Reportase Zoom Meeting Proposal Kesiapan RS Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 Dari Aspek Sistem dan STRUKTUR

Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

8 Mei 2020 – Webinar kali ini membahas proposal penelitian kesiapan rumah sakit menghadapi COVID-19 yang berada dibawah penelitian payung Surge Capacity. Madelina Ariani, MPH sebagai narasumber menyampaikan, Divisi Manajemen Bencana sudah lama mendampingi Hospital Disaster Plan (HDP) di rumah sakit. Berbagai macam komponen direncanakan, dibuat dan disusun, disosialisaiskan , diujikan dan akhirnya bisa dijadikan budaya bukan sekedar dokumen tertulis. HDP ini disiapkan untuk semua jenis ancaman bencana alam dan non alam, saat ini Indonesia menghadapi pandemi dan ditetapkan status bencana nasional non alam. Sistem komando rumah sakit adalah sebuah sistem komando  dan kontrol yang meliputi kombinasi dari fasilitas, peralatan, personil, prosedur dan sistem komunikasi yang beroperasi dalam suatu struktur organisasi yang didesain untuk membantu mengelola sumber daya pada kejadian darurat. HDP ditujukan hanya untuk syarat akreditasi, namun juga rumah sakit yang pernah mengalami bencana bersungguh sungguh dalam menyusun HDP.

Penelitian ini mendokumentasikan serta menganalisis kesiapsiagaan rumah sakit dalam menghadapi pandemi berdasar sistem komando. Tujuannya untuk mendapatkan gambaran kesiapsiagaan rumah sakit, mendapatkan factor – faktor penghambat, mengukur level kesiapsiagaan rumah sakit, memberikan rekomendasi penguatan kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi pandemi COVID-19.  Manfaatnya  input bagi rumah sakit daerah lain yang menghadapi pandemi, masukan rumusan kebijakan atau standar bagi pemerintah dan perhimpunan rumah sakit serta komisi akreditasi rumah sakit mengenai perencanaan penggulangan bencana nonn alam. Juga masukkan teknis untuk pendampingan rumah sakit selama masa pandemi.

Tinjauan pustaka, penelitian bencana dan krisis kesehatan menggunakan disaster logic model, kesiapsiagaan sektor Kesehatan dalam menghadapi kasus kegawatdaruratan, bencana dan krisis Kesehatan, penjelasan pandemic covid-19 dalam kerangka disaster logic model, dan Incident command system. Kerangka teori, mencoba menghindari sampai terjadi kerusakan struktur berikutnya, melakukan risiko kerusakan struktur, diidentifikasi risikonya bagaimana menggunakan kapasitas cadangan. Dalam HDP terdiri dari berbagai macam aturan. Bagaimana menggambarkan kesiapsiagaan rumah sakit berbasis ICS. Harapannya mampu memaksimalkan respon maksimal, dengan mengatur bagaimana rumah sakit membagi habis tugas, alur komunikasi rumah sakit dan perencanaan.

Untuk pertanyaan secara garis besar tentang kesiapsiagaan menghadapi COVID-19 berdasarkan sistem komando, kemampuan ruamh sakit melakukan perencanaan surge capacity, rumah sakit mempersiapkan prosedur pencegahan transmisi COVID-19, kesatuan protokol di dalam rumah sakit sehubungan dengan teori COVID-19 yang terus berubah, dan rumah sakit dalam menjalin jejaring dengan stakeholder dan rumah sakit lainnya.

Penelitian ini merupakan penelitian dokumentasi menggunakan pendekAtan kualitatif, yang dilakukan di DKI dan DIY, yang dilakukan selama 3 bulan. Rumah sakit dari DKI dan DIY baik rumah sakit pemerintah juga rumah sakit swasta menjadi subjek penelitian. Dari rumah sakit tersebut hampir semuanya memiliki HDP dan satgas COVID-19. Pengumpulan data dilakukan wawancara, review dokumen, survei (kuisioner kesiapan rumah sakit menghadapi COVID-19 berbasis manajemen sIstem komando). Seluruh data yang terkumpul dari sIstem komando rumah sakit dalam menghadapi COVID-19 akan didokumentasikan dalam bentuk tabe, sedangkan hasil wawancara akan dianalisis dan disajikan dalam bentuk naratif. Akhir mei ini akan dilakukan pengumpulan data dan analisis data, bulan juni bisa dipaparkan.

dr Hendro Wartatmo selaku pembahas menyampaikan, tujuannya menjadikan HDP sebagai gaya hidup rumah sakit dalam menghadapi bencana. Sudah ada peraturan bahwa rumah sakit harus mempunyai HDP, akreditasi sudah masuk namun untuk jangka pendek event – nya cukup pendek.  Untuk bencana non alam dulu ada SARS, tapi sudah lupa. Kemuian untuk RS yang pernah membuat HDP ini berdasarkan pengalaman, maka hasilnya berbeda untuk menghadapi situasi saat ini. Klaten baik dalam menyusun HDP karena ada pengalaman penanganan gempa 2006. Bencana itu bisa terjadi kapan saja, dan tidak ada bencana yang identik. Peran ICS secara nyata, itu penting menentukan jalannya respon ketika terjadi bencana. Saat ini ICS sudah terbukti. HDP dan ICS dalam surge capacity bagaimana meningkatkan kapasitas secara mendadak, dalam bencana alam bagaimana menambahkan ruangan yang banyak, namun dalam pandemi berbeda. Ada system dan knowledge management. Dalam hal networking, rumah sakit harus bekerjasama dengan stakeholder lain dalam penanganan. Penelitian ini diharapkan sebagai pemicu, HDP bisa menjadi gaya hidup rumah sakit dalam melakukan respon terhadap bencana.

Putu Eka menyampaikan bahwa proposal ini merupakan bagian dari penelitian payung. Penting sekali melihat kesiapan rumah sakit dalam menghadapi pandemi. DIY biasa menghadapi bencana alam, namun berbeda dengan pandemi COVID-19. Respon sistem kesehatannya belum begitu smooth. Sehingga perlu dilihat bagaimana sistem respon ini dalam pandemi COVID-19. Selain UGM ada pihak lain yang melakukan penelitian dengan berbagai area dan berbagai fokus. LIPI dan Balitbangkes juga melakukan penelitian terkait hal ini.

dr Hendro Wartatmo, SpB. KBD menyatakan ada 3 masalah yang membuat COVID-19 menjadi seperti saat ini, asal COVID-19 tidak jelas, tempat COVID-19 tidak jelas apakah di air liur atau udara, dan model transmisinya. Saat ini sudah terjadi transmisi komunitas, sehingga sudah sulit melakukan tracing. Swab acak dilakukan di Bekasi menunjukkan 6 kasus positif, berarti tidak diketahui asal transmisi dari siapa. Saat ini,  yang paling menjadi pengganggu program pemerintah adalah adanya orang tidak jujur, pengusaha tidak jujur, juga orang orang yang tidak bertanggung jawab, sudah positif namun tidak isolasi mandiri. Fatality rate saat ini 6%, karena test dilakukan sudah semakin banyak.

dr Bella Donna, M.Kes menyampaikan bahwa setiap kegiatan kebencanaan ada variabel pengganggu, namun bagaimana rumah sakit siap menghadapi COVID-19. Dengan checklist bisa dilihat variabel pengganggunya, seberapa besar faktor pengganggunya. Selama ini yang menjadi masalah, dinas kesehatanan kesulitan menerima data dari rumah sakit. Ini menjadi salah satu kebutuhan, rumah sakit harus menyiapkan sistem komandonya. Harus ada staf yang menyiapkan dan mencatat data. Dengan sistem komando harapannya rumah sakit  menyiapkan data dan informasi, tiap saat ada pelaporan ke dinas kesehatan.

dr Hendro, mengenai fasilitas, kapasitas isolasi di rumah sakit di DIY sekitar 269 ruang,  laporan harian yang perlu isolasi masih mencukupi. Harusnya tidak terjadi penolakan pasien. Koordinator tingkat satu harus telpon rumah sakit yang dituju pasien. Informasi harusnya satu pintu, ada masalah sistem otonomi menyebabkan garis koordinasi tingkat satu dengan tingkat dua tidak begitu mulus.

Gde Yulian menambahkan, HDP baiknya diikuti dengan dinkes disaster plan. Apakah dengan penelitian ini ada advokasi ke dinas kesehatan. Rumah sakit memberikan fungsi advokasi ke dinas kesehatan. Apakah rumah sakit juga memberikan fungsi pencegahan.

dr Bella menyambut bahwa bisa saja menjadi advokasi, akhir penelitian nanti ada advokasi ke pemerintah juga dinas kesehatan. Dinkes disaster plan sudah ada kalau dilaksanakan. Penelitiian ini akan menjadi advokasi kepada dinas Kesehatan untuk melakukan pencegahan.

dr Hendro, ada prinsip HDP business continuity plan, pelayanan rutin rumah sakit tidak boleh berhenti. Saat gempa 2006 sebagian pelayanan berhenti, hal tersebut tidak boleh dilakukan. Harusnya ada rumah sakit yang khusus menangani COVID-19 dan ada rumah sakit yang tetap melayani pasien biasa.

Pada akhir diskusi, Madel sebagai tim peneliti mengucapakan terima kasih atas saran dan masukan terhadap proposal penelitian yang disusun.

Reporter: Husniawan Prasetyo


Unduh Materi
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments