimana saat terjadi bencana, menentukan peran rumah sakit dalam kejadian,menentukan strategi komunikasi, mengelola sumber daya, mengelola kegiatan termasuk pelayanan alternatif, identifikasi dan penetapan peran  dan tanggung jawab  staf, proses mengelola kejadian darurat Ketika terjadi konflik antara tanggungjawab pribadi staf dan tanggung jawab rumah sakit untuk menyediakan pelayanan, integrasi rumah sakit dengan dinas kesehatan, BPBD juga pihak lainnya.

Dinas Kesehatan ada rencana kontijensi, dalam renops, perencanaan koordinasi, Intervensi farmasi, business contuinity plan, komunikasi risiko dan pelibatan masyarakat, surveillance, respon medis dan laboratorium. 8 core capacities (IHR 2005), kebijakan dan legilasi, koordinasi, surveillance, respon, kesiapsiagaan, komunikasi risiko, SDM dan laboratorium. Sistem Kesehatan nasional ada tolok ukur yang harus dipenuhi, saat bencana apakah bisa seperti normal. Fasyankes apakah sudah memenuhi atau kurang. SDM juga farmasi apakah sudah mencukupi. Manajemen dan pemberdanaan harus diperhatikan. Apabila terjadi bencana apakah bisa terpenuhi atau tidak. Kerangka sistem Kesehatan WHO six building block, service delivery, tenaga kesehatan, informasi Kesehatan, obat dan peralatan, pembiayaan, kepemimpinan atau tata Kelola. Prinsip Manajemen bencana sektor kesehatan adalah menjaga sistem kesehatan tetap berjalan dengan normal meski terjadi bencana atau krisis Kesehatan (pra-saat-pasca), menjaga dan meningkatkan Kesehatan masyarakat.

dr Bella mengatakan bahwa saat ini pelayanan normal ditutup, harusnya tidak ditutup namun dikurangi, misal pengurangan jam kerja. Menjaga sistem Kesehatan, bagaimana tetap menjaga tetap berjalan normal. Sistem kesehatan saat normal maka HDP sudah disusun sebelum terjadi bencana, di dalamnya ada protap dan bisa ditambahkan terkait COVID-19, ada aturan juga berbeda situasinya. Sistem pengorganisasian menggunakan sistem komando. Logistik menyiapkan APD dan peralatan lainnya. Perencanan sebelum terjadi bencana bisa dipersiapkan, misal ada MOU dengan universitas. Kebutuhan fasilitas bisa juga Kerjasama seperti wisma atlit dan wisma haji. Kerjasama dilakukan dengan dinas kesehatan. Misalnya tim COVID-19 yang ada daerah, di dalamya ada rumah sakit daerah dan puskesmas. Surge capacity yang dipikirkan saat terjadi bencana. SPM di rumah sakit juga harus berjalan. COVID-19 adalah hal baru, jadi wajar kalau gagap, namun jangan berkepanjangan. Susun tim komando untuk melihat kebutuhan surge capacity.  Situasi normal sudah ada standar yang dicapai. Saat bencana standar tidak tercapai namun berusaha untuk dicapai, ada SPM, ICS, dan 4S agar terpenuhi.

Keuntungan menggunakan ICS adalah membagi habis tugas tiap personil, adanya kejelasan alur dan komunikasi,  pengembangan operasi bila diperlukan. Saat terjadi bencana memahami apa tugas tugasnya, jelas tugasnya. Alur komando dan komunikasi juga jelas. Memungkinkan pengembangan operasi, jadi harus dipersiapkan scenario, A B atau C. seperti apa skenarionanya dan di evaluasi Kembali. Dalam situasi darurat bisa scenario bisa berubah maka alternatif dipersiapkan dari awal

Sistem komando tanggap darurat adalah sistem penanganan darurat bencana yang digunakan oleh semua instansi/ Lembaga dengan mengintegrasikan pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan dan anggaran. Semua komponen kebutuhan masuk di dalamnya.

Pada saat preparedness menyiapkan HDP, Dinas Kesehatan disaster plan, puskesmas disaster plan. Disusun semuanya beserta dengan sistem komandonya. Apabila masih pada structural damage tidak bisa sampai pada kasus emergency. Masih bisa dikatakan siaga darurat dan mulai ada gugus tugas sampai pada persiapan surge capacity. Apabila sampai pada emergency tinggal dilaksanakan dan apabila terjadi lonjakan kapasitas lebih sudah siap. Recovery bencana, saat terjadi pernurunan kasus COVID-19 maka dipersiapkan business contuinity plan hingga kondisi normal.

Keberhasilan surge capacity apabila perencanaan dipersiapakan dari awal. Koordinasi sistem komando, gugus tugas menggunakan sistem komando, kepemimpinan yang jelas, manajemen sumber daya, komunikasi efektif, kualitas perawatan, hingga pengambilan kebijakan disemua tingkatan harus paham terhadap konsep kapasitas lonjakan dan harus Menyusun rencana untuk keadaan darurat. Surge capacity sangat menopang untuk sistem kesehatan di Indonesia.

Dalam sesi diskusi pertanyaan pertama disampaikan oleh Gurendro putro. 4S yang dipakai mengakomodir teori siapa? apakah RS untuk COVID-19, diperbolehkan ada pengunjung? Bagaimana hubungan 4S dengan sistem Kesehatan daerah? Fasilitas Kesehatan, puskesmas pengurangan jam kerja. Harus melindungi juga tenaga Kesehatan. Puskesmas belum siap menolong persalinan yang bagus apabila ibu positif.

dr Bella menyampaikan bahwa teori 4S sudah ada referensi dimateri. Di Indonesia pada  2017 surge capacity sudah masuk. Sistem Kesehatan daerah, dalam situasi normal menggunakan SKD. Ada standar cakupan, pada saat bencana apakah cakupan bisa tercapai paling tidak menggunakan standar pelayanan yang minimum. Fasiltas puskesmas dikurangi. Pedoman pencegahan COVID-19 sudah ada, dinas kesehatan harus mengontrol puskesmas. Harus mengatur sistem screening dan triase, puskesmas harus melaksanakan pedoman yang sudah ada.

Selanjutnya Yuslely Usman menyampaikan ketika DKI Sudah manyiapkan persiapan untuk lonjakan, apakah DKI tetap dalam kondisi darurat bencana saat terjadi penurunan kasus walaupun sedikit?

dr Bella menyambut, dalam masa tanggap darurat, saat ini tetap tanggap darurat. Kecuali sebelum 29 mei sudah turun sekali, tapi sepertinya tidak karena ini sudah 14 Mei tapi kasus masih banyak. Tanggap darurat bisa diperpanjang, atau situasi membaik maka tidak lagi situasi berubah transisi darurat sebelum recovery. Transisi darurat juga bisa diperpanjang. Walaupun DKI mengalami penurunan namun daerah lain masih terjadi kasus tetap pada kondisi darurat. situasi DKI misal Fasilitas cukup semuanya, masing – masing dinas Kesehatan bisa melaporkan. Apabila bencana terjadi hanya di provinsi maka kepala daerah kewenangannya, namun ini adalah bencana nasional dan itu merupakan kewenangan presiden. Kemungkinan new normal nanti tetap melakukan protocol kesehatan COVID-19, tetap jaga jarak, pakai masker dan PHBS.

Sri siswati menanyakan, alur yang kuning untuk persiapan, ini suatu ketidakpastian, misal kasus menurun pembiayaan puskesmas tidak selalu siap, untuk pembiyaan seperti apa?

dr Bella, Situasi bencana, pembiayaan itu penting, penganggaran harusnya sudah disusun, mana yang bisa realokasi untuk memenuhi kebutuhan. Prof Laksono menambahkan, ketika ada wabah, presiden berhak mengaktifkan sumber anggaran. Ada penggalangan dana juga dilakukan. Apakah semua itu diatur? Ada perubahan pembiayaan di pusat dan daerah. Seperti yang dialami di DIY, realokasi anggaran butuh waktu, rumah sakit memanfaatkan dana filantropi yang fleksibel. Saat kejadian bencana, peran dana masyarakat sangat besar. Namun harus mempersiapkan, ada sistem mengaktifkan dana. Misal rumah sakit milik Muhammadiyah, memanfaatkan jaringannya. Rumah sakit pemerintah juga mendapatkan bantuan, BLUD memperbolehkan untuk mendapatkan hibah.

Destanul aulia menyatakan bahwa di provinsi Sumatera di pakai rumah sakit yang tidak terpakai lagi yaitu RS GL Tobing dan RS Marta Friska.  Adaptasi SDM tenaga kesehatan dengan RS yang sudah tidak terpakai menjadi masalah (orientasi), Motivasi tenaga kesehatan yang non permanen dengan sistem seleksi yang lebih mengutamakan voluntary banyak menimbulkan masalah seperti kasus di sumatera utara dimana terjadi miskomunikasi mengenai jumlah  yang di tempatkan 2 orang sekamar?  SOP dengan pengangguran yang terbatas sering jadi masalah.  mengapa tidak kita berikan kepada RS yang sudah berpengalaman dan memiliki kecukupan infrastruktur SDM, logistik dan lain lain seperti RS Adam Malik di Sumatera Utara.

dr Bella mengaskan bahwa relokasi rumah sakit besar biayanya, apabila dibutuhkan harus dilaksanakan. Misalnya rumah sakit pulau galang harus dipersiapkan fasilitas dan standar dan sesuai. Lebih baik levelling rumah sakit. Skenario tergantung daerah masing – masing. Standar emergency team sudah disusun, dalam suatu daerah harapannya relawannya tercatat di daerah. Prof Laksono menambahkan, dalam tim gugus tugas sumatera utara apakah ada kelompok perencana? Kelemahan kita menyiapkan masa depan jarang dikerjakan. Dalam ICS selalu ada tim perencana, apabila terjadi lonjakan diatas kapasitas. Titik lemahnya ada pada tim perencana.

Masdalina pane menanyakan mengenai surge capacity berfokus fasilitas Kesehatan, bagaimana fasilitas di luar gedung kesehatan? Lalu apa indikator skenario yang dilakukan tepat, efektif dan efisien.

dr Bella menjawab bahwa surge capacity bukan hanya fasilitas, bukan hanya fasilitas Kesehatan. Di desa membuat rumah isolasi. Skenario sudah ada penghitungannya, dari WHO sudah ada penghitungannya, dari situ bisa dihitung. Menghitung skenario tidak asal, dinas Kesehatan juga mendorong daerah untuk menghitung kebutuhan SDM logistic dan lainnya.

Handojo pudjowidyanto mengatakan, bijaksanakah Kepala BNPB atau BPBD mencabut tanggap darurat dimana angka penularan masih meningkat dengan tajam secara exponential dan belum ada tanda-tanda mencapai puncak dan melandai demikian pula case fatality rate juga belum menurun walaupun jumlah kasus belum mengakibatkan surge capacity dari fasyankes primer dan sekunder yang ada di daerah tersebut.

dr Bella menyambut, mencabut tanggap darurat tidak asal mencabut, nanti akan dievaluasi. Bisa saja nanti tanggal 29 mei diperpanjang tanggap darurat, saat ini Indonesia sudah merah. Siaga darurat terlalu panjang, pada saat dinyatakan bencana nasional baru mempersiapkan, harusnya dipersiapkan sebelum itu. Saat kurva masih naik harus dipersiapkan surge capcity, Ketika sudah mulai menurun harus mempersiapkan business contuinity plan.

Santoso aji mengatakan bahwa perencanaan itu penting, keputusan mengambil RSUD Saptosari karena ada penolakan juga dari masyarakat. Membuat perencanaan juga bisa tidak berjalan karena penolakan. Bahkan pusat Latihan tempur di Gunungkidul juga akan dipersiapkan untuk penanganan pasien COVID-19. Harus melihat skenario, jangan terlalu optimis. Jangan sampai saat terjadi landai justru ada peningkatan kembali. Prof Laksono menyambut, Pusat Latihan tempur dipakai, penelitian ini mencatat apa yang terjadi. Akan terjadi kegiatan yang reaktif dari masyarakat.

Trijuni menanyakan structure, fasilitas di rumah sakit. Apakah sebaiknya tim melihat fasilitas di luar sistem kesehatan? dr Bella menyampaikan apabila meneliti fasilitas non Kesehatan akan luas sekali.  Putu Eka menambahkan bahwa penelitian akan melihat fasilitas non rumah sakit, misal rumah isolasi untuk tenaga kesehatan. Pemerintah daerah menyiapkan fasilitas untuk tempat tinggal sementara. Prof Laksono, sifat komprehensif perlu mengeksplorasi inovasi masyarakat. Ada hotel menawarkan paket isolasi diri, permalam 200 ribu. Hal tersebut bisa ditangkap untuk penelitian.

Bahkan tidak hanya kesehatan namun non kesehatan, masyarakat membuat isolasi mandiri bisa di potret juga. Karena penelitiannya luas.

Yuslely menanyakan penelitian ini adalah penelitian dokumentasi, sampai kapan penelitian dilakukan? Apakah sampai selesai tanggap darurat?  hasil penelitian dikeluarkan berdasar waktu?

Prof Laksono mengatakan bahwa secara anggaran dilakukan 1 sampai 2 bulan, harapannya melihat apa yang terjadi di beberapa provinsi. DKI dan DIY, mungkin ada provinsi lain akan melakukan juga. Bisa juga akan menambah waktu penelitian lagi. Nanti ada fasenya, tiap saat akan memberikan report. Penelitian ini tidak menunggu kasus berakhir, proses yang terjadi adalah yang dicatat. Contoh penelitian dokumentasi bencana tsunami aceh. COVID-19 baru terjadi di Indonesia, semuanya gagap. dr Bella menambahkan, Mungkin Berikutnya ada penelitian pada transisi darurat, ada pencatatan berikutnya.

Pada akhir diskusi disampaikan skenario sudah direncanakan di awal, namun akan diikuti apa yang terjadi. misal di Gunung Kidul sudah melewati batas, setelahnya melakukan apa. Penelitian serupa juga bisa dilakukan di provinsi lain, proposal akan di tampilkan di website. Protokol penelitian ini bisa digunakan juga di Sumatera Utara.

Reporter: Husniawan P (PKMK)


Unduh Materi

 

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments