Reportase Webinar dan Livestreaming Kesehatan Mental Tenaga Kesehatan Selama Pandemi Covid-19

Klinisi Primer Klinisi Rujukan Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

22 April 2020-Masih terkait pandemi virus  corona, PERSI kembali mengangkat isu dalam topik webinar dan livestreaming dengan judul “Kesehatan Mental Tenaga Kesehatan Selama Pandemi COVID-19” dengan menampilkan narasumber dan Departemen Psikiatri FKUI/RSCM dan dari Departeman Ilmu Kesehatan Jiwa RSUD dr. Soetomo Surabaya /Unair yang dibahas oleh dr. Bambang Eko Direktur RS RSUP dr.Moh Hoesin Palembang dan Brigjen TNI dr. Agung Hermawan dari RSDC Wisma Atlit Kemayoran Jakarta.

Wabah virus corona ini dapat memicu stres bagi banyak orang termasuk dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang membantu penanganan wabah ini, studi mengenai dampak COVID-19 menunjukkan bahwa tingkat distress yang tinggi (72%) dengan tingkat yang sangat tinggi pada depresi (50%), ansietas (45%) dan insomnia (34%) pada mereka yang lebih lama melakukan kontak dengan pasien menjadi temuan penting dan perlu disoroti untuk lebih peka dalam menangani stres yang dialami oleh tenaga kesehatan, sehingga tenaga kesehatan tetap dapat berpikir jernih, merasa sejahtera, dan mampu menolong orang lain pada situasi kritis, ujar dr. Nalini Muhdi dari Departeman Ilmu Kejiwaan RSUD dr. Soetomo Surabaya.

Untuk itu diperlukan pengembangan buddy system untuk petugas kesehatan dengan menerapkan (misalkan) super tim bukan lagi superman, sehingga tim lebih saling mengenal satu sama lain termasuk d idalamnya saling mengawasi untuk menerapkan kebersamaan senasib seperjuangan agar terhindar dari stres traumatik sekunder (STS) dengan tanda – tanda munculnya rasa khawatir yang berlebihan dan takut pada sesuatu yang buruk akan terjadi, mudah terkejut atau perasaan waspada sepanjang waktu, mimpi buruk yang berulang – ulang hingga perasaan bahwa trauma orang lain adalah trauma dirinya, begitu penegasan dari dr. Nalini.

Sementara dalam studi pada masa bencana COVID-19 ini, tim dari FKUI dan RSCM mengamati kesehatan mental psikososial selama wabah COVID-19 di RSCM dengan melakukan langkah – langkah survei pada kebutuhan tenaga medis dan non medis untuk selanjutnya melakukan konseling. Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian responden (42.2%) memerlukan layanan kesehatan jiwa dan membutuhkan konseling serta psikoterapi yang dilakukan baik secara individu melalui online (telepon dan video call) maupun tatap muka langsung.

Hasil tersebut dilanjutkan dengan konseling dengan menggunakan media telepon dan tatap muka (video call) dengan melibatkan PPDS Psikiatri 12 orang dan DPJP 8 orang dengan total pendaftar 45 orang terbanyak adalah perawat dan dokter (termasuk dokter gigi dan PPDS) dan sebagian besar bertugas di ruang perawatan dan IGD, dari 45 orang yang terdaftar 38 orang telah menjalani konseling (34 melalui telepon, 3 melalui video call dan 1 melalui whatsapp).

Tim konseling telah memberikan masukan pada klien tentang , (1) Intervensi psikoterapi yang bersifat suportif, seperti berempati terhadap perasaan cemas yang mereka rasakan, penentraman dan mendukung terhadap apa yang telah mereka upaya seperti telah menggunakan APD, mandi setelah pulang kerja hingga memberikan situasi yang aman bagi klien untuk bercerita, ditambah dengan melakukan bentuk intervesni psikoterapi seperti dalam mengelola pikiran dan perasaan agar tidak merasa pesimis karena takut tertular telah merawat pasien PDP, takut mati karena anak anak masih kecil hingga merasa mereka telah dikorbankan untuk masuk dalam tim penanganan wabah ini. (2) Intervensi Psikoterapi dengan cara mengembangkan keterampilan adaptif seperti membatasi membaca informasi/akses sosmed, membuat diari (catatan harian) gejala fisik, merencanakan aktivitas bersama keluarga hingga bersosialisasi melalui video call, dan berbentuk relaksasi yang salah satunya menyebutkan kalimat pribadi yang bermakna positif seperti “mulai saat ini saya akan selalu tenang, rileks dan sehat”ujar dr. Petrin Redayani Lukman dari Departemen Psikiatri FKUI/RSCM

Dari sisi rumah sakit sebagai lembaga yang memberikan layanan pada pasien, dr. Bambang Eka Sunaryanto SpKj., MARS selaku direktur utama RSUP dr. Moh Hoesin Palembang memberikan gambaran penanganan pasien COVID-19  di RS yang dia pimpin, rumah sakit telah menerapkan sistem berjenjang untuk penanganan pasien mulai (second line) dari tingkat puskesmas/ PPK I /masyarakat baik dalam kategori pasien OTG/ ODP/ PDPmurni/ komorbiditas, yang kemudian apabila pasien dinyatakan positif dengan gejala PDP dengan pneumonia maka akan dirujuk (first line) ke RS penyangga rujukan seperti RSUD Siti Fatimah, RSUP Rivai Abdullah, RSUD Kayuagung dan RSUD Lahat atau dirujuk langsung ke RSUP dr. Moh Hoesin Palembang jika pasien mengalami gagal nafas dan memerlukan ventilator.

Guna mendukung pelayanan ini, maka RSUP dr. Moh Hoesin Palembang telah menerapkan sistem standar dukungan yang bersifat psikososial untuk para staf di RS, seperti mengupayakan ketersediaan APD standar kesehatan sesuai kebutuhan, menyediakan safe house untuk staf yang terindikasi ODP, pengaturan jadwal kerja staf dengan lebih fleksibel, hingga melakukan koordinasi lintas sektoral agar dalam mengambil langkah langkah yang cepat dan diperlukan, yang didukung oleh unsur pimpinan dan manajemen untuk menjadi role model dengan menunjukkan sikap tenang tidak panik namun tetap waspada.

Upaya penting yang harus dilakukan oleh setiap penyelenggara kesehatan dalam menangani wabah ini adalah perlu  jaminan keamanan, kenyamanan, upaya keselamatan, sistem pelayanan kesehatan, sistem rujukan dan keselarasan dalam penganan secara nasional maupun regional, serta pentingya bahwa semua sektor adalah stressor sehinga harus lebih tertib dan disiplin untuk melaksanakan semua ketentuan yang ada, ujar Brigjen TNI dr. Agung Hermawan dari RSDC Wisma Atlit Kemayoran Jakarta dalam menutup diskusi ini.(atuk item)


Pembahas2 Mental Health Pada Tenaga Kesehatan Di Masa COVID 19 Tri Prabowo
Prev 1 of 1 Next
Prev 1 of 1 Next
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments