Laporan Kegiatan Webinar Logistik Dalam Incident Command System (ICS) Penanganan Covid-19 di Rumah Sakit 23 April 2020

Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK – KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Workshop “Logistik Dalam Incident Command System (ICS) Penanganan COVID-19 di Rumah Sakit. Workshop ini digelar melalui zoom meeting pada kamis (23/04) pukul 10.30 – 12.00 WIB. Topik kegiatan hari ini adalah “pembahasan penugasan logistik dalam ICS” yang dibahas oleh Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt dan Sri Purwaningsi dari PPI RSUP Dr. Sardjito. Gde menyampaikan terdapat empat penugasan yang dibahas pada pertemuan ini yaitu penugasan dari Rumah Sakit Mata Pematang Siantar, Rumah Sakit Khusus Kanker Onkologi Sentani Kota Malang, RSUD Sleman, dan Rumah Sakit Charly Hospital Kendal.

  1. Pembahasan Penugasan Rumah Sakit Mata Pematang Siantar.

Setiap rumah sakit sebaiknya memiliki peta respon. Di Pematang Siantar telah ada rumah sakit rujukan nasional yaitu RSUD Dr. Djasamen Saragih. Jadi, pentingnya ICS yaitu rumah sakit bisa mengetahui logistik dimana Dinas Kesehatan pematang siantar berdekatan dengan RSUD Dr. Djasamen Saragih, jadi bila membutuhkan APD dan logistik bisa didapatkan di dinas kesehatan. Storage – nya RS Mata, gudang yang disediakan sebanyak 3 unit yang bisa digunakan untuk untuk farmasi, bahan medis habis pakai, dan logistik yang sudah memadai. Jalur transportasinya lebih mudah karena ada rumah sakit rujukan.

Konfirmasi dari Rumah Sakit Mata Pematang Siantar

Berdasarkan geografis, kami berdekatan dengan dinas kesehatan. Rumah Sakit Mata sudah berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan telah melakukan pemetaan seperti yang disampikan narasumber workshop ICS Logistik ini. Rumah Sakit Mata dalam kondisi darurat contohnya masuknya benda asing ke mata, kami melakukan screening terlebih dahulu sebelum dokter melakukan tindakan, apabila hasil screening menunjukkan resiko COVID-19, maka langsung dirujuk ke RSUD Dr. Djasamen Saragih, seperti itu SOPnya. Yang kami tegakkan dalam menanggapi adanya COVID-19, hanya tindakan kewaspadaan peningkatan jumlah APD. Jadi kemungkinan ada beberapa halangan yang kami alami, benar tidaknya screening yang kami alami ini, sesuai standar atau tidak, itu yang menjadi pertanyaan bagi kami? Sampai saat ini belum ada yang dirikirim karena belum ada resiko tinggi.

Gde Yulian

Rumah sakit sudah sadar jadi tidak banyak menuntut diprioritaskan. Flow seperti ini yang menambah efektifitas dan efisiensi. Semoga pasien positif COVID-19  tidak bertambah, karena begitu terjadi overload, barulah RSUD Dr. Djasamen Saragih mencoba memilah pasien. Itulah COVID-19  komunikasi kita sampaikan, komunikasi outreach – nya sudah tinggi, kemudian menjadi kasus manajemen. Kita tidak berharap sampai seperti itu. Semoga dengan ICS ini, informasi komunikasianya bisa efektif, logisitknya disiapkan untuk mengantisipasi surge capacity.

  1. Maya direktur RS Mata Pematang Siantar

RS Mata Pematang Siantar sampai saat ini belum mendapatkan hasil screening yang diduga suspect COVID-19, tapi secara teknis rumah sakit siap. Jadi, untuk sistem ICS sangat menolong sekali buat kami. Saya berterima kasih sekali, dan ilmu ini akan kami bagi kepada rumah sakit lain. Sementara, kami juga sudah punya tim disaster rumah sakit. Penerapan PPI sudah dilakukan sesuai dengan standar akreditasi yang diintegrasikan dengan pedoman penanganan covid revisi ke IV dari kementerian kesehatan. Kami memilih untuk tidak membebani tempat lain seperti pengadaan APD dari Dinas Kesehatan. Rumah sakit telah mengeluarkan kebijakan untuk menjadwal ulang semua tindakan operasi, namun banyaknya tuntutan dari masyarakat maka kami membatasi tindakan operasi hanya 5-6 orang untuk mengurangi risiko. Menjalan operasi, direktur sudah menyiapkan standar pemakaian APD dan pemilahan untuk pasien dan untuk dokter DPJP. Saya selaku direktur mengucapkan terima kasih karena setelah ada workhsop ICS ini kami bisa memetakan penggunaan logistik di rumah sakit selama pandemi COVID-19. .

  1. Pembahasan tugas Rumah Sakit Onkologi Sentani Kota Malang

Pada Rumah Sakit Onkologi Sentani Kota Malang terdapat ODP dan PDP yang cukup banyak di Kota Malang dan juga ada pasien positif. Transitnya pasien COVID-19  di rumh sakit menggunakan sistem ICS dan HDP untuk menjamin keselematan dan kemanan tenaga kesehatan di pelayanan kesehatan. Dengan kondisi pasien seperti diatas, potensi tenaga kesehatan terpapar lumayan tinggi sehingga harus selalu waspada menggunakan APD dan melaksanakan SOP dengan tepat. Hal ini bagian dari ICS. Sumber bantuan eksternal sudah ada, gudang penyimpanan cukup luas dan SOPnya sudah cukup baik. Sudah ada kesiapan dalam ruang isolasi transit dimana kebutuhan APD cukup pada level 2. Penggunaa APD dalam ICS harus bijak. Ketika pasienya sudah tinggi, maka angka ini bisa menjadi media advokasi pada Dinas kesehatan untuk interoperabilitas, namun harus memperhatikan posisi rumah sakit. Peta respon Rumah Sakit Khusus Kanker Onkologi Sentani Kota Malang cukup strategis untuk melakukan rujukan dengan RS lain karena dekat dengan rumah sakit rujukan nasional.

Konfirmasi dari Ibu Sri, Rumah Sakit Onkologi Sentani Kota Malang

  • Jadi dinas kesehatan kota Malang sangat bagus sekali dalam penanganan COVID-19 sehingga kami selalu mendapatkan informasi. Pertama, Dinas kesehatan kota malang meminta kami untuk menghitung APD yang kami butuhkan, itu sudah kami hitung tapi karena kami bisa menyediakan sendiri, jadi kami tidak masuk dalam mendapatkan sumbangan dari dinas kesehatan kota Malang. Kedua, sudah ada SK penetapan rujukan yang di tujukan pada empat rumah sakit rujukan di kota Malang.  Kami tidak bisa melayani pasien covid, untuk itu kami meyediakan transit isolasi sebelum dirujuk. Di ruang transit isolasi kami menggunakan APD level 2 dan paling lama diruang isolasi transit selama 2 jam sesuai saran dari tim PPI RSUP Dr. Sardjito dalam Workshop ICS ini yang dimana sebelumnya kami berpolemik melaksanakan itu.

Gde Yulian

Saya coba akan revisi lagi peta responnya. Dinas Kesehatan Kota Malang sangat aktif. Adanya SK tadi, mungkin RS bisa buat jejaring untuk rujukannya.

  1. Pembahasan tugas RSUD Sleman

RSUD Sleman memiliki fasilitas dan SDM cukup banyak. 5% tempat tidur dialokasikan untuk pasien COVID-19. Populasi yang dilayani 1/3 dari populasi DIY. Populasi ODP dan PDP tinggi, dan sudah ada positif. Sudah ada bantuan dari Dinas Kesehatan, LSM. Banyaknya bantuan logistik dari luar sehingga perlu dipikirkan luas gudangnya. Juklak dan SOP sudah ada beberapa untuk COVID-19. Surge capacity – nya, tenaga kesehatan kurang, APD tidak mencukupi dan tempat rawat inapnya. Saya coba menghitung surge capacity RSUD Sleman mengunakan tools WHO. Berdasarkan hasil perhitungan dalam 5 minggu kedepan, RSUD membutuhkan 2 ruang ICU dan 37 tempat tidur. Data ini bisa digunakan untuk advokasi dinas kesehatan maupun stakeholder yang lain. Selain itu kebutuhan tenaga kesehatan sebanyak 63 orang. Sehingga RSUD perlu mengadvokasi stakeholder untuk mengatasi surge capacity, pertama: menambah relawan, tenaga kesehatan juga fasilitasnya, kedua, menghimbau masyarakat untuk tidak mudik. Peta respon, RSUD Sleman merupakan salah satu RS rujukan yang ditetapkan gubernur.

Konfirmasi dari Bu Ratih dari RSUD Sleman

  • Mungkin sedikit revisi, kemarin saya buat 2, tapi tadi itu jumlah ICU untuk pasien umum ada 8, tapi yang dikhususkan untuk covid baru 1 karena untuk sementara ICU covid di Ruang ICU bukan ruang tersendiri. Kita sudah buatkan standar untuk isolasi pasien covid. Untuk logistik dan tenaga, perhitungan ini kami berterimakasih sudah diberikan gambaran. Dari awal kita bukan rumah sakit rujukan, jadi APD yang disiapkan tidak begitu banyak. Tapi kemudian, dengan keputusan gubernur, RSUD Sleman dijadikan rumah sakit rujukan sehingga kami baru memulai menghitung kebutuhan logistik. Dari awal perhitungan logistik kita masih bingung mau berapa sebenarnya. Mengikuti pengalaman dari RSUP Sardjito, kami jadikan dasar perhitungan kebutuhan APD di RSUD Sleman. Sesuai dengan perhitungan dari pemateri PPI dalam workshop ICS ini, kami sudah bisa menghitung kebutuhan APD.
  • Sri Purwaningsi (PPI RSUP Dr. Sardjito)

Kalau kita lihat kondisi lapangan, kita tidak bisa menyiapkan RS dalam kondisi ideal. Pada saat ICU pasien COVID-19  masih menyatu dengan ICU pasien yang dirawat secara reguler, maka yang harus dilakukan: 1) menata secara tergradasi pasien-pasien penempatan pada zona tersendiri. Gunanya adalah untuk menata alur petugas melakukan kegiatan pelayanan pada pasien. Jadi alurnya ditetapkan mulai dari pasien berisiko rendah hingga yang beresiko tinggi. Kita tahu ICU itu tempat beresiko tinggi yang mana disana banyak tindakan aerosol sehingga potensi untuk mendapatkan paparan bagi petugas, atau resiko kontaminan pada pasien malalui petugas, itu harus ditata termasuk diantaranya pada APD. APD mana yang akan diterapkan pada pasien reguler maupun APD mana yang akan digunakan untuk pasien COVID-19, tentunya sebelumnya sudah melakukan asesment resiko terhadap pasien – pasien yang dirawat secara tergradasi. Mohon tidak lupa juga, cleaning service memonitor, penggunaan APD khususnya sarung tangan lebih baik menggunakan sarung tangan bedah tetapi setiap kali ganti area harus ganti bukan sarung tangan karet dan melakukan pekerjaan sampai akhir, resikonya akan lebih tinggi.

  1. Pembahasan tugas Charly Hospital Kendal

Charly Hospital Kendal. Kita lihat dengan struktur ICS, tempat tidurnya sudah tercukupi, ada ICU dan ventilator, SDM cukup, populasi yang dilayani cukup besar. Ada 5 tempat tidur untuk transit pasien covid. RS Charly Hospital merupakan RS triase untuk merujuk ke rumah sakit terdekat. Jadi apabila ada PDP disertai dengan penyakit lain, maka akan dirujuk ke RSUD dr. Soewondo, Kendal. Jadi kerena ini merujuknya terlalu jauh perlu dipikirakan transportasinya, karena di ICS logistik perlu memperhatikan APD di mobil ambulance. Penerapan SDM sudah ada MoU dengan Stikes untuk mengantisipasi ada lonjakan kasus. Dari peta respon, Charly Hospital lebih dekat dengan RSUP Karyadi Semarang.

Konfirmasi dari Rumah Sakit Charly Hospital;

  • Memang Charly Hospital masih baru dan lokasinya ada di Kendal Selatan berbatasan dengan kabupaten Semarang. Untuk rujukan, Charly hospital lebih dekat dengan RS Telogorejo daripada RSUD Kendal. Jadi untuk koordinasi mengenai COVID-19, koordinasinya melalui kabupaten. Selama ini kita tidak ada kendala melakukan rujukan ke tempat lain. Untuk mengantisipasi lonjakan, kita sudah bersurat ke Stikes Telogorejo untuk meminta bantuan tenaga.
  • Gde Yulian

Memang dalam situasi ini, case loadnya belum terlalu tinggi. Mesikpun mepet dengan kota Semarang, tetapi secara adminstratif menginduknya ke RSUD dr. Soewondo. Tapi perlu diperhatikan apabila terjadi lonjakan kasus.

  • Sri Purwaningsi (PPI RSUP Dr. Sardjito)

Dari jumlah tempat tidur yang sudah operasionalkan ada 36 tempat tidur, yang didedikasikan untuk pasien covid ada 5 tempat tidur. Jika terjadi lonjakan, kira-kira eskalasi penempatan pasiennya seperti apa? Apakah ada di area 36 tempat tidur ini? Dalam rangka persiapan, akan merekrut tim perawat, apakah sudah ada data, perawat seperti apa yang akan ditugaskan dalam tim perawatan untuk COVID-19. Mohon dilihat kompetensi dari perawat yang ditugaskan: 1) apakah sudah ada gradasi atau variasi komposisi perawat dengan kompetensi yang memenuhi persyaratan; 2) perawat yang ditugaskan adalah perawat yang tidak memiliki kondisi kesehatan yang tidak mendukung tugas misalnya perawat yang memiliki sakit komorbid DM, gangguan jantung, termasuk yang hamil tidak ditugaskan dalam tim; 3) lakukan drill secara bertahap terhadap perawat sesuai ketentuan pemakaian APD termasuk pengaturan alur pasien sehingga tidak terjadi kebingungan pada saat masuk dalam area tugasnya.

Reporter: Candra (PKMK FK-KMK UGM)


Matri dan video silahkan klik disini

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments