Reportase Zoom Meeting Proposal Logistik di Masa Covid-19

Pengambil Kebijakan

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK – KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar diskusi Penelitian Covid 19 “Logistik di Masa Covid-19”. Diskusi ini dilaksanakan melalui zoom meeting pada kamis, 23 April 2020 pukul 15.30 – 17.00 WIB. Narasumber sekaligus peneliti adalah Luluk Lusiantoro, S.E., M.Sc., Ph.D,  dari FEB UGM dengan moderator Putu Eka dari PKMK.

Pembukaan diskusi dilakukan oleh moderator dengan membahas lonjakan pasien di masa pandemi sehingga berdampak ke semua aspek. Salah satu aspek yang penting  saat lonjakan adalah aspek logistik. Minggu lalu sudah dibahas proposal payung untuk penelitian mengenai lonjakan pasien, dan minggu ini dibahas proposal penelitian yang lebih detil. Dalam minggu lalu sudah dibahas proposal penelitian mengenai SDM dan pendanaan dan saat ini akan dibahas proposal penelitian mengenai logistik di masa pandemi COVID-19.

Persiapan pelayanan pada peralatan dan bahan habis pakai untuk melayani pasien covid di pelayanan kesehatan harus diutamakan. Tidak bisa membuat protokol yang sama terkait logistik untuk semua RS. Karena ada RS yang besar, dan ada yang kecil. Banyaknya APD yang “menghilang” dari pasaran, seperti Masker N95. Bagian logistik harus bisa menjelaskan kepada nakes, mengenai kondisi logistik di RS.

Penggunaan APD yang bisa melindungi nakes. Menjelaskan kepada nakes bahwa, bentuk yang lebih tidak bagus atau jelek, mungkin lebih bagus secara keselamatan daripada bentuknya yang bagus. Koordinasi antar bagian di RS harus baik. Bagian pelayanan dan bagian yang menyediakan perlatanan dan bahan harus selalu berkomunikasi.

Bagian logistik melakukan komunikasi yang aktif di semua bagian unit, mengenai ketersediaan APD dan lain – lain, supaya RS bisa memberikan pelayanan bagi masyarakat. Menjelaskan kepada tenaga kesehatan mengenai safety untuk peralatan dan bahan habis pakai. Untuk ketersediaan obat bisa menggunakan software pendukung dalam mempercepat pelayanan. Selain software, bagian farmasi harus memastikan inventaris dari kondisi obat-obatan di RS. Jangan sampai kekurangan dalam melakukan pelayanan. Menyusun standar minimal obat-obatan dalam kondisi COVID-19 ini.

Saat ini, masyarakat sudah mulai enggan ke RS, pasalnya RS telah dianggap sebagai tempat penularan COVID-19. Bagian logistik diharapkan siap jika adanya telemedicine. Tapi di sisi lain, klaim BPJS terkait  telemedicine belum bisa mendukung.

Logistik sampai saat ini merupakan bagian yang sangat penting. WHO memasukkan logistik merupakan salah satu aspek penting dalam menghadapi wabah COVID-19  dari 4 aspek penting, yaitu operasi, perencanaan dan keuangan/administrasi. Healthcare supply chain tertinggal dibanding komersial supply chain. Umumnya logistik dianggap hanya sekedar material, padahal logistik itu bukan hanya material, tetapi juga sampai pendistribusian. Supply chain, lebih luas lagi dibanding logistik, yaitu sampai pada fasilitas, sumber dan lain sebagainya.

Logistik RS saat pandemi COVID-19  ini bukan hanya pada internal RS, tapi juga saling berkaitan dengan organisasi lain seperti pemerintah, donatur dan relawan. Pada jaringan supply chain di RS saat ini, supplier bisa dari pemerintah, donatur dan lainnya. Dan konsumen bisa pasien COVID-19  dan pasien non COVID-19 . Kinerja supply chain diukur dari berbagai aspek dari fasilitas, sediaan, transportasi, informasi, sumber material logistik dan harga/biaya. Saat ini, isu yang ada bukan hanya ada pada logistik, tapi sudah ke supply chain, jadi sampai ke sistem pendukung logistik itu sendiri.

Terkait inventory, masalah yang akan muncul seperti kebutuhan APD yang tidak bisa diperkirakan. Fasilitas terkait ruang perawatan. Sampai saat ini, informasi kebutuhan APD untuk masing – masing RS Rujukan COVID-19  belum ada, dan ketersediaan APD di masing-masing RS juga belum ada. Transportasi untuk distribusi APD dana peralatan pendukung lainnya dirasa juga belum cukup memadai.

Saat ini, supply chain bukan hanya di ranah readiness tapi harus di posisi respon. Saat ini diharapkan tidak memikirkan efisien, karena kondisi sekarang ini terkait nyawa manusia, jadi inventory bukan hanya untuk mencukupi persediaan seperti biasanya, tapi juga harus bisa merespon kondisi apabila terjadi lonjakan pasien.

Strategic inventori harus disiapkan, dengan memulai dari peramalan kejadian COVID-19 . Logistik harus dilokalisasi untuk memudahkan dan mempercepat distribusi ke RS yang membutuhkan. Saat ini bukan saatnya melihat pesanan atau kebutuhan logistik, tapi harus sudah membuat sediaan terhadap barang – barang inventaris terkait COVID-19. Last mile logistik merupakan salah satu cara mengelola distribusi dari letak terakhir ke rumah sakit atau end user. Sangat penting dipikirkan, apakah dalam pendistribusian dilakukan oleh staf ware house dititik terakhir atau melalui relawan.

Laksono Trisnantoro menyampaikan juga bahwa jarang sekali penelitian terkait logistik medis. Jadi diharapkan bahan – bahan terkait logistik di lapangan dikumpulkan. Mungkin harus dilihat gap antara teori dengan praktek di lapangan.

Di akhir sesi, moderator menyampaikan bahwa proposal penelitian mengenai logistik sangat penting saat ini. Ketersediaan distributed warehouse menjadi sangat penting supaya proses distribusi persediannya dapat dilakukan dengan adil dan lancar. Reporter: Yos Hendra (PKMK UGM)


Unduh Materi
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments