Reportase Webinar Myocarditis Pada Covid-19

Klinisi Primer Klinisi Rujukan

30 April 2020 – Webinar Cochrane Indonesia bekerja sama dengan PKMK FK – KMK UGM sudah berjalan selama 6 minggu. Kali ini membahas Miokarditis dan cedera miokard yang diduga sebagai salah satu penyebab utama kematian pada pasien COVID-19. Artikel yang ditelaah pada topik ini berjudul “Suspected myocardial injury in patients with COVID-19: Evidence from front-line clinical observation in Wuhan, China” yang diisi dari Departemen Kardiologi dan Kesehatan Vaskular. Artikel dipaparkan oleh dr. Arditya Damar K, M.Med (Clin Epi), Sp.JP, pembahas oleh Ketua Departemen Kardiologi dan Kesehatan Vaskular Prof. Dr. dr. Budi Yuli Setianto, SpPD(K), SpJP(K) dan dimoderatori oleh Dr. Med. dr. Putrika Prastuti Ratna Gharini, Sp.JP(K) (ketua Divisi Kardivaskular Nuklir dan Pencitraan, Departemen Kardiologi dan Kesehatan Vaskular)

Diagnosis miokarditis pada artikel ini disebutkan bahwa apabila terjadi peningkatan tiga kali lipat pada jantung Troponin I (lebih dari 0,12ng / mL) ditambah kelainan pada ekokardiografi dan/atau elektrokardiogram (EKG). Abnormalisasi pada ekokardiografi didefinisikan sebagai penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri (LVEF) (<50%), atau kelainan gerakan dinding segmental, atau penebalan dinding ventrikel kiri (> 10mm) dan/atau adanya efusi perikardial (≥5mm) serta kelainan pada EKG didefinisikan sebagai elevasi segmen ST / perubahan ST-T.

Penulis menjelaskan bahwa terdapat bukti yang cukup terkait myocardial injury pada pasien COVID-19 selama rawat inap dan 14 dari 112 pasien menunjukkan kelainan yang mirip dengan miokarditis, terutama peningkatan troponin jantung I.

dr. Dama mengungkapkan bahwa belum bisa memastikan apakah myocardial injury ini disebabkan oleh COVID-19 atau penyebab lainnya. Namun, yang harus lebih diperhatikan dalam praktik klinis adalah peningkatan troponin jantung dapat menjadi pertimbangkan bahwa hal tersebut lebih mungkin terkait dengan gangguan sistemik dan dapat menjadi tanda peringatan (warning) untuk kematian pasien dengan COVID-19. Sehingga para klinisi lebih memperhatikan terhadap penanganan klinis pada pasien yang berisiko tinggi seperti ini. Apabila pasien yang sudah masuk kategori parah, seperti penurunan saturasi oksigen darah dan cardiac markers harus diuji dan dipantau untuk meningkatkan manajemen klinis.

Salah satu limitasi yang disampaikan penulis yaitu pengambilan data ekokardiologi, ECG, cardiac markers test dan tes laboratorium lainnya tidak dilakukan pada waktu yang tepat, yang seharusnya dilakukan setidaknya satu kali atau beberapa kali untuk setiap pasien selama dirawat di rumah sakit. Selain itu, resonansi magnetik jantung dan biopsi miokard tidak tersedia, dan Ekokardiografi, EKG, dan semua tes laboratorium didasarkan pada permintaan klinis, serta terdapat 61 pasien dari 112 yang masih dirawat di rumah sakit sehingga belum dilakukan analisis.

Prof. Budi mengungkapkan bahwa dalam mendiagnosis miokarditis harus terdapat kriteria yang dipenuhi, pada artikl ini hanya menjelaskan cardiac troponin, diagnosis pastinya seharusnya dilakukan biopsi dan Cardiac Magnetic Resonance (CMR) dan artikel ini mengakui keterbatasannya.

Peneliti menyampaikan bahwa penyebab yang paling mungkin lebih banyak yaitu ke arah sistemik sehingga dijadikan sebagai peringatan. Terdapat 4 mekanisme acute cardiac injury yaitu ACE2-mediated direct damage, Hypoxie-induced myocardial injury, Cardiac microvascuair damage, dan Sysemic inflammatory response syndrome.

Prof Budi menambahkan bahwa salah satu diagnosis bahwa seseorang  bukan cedera (injury) adalah tidak ada stenosis pada angiografi, walaupun mungkin pada COVID-19 akan dapat menjadikan lebih berat atau terjadi pada pasien yang sebelumnya sudah ada penyakit jantung.

Artikel ini merujuk untuk meningkatkan pemahaman tentang COVID-19 dan strategi klinis serta manajemen terhadap penyakit tersebut. Webinar yang diselenggarakan selama ini bertujuan untuk mengkaji informasi penelitian terkini tentang COVID-19, yang terus berkembang setiap saat. Kajian ini tidak ditujukan untuk memberikan rekomendasi keputusan medis namun, hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dalam pembuatan panduan pelayanan medis, yang dilakukan oleh lembaga berwenang (Kementerian Kesehatan atau asosiasi profesi).

Reporter: Tim Cochrane Indonesia


Suspected myocardinal injuri in patients with COVID 19 Evidence from front line clinical observati
Prev 1 of 1 Next
Prev 1 of 1 Next
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments