Reportase Webinar MENTAL HEALTH PADA TENAGA KESEHATAN DI MASA COVID-19

Tenaga Pencegahan

23 April 2020 – Forum Manajemen COVID-2019 FK – KMK UGM kembali mengadakan webinar seputar pandemi yang sedang terjadi. Kali ini mengundang Center for Economics and Development Studies (CEDS), Prodi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran untuk mempresentasikan hasil studi terbaru mereka yang berjudul: “Monitoring Dampak Pandemi COVID-19 : Tren Gejala Depresif, Kecemasan dan Burn out  Pada Tenaga Kesehatan”. Moderator diskusi kali ini adalah Dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA

Ketua Prodi IKM FKKMK UGM. Dengan narasumber adalah:

  1. dr, Deni K Sunjaya, DESS (Peneliti CEDS/Ketua Prodi MIKM FK Unpad)

    Unduh Materi
  2. Donny Hardiawan, SE,ME
Moderator, Narasumber dan Pembahas pada webinar kali ini

CEDS Unpad berinisiatif melakukan penelitian untuk melihat dampak pandemi COVID-19 terhadap kesehatan mental dalam jangka waktu satu bulan sejak diumumkannya kasus  positif di Indonesia dan juga apa yang harus dilakukan. Survei ini dilakukan kepada lebih dari lima ratus responden yang berasal dari tiga latar belakang yaitu: mahasiswa, tenaga medis dan wartawan, papar Donny Hardiawan. Pada presentasi kali ini disampaikan hasil untuk tenaga medis. Dalam paparannya Donny Hardiawan mengemukakan hasil studi timnya menunjukkan bahwa dari ketiga kelompok di atas, justru gejala depresi akibat dari dampak COVID-19 ini paling sedikit dialami oleh tenaga medis, yaitu sebesar 28.2%, sedangkan kelompok yang rentan mengalami depresi adalah mahasiswa. Lebih lanjut Donny  mengatakan bahwa kejenuhan kerja dan kejenuhan personal itu yang paling banyak dialami oleh tenaga medis.  Mereka yang memiliki gejala depresi cenderung juga untuk mengalami gejala burnout. Profesi yang paling banyak mengalami burnout: dokter spesialis dan yang paling rendah di laboratorium dan apoteker.  Untuk tingkat kecemasan, ditemukan bahwa 52.6% tenaga medis mengalami gejala kecemasan. Hal lain yang menjadi poin penting di sini juga adalah hampir setengah dari tenaga medis mengalami stigma negatif yang didapat dari lingkungan sekitar.

Dr. dr, Deni K Sunjaya, DESS kemudian melanjutkan untuk menyampaikan pembahasan penelitian. Dikatakan bahwa terdapat tiga risiko traumatik untuk tenaga kesehatan yang menangani pasien, yaitu gejala depresi, burn out, dan kecemasan. Selain itu faktor kesejahteraan seperti: nutrisi, waktu istirahat, dan jarang pulang ke rumah juga menjadi faktor penting untuk diperhatikan. Faktor yang berpengaruh lainnya adalah masalah kekhawatiran karena stigma di masyarakat juga perasaan pesimisme karena pendapatan yang berkurang, memikirkan keluarga, perasaan sendiri, sulit memusatkan pikiran dan peraaan tertekan. Adapun rekomendasi dari penelitian ini adalah untuk mencegah melonjaknya biaya sosial yang ditanggung oleh tenaga kesehatan sendiri saat depresi terjadi. Tenaga kesehatan perlu untuk diberikan layanan konseling kesehatan jiwa secara aktif. Pemerintah dapat memberikan insentif, penghargaan maupun asuransi kepada tenaga kesehatan yang menangani pasien COVID-19. Selain itu, dukungan institusi seperti pemberlakuan pembatasan jam kerja, komunikasi dan monitoring dampak yang berkelanjutan penting untuk dilakukan. Dukungan dari keluarga, teman dan masyarakat juga adalah hal penting di tengah situasi yang penuh tekanan seperti ini.

Pembahas pertama yaitu dr. Eka Viora, SpKJ dari PERSI yang memberikan argumen mengapa depresi rentan terjadi untuk tenaga kesehatan. Hal ini karena beban kerja mereka yang begitu berat. Apalagi ditambah dengan jumlah tenaga kesehatan yang makin berkurang karena sudah banyak yang positif. Kekurangan Alat Perlindungan Diri (APD) juga menjadi faktor yang mengganggu kesehatan mental. Selain itu stigma masyarakat, seperti kejadian tenaga kesehatan yang diusir dari tempat kos mereka pun semakin menambah beban kesehatan jiwa. Viora menyampaikan bahwa beberapa strategi yang bisa dilakukan adalah memberikan informasi yang berimbang dan tepat. Cerita – cerita positif  juga butuh diangkat oleh media. Memperlengkapi APD dan pemeriksaan COVID-19 secara berkala terhadap tenaga kesehatan juga bisa dilakukan untuk membuat mereka tenang dalam bekerja. Selanjutnya perlu dipikirkan  bagaimana memberikan konseling kepada tenaga kesehatan yang mengalami trauma.

Tri Prabowo dari PPNI DIY menambahkan mengenai perlunya pembatasan jam kerja tenaga kesehatan. Saat ini, ada rumah sakit yang sampai menerapkan 12 jam kerja karena kekurangan tenaga. Padahal tentu saja jam kerja yang lebih panjang akan mempengaruhi  kondisi fisik dan mental. Selain itu kesiapan dari tenaga kesehatan berupa pelatihan khusus sebelum mulai bekerja di bangsal COVID–19 pun perlu diperhatikan. Hal ini untuk menjamin nakes sebelum mulai bekerja untuk mempersiapkan psikis mereka maupun keluarga mereka. Selanjutnya dari Asosiasi Dinas Kesehatan yang diwakili oleh Kadinkes Kab Sleman dr. Joko Hastjaryo, MKes, menggarisbawahi pentingnya dukungan dari teman, keluarga maupun institusi pada kondisi seperti ini. Beliau mengharapkan bahwa penelitian ini harus ada kelanjutannya. Tenaga kesehatan perlu diperhatikan kesehatan fisik maupun mentalnya, agar mereka tidak merasa tertinggal.

Pembahasan selanjutnya adalah dari IDI yang diwakili oleh dr. Dharmawan Adi Purnama, SpKJ. Dharmawan menyampaikan bahwa harus ada pendampingan sejak awal kenapa tenaga kesehatan yang sudah mulai ada gejala depresi. Jangan menunggu depresi sudah berat, karena butuh waktu lama untuk anti depresan bekerja, sedangkan anti depresan itu mengakibatkan ketergantungan. Sehingga jika diberikan dalam keadaan sudah terlambat, maka butuh waktu lama juga untuk mengkonsumsi obat tersebut. Pemberian layanan psikoterapi itu baik, tapi perlu diingat juga untuk mencegah kecemasan dan gejala sulit tidur yang banyak dialami tenaga kesehatan.

Selanjutnya dr. Ronny Tri W, SpKJ (K), psikiater dari RSUP Dr. Sardjito menyampaikan mengenai survei skala kecil yang dilakukan beliau kepada 26 tenaga medis di RSUP Dr. Sardjito. Terlihat bahwa hampir semua responden tersebut mengalami kesulitan tidur, perasaan cemas dan juga perubahan kondisi fisik yang beberapa di antara mereka tidak bisa menceritakan hal itu. Oleh karena itu, pendekatan dalam hal dukungan sosial harus segera dilakukan. Bentuknya bisa seperti pendampingan, pemberian informasi, pendekatan emosianal maupun dukungan materil.

Dalam penutupan, narasumber dan pembahas setuju bahwa tenaga kesehatan perlu untuk diberikan persiapan dan juga perlu dukungan untuk mereka. Manajemen pandemi COVID-19 ini adalah tanggung jawab individu sampai pimpinan tertinggi dari fasilitas kesehatan. Prinsip penanganan bencana yang cepat dan tepat harus diaplikasikan. Melindungi tenaga kesehatan terutama kesehatan mental itu sangat penting di masa sekarang ini karena akan berpengaruh ke masa depan.

Reporter: Sandra Frans (PKMK UGM)


Pembahas2 Mental Health Pada Tenaga Kesehatan Di Masa COVID 19 Tri Prabowo
Prev 1 of 1 Next
Prev 1 of 1 Next
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments