Reportase Webinar The New Era Of Safety And Productivity After Covid-19

Klinisi Primer Klinisi Rujukan Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan Reportase Kegiatan Tenaga Pencegahan

PKMK – Yogya (29 April 2020). Pandemi COVID-19 yang saat ini melanda Indonesia, memberi dampak serius pada situasi dan kondisi masyarakat. Selain kesehatan masyarakat, pandemi ini juga berpengaruh pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Meskipun masyarakat sudah mulai terbiasa dengan pola work from home (WFH) serta muncul kesadaran untuk lebih menerapkan pola hidup bersih, Namun hal yang menjadi pertanyaan besar masyarakat adalah, kapan situasi ini akan berakhir, apa yang bisa dilakukan pada situasi seperti ini dan antisipasi apa yang harus dipersiapkan? Kalimat tersebut menjadi pengantar yang disampaikan oleh DR.dr. Andreasta Meliala, M.Kes, selaku moderator pada diskusi dengan tema The New Era of Safety and Productivity After COVID-19.

Diskusi virtual ini diselenggarkan oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM bekerjasama dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama, serta Equinim. Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, dihadirkan 2 orang pembicara yaitu dr. Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D selaku Ketua Pusat Kedokteran Tropis dan ahli epidemiologi FK-KMK UGM dan Serryn O’Regan selaku direktur Equinim, Australia. Adapun 2 orang pembahas adalah Fahmi Akbar Idris selaku Pimpinan Nahdalatul Ulama DIY dan Pengurus Nasional Lembaga Perekonomian NU, serta George Marantika selaku perwakilan Kadin Indonesia.

Sebagai epidemiolog, Riris menjelaskan tentang situasi wabah COVID-19 di Indoesia yang masih sulit diperkirakan kapan akan berakhir karena sampai saat ini belum hasil studi prevalensi kredibel yang bisa menjelaskan situasi terkini. Memang ada beberapa prediksi secara matematis bahwa wabah akan berakhir pada akhir Juni atau September namun belum bisa dijadikan pegangan. Seperti penurunan kasus orang terinfeksi di Jakarta belum bisa menggambarkan kondisi yang sebenarnya karena hanya terlihat di daerah tempat terjadinya infeksi. Padahal di Indonesia sangat mungkin terjadi transmisi penyebaran menjadi luas karena secara kultural, pola social mixing sangat cair (usia tua muda),  manakala setiap orang sangat mudah bertemu dari setiap lapisan usia dan tingkat sosial pada momen mudik dan lebaran. Tentu saja hal tersebut dapat memperpanjang masa outbreak. Maka, harus ada perubahan paradigma mayarakat dalam melihat situasi the new normal ini yang setiap orang harus beradaptasi dengan situasi yang baru, respons bencana harus diubah menjadi systemic respons oleh pemerintah untuk menjalankan strategi jangka panjang agar pandemi dapat mereda dan masyarakat bisa tetap produktif,”  tutur Riris.

Perspektif berbeda disampaikan Serryn, pandemi ini bisa menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menerapkan the new culture dengan mengembangkan protokol keselamatan pada aspek kebersihan dan pengendalian infeksi di masyarakat. Untuk itu Serryn mengajukan 3 pendekatan yaitu, Training, Certification and Regulation. Dengan 3 pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun kembali rasa saling percaya dan percaya diri masyarakat yang kemungkinan rapuh akibat pandemi ini. Dengan demikian masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan baik dan kembali produktif untuk bangkit dari situasi keterpurukan akibat pandemi. “Diperlukan peran para pemimpin di segala level untuk dapat menerapkan strategi ini dan mencapai hasil yang diharapkan” pungkas Serryn.

Sebagai pembahas, Fahmi Akbar menggarisbawahi istilah the new normal yang bagi kalangan Nahdhiyin berimplikasi luas. NU dengan segala tradisi sosialnya yang sangat kuat memang harus mampu beradaptasi dengan situasi yang berubah ini. “Kami di NU sudah cukup antisipatif terkait protokol kesehatan, tapi kalau untuk ekonomi bagaimana membangkitkannya lagi atau re-start perlu upaya yang sangat besar” tutur Fahmi.   Sedangkan pembahas lainnya, George menekankan upaya perbaikan dan strategi harus dimulai secepatnya, dengan membangun protokol keselamatan yang diusulkan Serryn agar pada  Juli sudah bisa Action untuk memperbaiki tingkat konsumsi dan permintaan di masyarakat. Reporter: Nusky Syaukani (PKMK FK – KMK UGM)


Unduh Materi
Kapan Covid -19 Akan Berakhir_dr Riris Andono Ahmad, MPH, Ph D
Prev 1 of 2 Next
Prev 1 of 2 Next
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments