Reportase Webinar Isu Strategis Covid-19 : Analisa Biaya & Simulasi Klaim Pelayanan Covid-19 dI RS

Pengambil Kebijakan

PKMK – Yogya (30 April 2020). Kasus COVID-19 terus bertambah setiap harinya di Indonesia. Namun, penanganannya masih belum maksimal. Permasalahan terkait ketersediaan fasilitas dan pembiayaan pelayanan menjadi faktor utama. Oleh karena itu, PKMK FK – KMK UGM kembali menggelar diskusi yang bertajuk Isu Strategis COVID-19 : Harapan – Kenyataan dan Solusi (pada 30 April 2020 di Yogyakarta. Diskusi menghadirkan berbagai macam pemangku kepentingan, seperti perwakilan dari Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, rumah sakit dari beberapa daerah, hingga peneliti.

Acara dibuka oleh dr Kuntjoro Adi Purjanto dengan memaparkan hal apa saja yang harus diperhatikan oleh rumah sakit dalam memberikan pelayanan. Beberapa faktor yang diperhatikan, yaitu efektif, safety, people center care, dan efisien. Saat ini, sebagian besar rumah sakit mengalami kerugian hingga 40 persen. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari beberapa pihak dan dipimpin oleh Usman Sumantri sebagai moderator.

Membuka diskusi, Kalsum Komaryani, MPPM., Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan, memaparkan konstruksi pembiayaan pemerintah terhadap pelayanan COVID-19. Saat ini, pembiayaan yang diberikan oleh pemerintah meliputi beberapa pelayanan, yaitu administrasi, akomodasi, jasa konsultasi dokter, tindakan, obat, ventilator, BHP, pemeriksaan penunjang, APD di dalam ruangan, dan biaya pemulasaran jenazah. Namun, untuk rapid test masih belum termasuk dalam paket pembiayaan tersebut.“Saat ini, baru 28 rum ah sakit saja yang memasukkan klaim ke kami,” ujar Kalsum.

Jumlah klaim yang masih rendah diakibatkan oleh ketidakpahaman tentang proses klaim seperti persiapan dokumen – dokumen terkait hingga proses perubahan status dari pasien JKN menjadi pasien COVID-19 atau sebaliknya.  Kalsum menegaskan seharusnya rumah sakit secepatnya melakukan klaim karena rumah sakit tidak mengalami kerugian. Faktanya, setiap pasien COVID-19 diperkirakan membutuhkan biaya lebih dari Rp 100 juta untuk perawatan hingga dinyatakan sembuh.

Proses Verifikasi Klaim RS ke BPJS Kesehatan dalam 3 hari kerja

Pemaparan dilanjutkan oleh Andi Ashar dari BPJS Kesehatan yang menjelaskan skema klaim pelayanan COVID-19. Andi Ashar menjelaskan bahwa saat ini proses klaim dapat dilakukan dalam tujuh hari kerja. Proses verifikasi memakan waktu lebih lama karena pemeriksaan dokumen harus sesuai dan teliti untuk menghindari potensi dispute. Hal tersebut dapat terjadi karena pasien memiliki penjaminan lain seperti melalui JKN. Masih rendahnya tingkat klaim juga disebabkan oleh proses adminstrasi yang lambat, pembaruan aplikasi, dan pemahaman terhadap regulasi yang ada.

Diskusi juga menghadirkan Drs. Widartoyo, Ak., MM, M.Si., CPA, CA yang memberikan pemaparan tentang pembiayan di rumah sakit. Widartoyo memperkirakan saat ini sebagian besar rumah sakit rujukan COVID-19 mengalami kerugian. Selain karena sepinya angka layanan  pasien yang turun hingga 50 persen, rumah sakit juga merugi akibat klaim yang terlambat, baik terhadap JKN maupun jaminan COVID-19. Perawatan pasien COVID-19 juga menghabiskan banyak biaya, seperti yang disebutkan sebelumnya mencapai Rp 100 juta per pasien. Oleh karena itu, untuk meminimalisir dampak, Widartoyo menyarankan beberapa hal yang dapat dilakukan oleh rumah sakit, seperti tambahan kontribusi modal pemilik, utang jangka panjang, dan pemanfaatan laba ditahan jika ada serta penjualan aset.

Dr. Fahrul Arbi, spA, MARS. memberikan gambaran perhitungan pada RS Budi Kemuliaan. RS Budi Kemuliaan bukan rumah sakit rujukan tetapi masih menerima pasien COVID-19. Oleh karena itu, Fahrul Arbi menyatakan bahwa RS Budi Kemuliaan memerlukan penambahan fasilitas ruangan baru dan membentuk tim satgas COVID-19. Perhitungan dilakukan dengan metode Time Driven Acitivity Based Costing (TDABC) berdasarkan aktivitas pasien yang disepakati dalam bentuk Integrated Clinical Pathway.

Salah seorang peserta, Ir. Miftahur Rohim, M. Kes, menanyakan tentang proses klaim pada penyakit yang tingkat urgensinya tinggi, seperti stroke atau diabetes dan diharuskan melakukan rapid test terlebih dahulu. Dr. Kalsum Komaryani, MPPM. menjelaskan saat ini permasalahan tersebut masih dalam tahap pembicaraan dengan pemangku kepentingan, seperti rumah sakit dan BPJS Kesehatan. Beberapa hal masih dalam pertimbangan seperti siapa pihak yang menanggung dan bagaimana proses klaim yang dilakukan.

Berikut materi diskusi.

Reporter: Tri Muhartini


Pengantar: Analisa Biaya & Simulasi Klaim Pelayanan Covid19 Di Rumah Sakit-dr. Kuntjoro Adi P.
Prev 1 of 2 Next
Prev 1 of 2 Next
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments