Reportase Webinar dan Livestreaming Terapi Farmakologi dan Penggunan APD dalam Penanganan COVID-19 23 & 24 April 2020

Klinisi Primer Klinisi Rujukan

Webinar mengenai terapi farmakologi diselenggarakan pada  Kamis, 23 April 2020, sedangkan webinar mengenai penggunan APD dalam penanganan COVID-19 diselenggarakan pada Jumat, 24 April 2020 oleh Cochrane Indonesia yang bekerja sama dengan PKMK FK – KMK UGM.

Artikel ilmiah yang ditelaah pada webinar mengenai terapi farmakologi pada pasien COVID-19 berjudul “Pharmacologic Treatments for Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)A Review” oleh Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt (Ketua Program Studi Magister Farmasi Klinik, Farmasi UGM) dan dihadiri juga pembahas dari Dekan UNS Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P (K).

Pada artikel ini membahas hampir semua obat yang dikembangkan dan digunakan untuk terapi COVID-19. Terapi yang dijelaskan antara lain Chloroquine/hydroxychloroquine, Lopinavir/ritonavir, Ribavirin, Oseltamivir, Umifenovir (Arbidol), Remdesivir, Favipiravir (Avigan), Tocilizumab/sarilumab, Camostat mesylate. Artikel ini juga menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada satu pun obat antivirus yang terbukti efektif dan direkomendasikan untuk menanggulangi virus COVID-19.

Prof Zullies menyebutkan bahwa WHO saat ini merencanakan suatu SOLIDARITY trial untuk beberapa pengobatan yang digunakan seperti remdesivir, chloroquine/hydroxychloroquine, lopinavir/ritonavir, atau lopinavir/ritonavir plus interferon-β, diharapkan bahwa penelitian ini dapat memberikan data yang semakin lengkap dan valid untuk terapi COVID-19.

Prof. Reviono menyatakan bahwa tidak ada obat yang efektif saat ini karena persyaratan obat yang bisa direkomendasikan apabila data yang diteliti minimal 250 pasien dan terdapat penelitian in vitronya. Selain mencatumkan keefektifannya, perlu juga dijelaskan keamanan obat tersebut. Artikel ini tidak menyebutkan rekomendasi pengobatan, hanya untuk pertimbangan terapi yang sudah digunakan saja.

Kesiapan pandemi virus SARS-CoV-2 ini juga dipertanyakan, karena di seluruh dunia tidak siap dengan terapi apa yang harus diberikan. Penemuan antivirus lebih sulit daripada antibiotik dan juga penelitian antivirus yang berfokus pada COVID-19 sampai saat ini belum ada.

Beberapa uji klinis sudah dilakukan di tingkat global maupun yang masih berlangsung, namun semuanya masih memiliki keterbatasan pada metodologi penelitian, sehingga masih harus dikaji kembali efektivitas dari obat – obat ini.

Webinar hari selanjutnya membahas penggunaan APD dalam penanganan COVID-19 dengan menelaah bukti ilmiah yang berjudul “Personal protective equipment for preventing highly infectious diseases due to exposure to contaminated body fluids in healthcare staff (Review)” yang dipaparkan oleh Dr. dr. Andaru Dahesihdewi, MKes., SpPK(K) (Ketua Komite PPI RSUP dr. Sardjito) dan pembahas Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A (K) (Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK UGM) dan dr. Daeng M Faqih, SH, MH (Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI)).

dr. Andaru menjelaskan bahwa penggunaan kelengkapan APD pada tenaga kesehatan untuk menghadapi COVID-19 merupakan hal yang sangat penting demi keselamatan diri dan orang di sekitarnya. APD dapat menurunkan risiko penularan infeksi dari pasien ke tenaga kesehatan karena berfungsi sebagai pelindung diri sehingga meminimalkan terpapar dari sumber infeksi.

APD yang direkomendasikan WHO yaitu medical mask, gloves, long-sleeved gowns, eye protection (goggles or face shields), dan N95 over masks. Namun, CDC menyatakan bahwa tidak ada kebutuhan untuk gowns. APD yang overprotection dapat menimbulkan masalah karena dapat membuat pekerjaan lebih sulit, meningkatkan kesalahan dalam bekerja, dan juga data menunjukkan tidak terbukti menurunkan melainkan menaikan risiko. Risiko juga ada pada saat donning (memakai) dan doffing (melepas), karena terdapat self contamination.

Dr. Ida mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada petugas kesehatan maupun manajer pada fasilitas kesehatan ketika berhadapan langsung dengan pasien yaitu yang pertama bahwa pengendalian tidak semata – mata pada pemakaian APD, tetapi bagaimana pasien menerapkan sistem skrining sehingga petugas kesehatan dapat meminimalkan risiko terpapar. Yang kedua, petugas kesehatan perlu memahami level risiko transmisi pada penggunaan APD yang tidak terstandar, donning dan doffing APD serta ruangan yang harus memenuhi standar. Yang ketiga, adanya pelatihan berbasis video tentang APD agar lebih mudah dipahami dan diingat.

dr. Daeng juga menambahkan bahwa terdapat banyak modifikasi APD melihat kondisi saat ini. Kesiapsiagaan COVID-19 juga beragam, seperti pada RS rujukan COVID-19 berbeda dengan RS non rujukan dengan melihat kemungkinan besar yang datang ke RS khusus COVID-19 sudah diketahui positif COVID-19, sehingga tenaga kesehatan sudah memakai APD yang lengkap, namun karena banyak pasien COVID-19 yang statusnya orang tanpa gejala (OTG) yang menjadi penyebab penularan terbanyak pada tenaga kesehatan pada RS non rujukan. Sehingga IDI memberikan himbauan bahwa dalam praktik tatap muka pada pasien COVID-19 maupun tidak , tetap memakai APD yang lengkap.

Webinar yang diselenggarakan selama ini bertujuan untuk mengkaji informasi penelitian terkini tentang COVID-19, yang terus berkembang setiap saat. Kajian ini tidak ditujukan untuk memberikan rekomendasi keputusan medis namun, hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dalam pembuatan panduan pelayanan medis, yang dilakukan  oleh lembaga berwenang (Kementerian Kesehatan atau asosiasi profesi).

Reporter: Tim Cochrane Indonesia


Personal protective equipment for preventing highly infectious diseases due to exposure to contamina
Prev 1 of 1 Next
Prev 1 of 1 Next

 

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments