Reportase Webinar Persi Tatalaksana Gizi dan Pengendalian Infeksi Pada Covid-19 Isolasi Mandiri dan Pasca Rawat Inap Rumah Sakit

Klinisi Primer Klinisi Rujukan Tenaga Pencegahan

PKMK – Yogya. Narasumber dalam webinar ini berasal dari sejumlah pihak, diantaranya dr Inti Mujiati (Direktorat Gizi Masyarakat, Kemenkes RI), MKM; Perdana Samekto T.S, M.Sc (FK – KMK UGM), RD; Masfuri, SKp.MN (PPNI) dengan pembahas dr Minarto, MPS (Dewan Penasehat PERSAGI); dr Entos Zaenal,DCN, MPHM (Ketua DPP PERSAGI) dan Fitri Hudayani, SGz, MKM, RD (Pengurus AsDI-PERSAGI). Webinar ini dimoderatori oleh Dr. Ir. Trina Astuti, MPS. Tema yang diangkat kali ini (13/5/2020) terkait gizi dan pengendalian infeksi pasien isolasi mandiri dan pasca rawat inap di RS.

Inti sebagai pembicara pertama memaparkan Antisipasi Masalah Gizi dan Tindak Lanjut Intervensi Gizi Pasca Perawatan Bagi PDP. Sesuai dengan SE Dirjen Kesehatan Masyarakat tentang Pelayanan Gizi dalam Pandemi COVID-19, dinas kesehatan provinsi dan kabupaten kota diharapkan dapat meningkatkan koordinasi dengan pemangku kepentingan memastikan: terjadi suplementasi pada kelompok rawan (bumil. Ibu menyusui, balita, baduta dan lansia), tablet tambah darah, makanan tambahan ibu hamil prioritas ibu dengan KEK, makanan tambahan balita terutama ekonomi terbatas dan ketersediaan vitamin A berikutnya pada Agustus.

Kemenkes RI melakukan banyak intervensi utamanya dalam upaya pencegahan dengan memberikan pemahaman bahwa virus ini dapat dicegah dengan imunitas yang baik, dengan menjaga stamina penuhi gizi dan melakukan gerakan masyarakat hisup sehat (GERMAS). Tidak menutup kemungkinan akan banyak muncul masalah gizi pasca pandemi ini, yaitu gizi kurang, gizi lebih dan defisiensi zat gizi mikro. Sehingga edukasi, suplementasi, tatalaksana gizi dan pemantauan pertumbuhan harus tetap dilakukan dengan modifikasi sesuai protokol kesehatan yaitu jaga jarak dan mencuci tangan dengan air mengalir.

Pembicara kedua, Perdana Samekto memaparkan Intervensi Gizi Terhadap ODP dan OTG untuk Kesehatan dan Imunitas yang Optimal Selama Isolasi Mandiri. Perdana menegaskan terapi gizi itu terlihat hasilnya jika seseorang mengalami kekurangan/defisiensi, lalu menjalani terapi gizi secara penuh. Menurut penelitian, malnutrisi menjadi salah satu penyebab kerentanan pada penyakit, salah satunya infeksi. Hal ini diperparah dengan adanya silent malnutrition atau defisiensi gizi yang tidak terdeteksi. Jika kekurangan protein atau karbohidrat akan terlihat dari komposisi atau postur tubuh, namun jika seseorang kekurangan zat gizi mikro seperti vitamin atau mineral maka akan sulit diketahui secara fisik. Sehingga diperlukan analisis secara biokimia.

Anjuran Perdana ketika menayangkan daftar bahan makanan yang direkomendasikan ialah kita tetap makan dengan gizi seimbang (makan beraneka ragam). Dalam penutupnya, Perdana menyatakan belum ada bukti empiris suplemen dapat mencegah COVID-19. Maka, harus dipahami jika konsumsi suplemen saat pandemi bertujuan untuk memperbaiki status gizi dan menghindari ekspektasi berlebihan terhadap suplemen.

Pembicara ketiga, Masfuri memaparkan Menjaga Keamanan dan Kebersihan Saat Isolasi Mandiri Individu dengan COVID-19. Masfuri merupakan Satgas COVID-19 DPP PPNI. Pihaknya menyatakan siapa yang melakukan isolasi mandiri? Ada tiga kriteria yaitu yang memiliki kontak dengan pasien positif, berpergian ke zona merah atau memang sudah positif COVID-19. Jika sudah diminta isolasi mandiri yang harus dilakukan ialah pulang langsung ke rumah dengan kendaraan pribadi dan jika terpaksa dengan moda transportasi umum, maka harus memakai masker bedah serta menjaga jarak 1-2 meter.

Selama isolasi tetap harus melakukan olahraga dan kerja dari rumah, lalu alat makan – tempat tidur – handuk dan pakaian harus terpisah, harus selalu membersihkan barang yang disentuh dengan minimal desinfektan, dan yang utama memastikan monitor kesehatan dan melaporkan via smartphone antara lain suhu badan, gejala flu dan batuk. Sementara kesehatan psikososial selama isolasi yang harus dilakukan pasien ialah beribadah di rumah, berpikir positif, memiliki hubungan positif jarak jauh dengan keluarga dan sahabat, mengurangi stressor dan melakukan relaksasi fisik (nafas dalam, olahraga minimal 30 menit/hari). Isolasi mandiri dan sembuh dari COVID-19 bukan sesuatu yang mustahil, asal memenuhi ketentuan yang ditetapkan fasilitas layanan kesehatan. Angka kesembuhan tinggi dan rata – rata kasus kematian karena memiliki Co-morbid.

Video selengkapnya silahkan klik link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=WC5mz-TzFdw

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments