Notulensi Webinar Kolaborasi Sesi VIII 23 April 2020

Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

Dapat disimpulkan beberapa hal sebagai  berikut:

  1. COVID-19 merupakan isu sensitif di masyarakat. Penyebarannya yang cepat menimbulkan ketakutan yang berlebihan dan menimbulkan kepanikan di masyarakat.
  2. Stigma masyarakat merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi tenaga kesehatan saat ini. Hingga 23 April 2020, PPNI sudah memperoleh 16 pelaporan kasus stigmatisasi perawat yang terjadi di Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, Sumsel, hingga Sulsel. Berdasarkan survey FIK UI dan IPKJI, 18% dari 2132 responden Perawat mengalami experienced Bentuk stigma terbanyak adalah kondisi masyarakat sekitar menghindar/menutup pintu saat melihat perawat, dan diminta menjauhi lingkungan tempat tinggal. Bahkan terdapat beberapa kasus hingga mengalami ancaman perceraian bahkan dipaksa bercerai oleh masyarakat.
  3. Bentuk penolakan tersebut tidak hanya dialami tenaga kesehatan, tetapi juga terhadap keluarga tenaga kesehatan, pasien, bahkan keluarga pasien. Stigma berakibat pada tekanan psikologis, kecemasan, penurunan motivasi, hingga gangguan proses keluarga. Bagi tenaga kesehatan, stigma jelas akan berdampak pada terhambatnya pelayanan. Dalam hal ini diperlukan pelibatan tenaga kesehatan dan semua pemangku kepentingan di Masyarakat intuk berperan sebagai change agent, edukator dan kolaborator untuk memberikan penyadaran, pengetahuan yang cukup mengenai substansi COVID-19.
  4. Dari sisi lain, persepsi masyarakat terhadap petugas kesehatan juga terbelah, di satu sisi terdapat anggapan mereka sebagai pejuang dan pahlawan kemanusiaan, di sisi lain muncul kecemasan akan potensi membawa/ menularkan penyakit sehingga berakibat pada penolakan.
  5. Saat ini kondisi sosial tenaga kesehatan mengalami penurunan karena mengalami beban kerja yang sangat tinggi, terisolasi, dan dikenai persepsi negatif (stigmatisasi) sehingga merasa kurang mendapat dukungan sosial. Dari sisi kondisi fisik, tenaga kesehatan juga merasakan kelelahan yang sangat hingga menurunnya daya tahan tubuh, serta risiko tertular yan tinggi. Dari sisi psikologis, tenaga kesehatan mengalami reaksi cemas tertular, ketidakpastian, kekhawatiran menulari keluarga hingga kebosanan.
  6. Dalam hal ini diperlukan dukungan psikologis yang cukup bagi tenaga kesehatan termasuk relawan yang bekerja langsung di lapangan. Disisi lain faskes juga harus mendukung dari sisi manajemen jadwal kerja, kesejahteraan, serta tempat/fasilitas yang memadai bagi Tenaga Kesehatan untuk relaksasi.
  7. Bagi masyarakat, pencegahan mispersepsi sangat diperlukan untuk menyampaikan informasi yang benar, dan memberikan ruang saling informasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat. Psikoedukasi kepada masyarakat diperlukan tentang promosi kesehatan secara umum dan prevensi serta yang terpenting tentang bagaimana publik harus bersikap dan berperilaku pada situasi saat ini. Dalam hal ini harus didorong sikap gotong royong untuk saling mendukung di masyarakat.
  8. Secara khusus juga diperlukan psychological first aid bagi kelompok masyarakat yang berpersepsi dan berperilaku negatif terhadap tenaga kesehatan sebagai cara mempertahankan diri. Pendekatan ini dilakukan secara orang per orang. Hal ini penting agar kelompok masyarakat tersebut dapat mengatasi situasi dengan lebih adaptif dan pada akhirnya dapat merubah perilakunya.
  9. Upaya – upaya yang telah dilakukan saat ini oleh faskes, pemerintah pusat, dan daerah pada dasarnya patut dihargai, seperti yang sudah diupayakan oleh RSPI Sulianti Saroso. Namun demikian hal tersebut perlu didukung lebih lanjut melalui suatu kebijakan yang terintegrasi dan terstandar serta didukung pula oleh stakeholders dan masyarakat untuk saling mengadvokasi sehingga persepsi negatif atau stigma di masyarakat perlahan dapat dihapus dan berganti menjadi persepsi positif. Terima Kasih.

    Notulis: Rahmat Sentika

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments