Reportase Zoom Meeting RESILIENSI KUNCI MENGOKOHKAN KELUARGA DI MASA PANDEMI COVID-19

Tenaga Pencegahan

PKMK-Yogya. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (PKMK FK – KMK) UGM bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY (DP3AP2) mengadakan zoom meeting  tentang COVID-19 pada Selasa (5/5) pukul 13.00-15.00 WIB. Webinar yan dihadiri 54 participant tersebut mengusung judul Resiliensi Kunci Mengokohkan Keluarga di Masa Pandemi COVID-19. Narasumber dalam webinar tersebut ialah Direktur Jogja Family Center Cahyadi Takariawan dan Ketua KSM Geriatri RSUP Dr. Sardjito sekaligus Dosen FK-KMK UGM DR. dr. Probosuseno. Adapun moderator dalam acara ini ialah Kabid Kesetaraan Gender & Pemberdayaan Perempuan DP3AP2, Nelly Tristiana.

Nelly Tristiana Kabid Kesetaraan Gender & Pemberdayaan Perempuan DP3AP2

Nelly Tristiana membuka diskusi dengan menjelaskan situasi pandemi COVID-19 yang menyebabkan kondisi keluarga penuh tekanan. Nelly menyampaikan, pandemi COVID-19 bagi keluarga yang rumahnya sempit membuat ruang privasi mereka terkungkung. Sedangkan bagi keluarga kaya dengan rumah luas, tetap mendapat tekanan. Keharusan Work From Home membuat mereka terkungkung di rumah dan kehilangan kebiasaan berjumpa dengan orang lain.

“Keluarga perlu melakukan sesuatu, supaya bertahan pada kondisi ini. Meskipun kita berharap kondisi ini cepat berakhir,” ujar Nelly Tristiana.

Cahyadi Takariawan, Direktur Jogja Family Center

Dalam dikusi ini Cahyadi Takariawan menjelaskan tentang benteng pertahanan keluarga di tengah pandemi COVID-19. Cahyadi mengungkapkan kebijakan karantina wilayah dan aturan work from home serta stay at home, berdampak kepada peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga yang mengarah kepada perceraian.

“Anggota Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yaitu António Guterres, melaporkan semenjak masyarakat dirumahkan betul – betul itu menyebabkan ledakan KDRT. Australia, Italia, Amerika sedemikian tinggi intensitas konfliknya. Termasuk di Amerika dikhawatirkan muncul lonjakan perceraian,” ujar Cahyadi.

Keadaan tersebut terjadi karena beberapa hal, pertama karena kaget dan menolak keadaan COVID-19 dengan suasana penuh ketakutan. Cahyadi menjelaskan bahwa masyarakat banyak yang bersikap denial dengan keadaan ini. Kedua karena tekanan yang disebabkan karena hilangnya kebebasan, tidak adanya variasi kegiatan, hilangnya ruang sosial yang nyata/ pertemanan, tidak bisa bekerja secara normal, anak – anak kurang ruang berekspresi, penghasilan (bisa) berkurang bahkan hilang, dan tidak adanya ruang privasi. Ketiga keadan family technostress, keluarga asik dengan gadget masing – masing. Keempat hilangnya keseimbangan dalam rumah tangga. Diantara keseimbangan yang penting ialah keseimbangan togetherness dan separateness. Kelima yakni kehilangan homeostatis. Homeostatis keluarga adalah kecenderungan suatu keluarga untuk memelihara keadaan ekuilibrium dinamik, dan melakukan upaya – upaya untuk memulihkan ekuilibrium ini ketika terganggu.

“Secara natural kita memiliki bekal mengambil keseimbangan. Misal suami istri terpisah maka muncul mekanisme rindu. Maka yang dicari pertemuan. Ketika separateness terlalu besar togethreness kecil nanti mereka akan berada dalam situasi kering cintanya. Allah kasih perasaan kangen itu mekanisme natural. Orang hidup rumah tangga itu harus ada keseimbangan togetherness dan separateness . Pada kondisi Korona kita tidak menemukan itu karena tidak ada ruang privasi,” Ujar Cahyadi.

Materi Cahyadi Takariawan, Direktur Jogja Family Center

Untuk itu penting resiliensi dalam keluarga. Cahyadi menyampaikan tujuh faktor pembentuk daya resiliensi. Faktor faktor tersebut antara lain regulasi emosi yakni kemampuan tetap tenang, pengendalian impuls, sikap optimistic, causal analysis, sikap empati, self-efficacy, dan reaching out.

“Kalau setiap pribadi mampu mendefinisikan persoalan yang sedang terjadi sekaligus menganalisis penyebabnya, kemudian bisa menemukan solusinya,” ujar Cahyadi.

DR. dr. Probosuseno Ketua KSM Geriatri RSUP Dr. Sardjito sekaligus Dosen FK-KMK UGM

Sementara itu Probosuseno menyampaikan pentingnya menguatkan spiritualitas keluarga dalam menghadapi COVID-19. Ia mengatakan banyak orang ingin berubah lebih baik. Orang normal selalu ingin sehat senang. Namun upaya tersebut dihadapkan oleh penghalang yakni kesakitan, kebodohan, kemiskinan dan gampang terkena godaan nafsu. COVID-19 ini termasuk penghalang yang susah diatasi.

“Makhluk Allah satu ini (COVID-19) ini dari RNA yang sangat patogen dan gampang bermutasi. Dan membuat vaksin pun sangat sulit, “ ujar Probosuseno.

Probosuseno mengatakan COVID-19 ini makhluk Allah yang membuat kita ingat kapanpun akan dipanggil Allah. COVID-19  ini penyakit tidak biasa yang menimbulkan trauma psikis. Ia juga menambahkan COVID-19  menyebabkan kecemasan depresi, sakit psikosomatik seperti tidak bisa tidur dan pusing , miskin karena tidak bisa bekerja dan perasaan takut.

DR. dr. Probosuseno Ketua KSM Geriatri RSUP Dr. Sardjito sekaligus Dosen FK-KMK UGM menyampaikan materi

Probosuseno menekankan pentingnya upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Perlu juga melakukan pendekatan spiritual. Probosuseno mengatakan bahwa masyarakat harus ikhtiar sesuai perintah Nabi Muhammad saat menghadapi wabah.  Adapun perintahnya ialah  jangan keluar, jangan masuk, di rumah saja.

“Nabi Muhammad mengatakan wabah ini seperti api yang membakar kayu. Jika api ingin mati maka kayunya dipisah,”ujar Cahyadi.

Probosuseno mengajak kita, harus bersama – sama berubah lebh baik demi diri sendiri dan sekitarnya. Dimulai dengan keluarga sendiri. Adapun empat upaya berubah tersebut antara lain hidup sehat luar dan dalam, peran kholifah, hidup penuh perhitungan (ekonomis), dan menjadi rahmat bagi alam (dan sekitarnya).

Reporter: Kurnia Putri Utomo


Untuk mengunduh materi silahkan klik disini

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Dea Ka
4 months ago

Selamat malam,
apakah saya boleh meminta link video nya? terima kasih