Reportase Zoom Meeting Penelitian Payung Respon Sistem Kesehatan di Daerah Menghadapi Lonjakan Pasien Covid-19: Studi Kasus di Provinsi DIY dan DKI Jakarta

Pengambil Kebijakan

Serial zoom meeting 30 April 2020 mendiskusikan hasil sementara penelitian payung menghadapi lonjakan pasien COVID-19 dengan studi kasus di DIY dan DKI Jakarta. Prof Laksono Trisnantoro membuka diskusi, hasil sementara sudah bisa dibahas. Seperti penelitian biasanya, namun ini adalah penelitian payung yang akan ada penelitian lain yang lebih spesifik. 2 bulan menghadapi COVID-19, ini adalah hal yang baru. dalam waktu singkat kematian cukup banyak, penyakit ini mempunyaki dampak sosial yang kuat. DIY sudah ada local transmition, yang sedang terjadi adalah sistem kesehatan menghadapi penyakit yang tidak dikenal, berbeda dengan malaria, misalnya. Belum ada pengalaman menyebabkan adanya skenario yang berbeda beda. Terjadi gonjangan besar dalam sistem kesehatan, siap atau tidak untuk menghadapi gocangan tersebut. Tenaga Kesehatan bisa jadi korban, ini yang menjadi komplikasi. Juga ICS juga harus diperbaharui. Tujuan penelitian ini untuk mendokumentasikan kegiatan penanganan COVID-19, membuat skenario, mengusulkan sistem respon kesehatan di berbagai skenario. Penelitian ini bermanfaat bagi pemerintah pusat, daerah, tenaga kesehatan dan masyarakat. Ini adalah suatu riset dengan metode dokumentasi.

Putu Eka Andayani mengemukakan bahwa di DIY kasus COVID-19 sudah ada 93 atau 0.95%. ODP cukup banyak dan ada potensi lonjakan ketika arus mudik.  Pengorganisasian sudah ada gugus tugas lintas sektor, tidak hanya kesehatan, juga pendidikan, ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Gugus tugas sudah ada tupoksinya, juga ada unsur swasta/ non pemerintah yaitu IDI dan PERSI. Pada aspek sistem informasi pemerintah DIY mengembangkan Corona monitoring system (CMN), aplikasi ini untuk memantau perkembangan dan pelaporan kasus COVID-19 dan dapat digunakan oleh seluruh fasilitas kesehatan. Juga beberapa instansi kesehatan dan non kesehatan di DIY menyediakan call center COVID-19 untuk membantu masyarakat dan informasi yang valid. Pada sIstem traNsportasi, di DIY sudah melakukan penutupan jalur darat, laut dan udara pada mulai  24 april 2020. Namun belum ada transportasi khusus untuk tenaga Kesehatan. Tranportasi ambulans gratis menjadi potensi tapi belum ada untuk pasien COVID-19.

Gubernur DIY sudah membuat instruksi agar bupati walikota melakukan realokasi anggaran desa dialihkan untuk  penanganan COVID-19. Sumber pendanaan lain, pemerintah pusat mengeluarkan juknis klaim pasien COVID-19, jika rumah sakit memperoleh bantuan APD maka akan menjadi faktor pengurang klaim. DIY sudah ada 25 rumah sakit rujukan, laboratirium DIY dan 2 laboratorium UGM juga sudah ditunjuk. Dinas kesehatan sudah menjalankan rapid test. Leveling rumah sakit sedang disiapkan, harus diatur level rujukannya karena rumah sakit rujukan ada yang fasilitasnya lengkap namun juga ada yang kurang lengkap. Sebagian rumah sakit sudah ada HDP, namun belum ada untuk penanganan COVID-19. Perlu protokol yang berbeda disesuaikan dengan keadaan pandemi. Kapasitas rumah isolasi untuk tenaga Kesehatan dan ODP/PDP sudah tersedia di DIY, bahkan pemerintah sleman juga menyiapkan lahan jika ada penolakan pemakaman. Putu menyampaikan bahwa, data yang belum dikumpulkan adalah terkait tim COVID-19 di rumah sakit dan perijinan praktek. Di DIY tersebar ada 32 ventilator diberbagai rumah sakit. Selain itu, pada aspek logistik  penanganan COVID-19berasal dari pemerintah pusat juga pastisipasi masyarakat. Di jogja ada SONJO yang salah satu kegiatannya mendata kebutuhan rumah sakit. Untuk memudahkan calon donator, agar lebih tepat sasaran.

Elisabeth listyani menyampaikan DKI akan melihat gambaran umumnya, RS rujukan di DKI termasuk wisma atlet sudah disiapkan untuk penanganan pasien kritis juga. Peta kasus sampai 29 april 2020 sebanyak 4033 positif dan 412 sembuh. Pasien positif masih banyak dirawat dibanding dengan daerah lain, dan tren kurvanya masih naik. Pasien dalam pemantauan (PDP) sudah banyak yang sembuh dan ODP yang sudah selesai karantina juga sudah banyak. Juga di DKI ada sebanyak 5 laboratorium untuk penanganan COVID-19.  Data – data diambil dari peraturan dari pemerintah DKI, pemerintah pusat, media dan lainnya. Tanggap darurat COVID-19 di DKI dilakukan pada 20 maret 2020. Pemerintah DKI menghimbau saling koordinasi pencegahan covid. Kebijakan, pedoman dan prosedur dikeluarkan oleh Pemerintah DKI. Berbagai macam prosedur penanganan COVID-19, koordinasi tingkat RT RW sampai pemerintah pusat, melibatkan peran serta masyarakat, penerapan PSBB. Pemerintah DKI juga menyediakan website khusus COVID-19 yaitu corona.jakarta.go.id, call center, posko covi COVID-19d. selama tanggap darurat juga diberlakukan pengurangan kapasitas transportasi. Selain itu, penanganan limbah medis rumah sakit khususnya pasien covid berkoordinasi antar 5 wilayah. Sistem pembiayaan penanganan covid menggunakan alokasi APBD DKI.

Laksono Menegaskan bahwa kesimpulan sementara adalah DKI sudah mengalami lonjakan. wisma atlet adalah contoh lonjakan. DIY belum ada lonjakan, kapasitas masih mencukupi. Akan mengumpulkan data sekunder, akan dilihat apakah DKI puncak wabah sudah lewat.  Akan ada penelitian yang lebih detil, SDM, Pembiayaan, logistik, IT, sistem dan struktur, regulasi, peran swasta.

Prof Anwar Musadad mengatakan bahwa multi site study ini bagus dan penting, bagaimana membuat standar variabel dan critical item yang musti dimunculkan, jangan sampai nanti jangan hanya memaparkan yang ada, yang tidak ada tidak dipaparkan. Seperti di DIY ada yang kosong ada yang isi, sementara DKI seperti isi semua tapi sebenarnya ada yang kosong. Lingkupnya terlalu komprehensif, apakah semuanya.  Sumber – sumber informasi selain gugus tugas tapi BPBD juga perlu. Termasuk pembiayaan kasus, memonitor pendatang, pencegahan, penyemprotan dan social distancing dan responnya. Prof Anwar tidak melihat aspek komunitas atau di gugus tugas, dan rumah sakit tapi belum melihat di pelayanan dasar (puskesmas) atau swasta.

Laksono mencoba melihat konteks waktu, DKI sebagai episentrum. Melihat DKI dengan kelengkapan fasilitasnya dibandingkan dengan di DIY. Penelitian menggunakan pendekatan surge capacity, ini model yang dipakai berbagai dunia. Referensi surge banyak di dunia, namun tidak di indonesia. SIstem kesehatan wilayah mencakup semuanya termasuk swasta, maka dari itu ada penelitian yang lebih detil.

Putu Eka menyatakan bahwa pelayanan primer akan masuk kesana, karena pengambilan data baru satu pekan dan belum menjaring pelayanan primer. Direncanakan akhir Mei akan selesai dan scope penelitian ini lebar.

Kusmedi yang pernah menjabat sebagai Kadinkes DKI mengatakan bahwa 25 tahun ada di kebencanaan, situasinya tidak berubah. Saat ini BNPB belum berfungsi seperti yang diharapkan pemerintah. DKI cukup mampu apabila manajemen dan memecahkan permasalahan dengan baik. kusmedi menyatakan tidak setuju menjadikan satu antara pasien COVID-19 dengan non COVID-19. Semua rumah sakit terpaksa menggunakan APD, padahal tidak semua rumah sakit perlu mengelola COVID-19. Jakarta menjadi episentrum, harus dikarantina agar pembiayaan terkontrol, juga pada rumah sakit yang menangani pasien COVID-19.  Apakah ada kontijensi Plan yang disosialisasikan ke semua orang?

Laksono menegaskan BNPB tidak terbiasa menangani pandemi, sehingga tergagap – gagap. Penelitian ini mengungkapkan fakta fakta, mendapatkan penyakit baru, mempunyai kontigensi plan terkait COVID-19, namun tidak ada karena COVID-19 adalah hal baru.

Sugianto menyampaikan bahwa sampai saat ini sudah mambangun 9 kajian, terkait dengan kepatuhan sosial distancing, 3 lagi terkait dengan pembiayaan di rumah sakit dan bagaimana kebijakannya. Struktut, bagaimana kapasitas peran puskesmas untuk mendeteksi COVID-19. Hal yang dibutuhkan ialah menampilkan bagaimana critical item, apa yang lebih akan dilakukan. Ketika ada skenario yang dibangun, juga dipetakan kebijakan yang blank spot. Penelitian ini Bisa dijadikan model, seandaianya semua provinsi melakukan makan ada ilmu yang sangat banyak.

Renta dari BPRS mengatakan apakah ada penelitian tentang ketidakjujuran pasien, ini menjadi penting,  untuk menjalin kerjasama pasien dengan tenaga Kesehatan. Laksono menyambut dan mendorong BPJS membuat proposal tersebut yang akan dibantu PKMK. Apabila bisa meneliti lebih lanjut akan menjadi masukan khasanah pendidikan.

Pada akhir diskusi bahwa Litbang siap membantu dalam penyediaan data DKI atau membantu analisis penelitian COVID-19 dan kesiapan surge. Tujuan penelitian ini untuk mendokumentasikan, menganalisis, dan mengusulkan. Belajar dari DKI Jakarta, wisma atlet dibuat sebagai rumah sakit darurat juga ada tambahan ruang isolasi di rumah sakit, apakah sustain atau tidak, juga mengenai keamanannya. Yuslely, Siswanto, Banjar, Kusmedi & Anwar siap membantu penelitian untuk DKI.

Reporter: Husniawan P (PKMK UGM)


Unduh Materi

 

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments