Reportase Webinar Mengelola Kecemasan Pada Remaja Selama Masa Pandemi COVID-19

Reportase Webinar Mengelola Kecemasan Pada Remaja Selama Masa Pandemi COVID-19

Arsip Kegiatan Pendukung Reportase Kegiatan

Rabu, 15 April 2020 (Pukul 13.00-15.00)


Narasumber

  • Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.Kj, dari RSUD & PKU Muhammadiyah Wonosari
    (Bidang Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat PP PDSKJI)


    Unduh Materi

Moderator: Moderator: Dra. Y. Santi  Roestriyani, dari DP3AP2 DIY


Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DPPPAP2) DIY bekerjasama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM telah menyelenggarakan kegiatan Webinar dengan tema mengelola kecemasan pada remaja selama masa pandemi COVID-19. Webinar ini terselenggara karena saat ini sedang merebaknya wabah COVID-19, dimana kita tahu bahwa remaja merupakan proses dari anak-anak menuju dewasa sehingga remaja perlu membentengi diri dari rasa cemas, stres dan panik yang berlebih dari informasi yang didapatkan baik secara mandiri, ataupun dari berbagai media lainnya. Hadir sebagai narasumber  tunggal dalam diskusi tersebut yakni dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.Kj yang dimoderatori oleh Dra. Y. Santi  Roestriyani.

Sesi dibuka dengan pemaparan langsung oleh dr Ida selaku narasumber dengan menyatakan bahwa bicara tentang kecemasan, sebenarnya saat ini di masa pandemi COVID-19 semua orang dilanda cemas dari berbagai usia, tidak hanya remaja, begitupun orang tua, kalangan dan profesi, bahkan saat ini kita sedang dilanda kecemasan berjamaah. Khususnya remaja, mengapa kita penting berbicara cemas karena kedepan kita akan menghadapi bonus demografi, dan akan menjadi beban tersendiri jika kecemasan remaja tidak dikelola dengan baik, sedangkan remaja inilah yang kelak akan menjadi penghuni-penghuni  bonus demografi. Secara mental emotional, prevalensi gangguan mental pada usia lebih dari 15 tahun sebesar 9,8% dan data ini meningkat dibanding tahun 2013 berdasarkan hasil riskesdas. Kecemasan pada remaja terjadi sekitar 20% berasal dari remaja dengan usia 13-18 tahun (National institute of health-AS) serta sebanyak 7-10 remaja pada usia 13-17 tahun mengatakan bahwa kecemasan dan depresi adalah masalah utama (Pew research center AS).

Menurut dr Ida Sebenarnya rasa cemas merupakan anugerah, karena rasa cemas merupakan sebuah reaksi pertahanan diri, ketika seseorang tidak mempunyai rasa cemas, misalnya bebepergian kemanapun tanpa adanya rasa cemas maka  hal tersebut juga tidak baik untuk perlindungan diri, hanya saja masalahnya jika kecemasan itu berlebihan dan mengarah pada kecemasan yang patologis. Kecemasan dianggap mengganggu apabila kecemasan berlangsung hampir sepanjang waktu dan menunjukan reaksi panik yang berlebih dan yang bedampak pada gangguan fisik, koqnitif dan mengganggu fungsi peran dan sosial. Kecemasan yang sifatnya normal, dapat menolong diri sendiri, dan akan berkurang secara signifikan ketika suatu pemicu stres itu sudah menghilang. Disebut tidak normal, jika kecemasan itu bisa datang kapan saja, bahkan bisa membuat kecemasan itu menjadi sistematis yang membuat kecemasan semakin berantai, dan respon emotional menjadi tidak sesuai dengan apa yang dicemaskan. Jika sudah sifatnya disorder maka bisa memicu gangguan fisik sehingga membutuhkan manajemen tersendiri.

Berbagai bentuk reaksi cemas, ada yang namanya saraf motorik (gerak), saat cemas tanpa disadari kita mudah capek karena kita tidak menyadari ada yang salah dengan tubuh sehingga terjadilah ketegangan otot, tidak bisa relaks, gemetar dan mudah lelah. Kemudian terjadi reaksi otonom yang menjadi aktif karena dipengaruhi oleh persepsi kita sehingga tubuh merespon misalnya dada terasa berdebar, pusing, mual, BAB/BAK tidak lancar. Sebagai contoh ketika pemerintah memberlakukan social distancing, ada yang merespons biasa saja namun ada juga yang merespons berlebihan. Kemudian sampai pada tahap kewaspadaan meningkat dan konsentrasi berkurang yang mengakibatkan gangguan tidur, sensitif dan mudah lupa. Antara logika dan perasaan tidak sinkron.

Dr.Ida juga menyampaikan bahwa salah satu faktor resiko internal kecemasan yakni berasal dari Pola asuh, dari berbagai literatur bahwa orang-orang pencemas ketika dilakukan wawancara ternyata berasal dari orang tua yang juga pencemas, sehingga orang tua perlu berhati-hati. Menurut dr Ida bahwa tidak hanya artis saja yang harusnya pintar acting tetapi orang tua juga harus pandai acting terkait dengan mengontrol kecemasan. Karena ketika anak melihat orang tuanya yang cemas maka secara tidak langsung anak akan terbawa menjadi pencemas juga. Faktor internal lainnya yakni gangguan neurobiologi, kepribadian dan psikodinamika. Terdapat pula faktor resiko eksternal, misalnya informasi di media sosial tentang COVID-19 yang demikian meluas, ada yang informasinya memang benar dari sumber yang benar dan credible namun ada pula dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sehingga kesulitan memilih dan memilah mana yang benar, apalagi lingkungan dapat membuat situasi menambah kecemasan.

Tidak ada faktor tunggal yang membuat cemas namun multifaktoral. Dr Ida juga menyampaikan bahwa rasa cemas itu perlu dikelola karena rasa cemas dapat menurunkan kekebalan tubuh, memicu gejala fisik yang belum ada sebelumnya, mempercepat gejala fisik/penyakit fisik yang sudah ada serta dapat menurunkan produktifitas dan kinerja. Secara alamiah ketika ada Penyakit, maka antibodi akan berperang dulu melawan penyakit, tapi jika kondisi cemas hanya akan membuat antobodi kita menjadi turun sehingga mudah terserang penyakit. Selain cemas, terdapat pula gangguan panik, sebenarnya juga mengarah ke cemas tetapi agak erat dan bersifat serangan, dan biasanya masuk ke RS dengan penanganan ke UGD dan dalam beberapa kasus mirip gangguan jantung. Gangguan panik ada episode bebas serangan tetapi setelah tidak ada serangan menjadi biasa-biasa saja. kedua penyakit ini bisa saja terjadi pada kita, gangguan panik gejalanya lebih berat dan sifatnya serangan, seperti nafas jadi pendek seolah-olah ada diujung  tanduk.

Menurut dr Ida ada beberapa cara untuk menolong diri sendiri ketika menghadapi kecemasan yakni dengan mengenali pribadi kita, kenali tubuh kita, hindari paparan yang menimbulkan kecemasan, jaga jarak dari informasi yang mencetuskan kecemasan, hindari diskusi dengan orang yang pencemas, bertanyalah pada ahlinya bila ada informasi yang mencemaskanmu, sebaiknya kita langsung tanya pada orang yang mengerti karena justru kecemasan diberikan oleh orang-orang yang tidak kompeten memberikan informasi.  Beberapa cara mengatasi kecemasan dengan melakukan hobi/aktfitas yang menyenangkan, misalnya olahraga memiliki manfaat bagi kesehatan yakni memberikan efek endorfhin, makan gizi seimbang terutama protein agar menghasilkan antibodi agar kekebalan tubuh dapat berfungsi optimal.

Beberapa hal disampaikan oleh dr Ida sebagai cara untuk dapat menolong teman yang mengalami kecemasan yakni jadilah pendengar yang baik, bersikap tenang dan tidak menghakimi, tidak mengomentari atau menambahi informasi yang menambah kecemasan, mengarahkan teman untuk mendapatkan informasi yang benar, mengajak diskusi pada topik yang lain serta menyarankan aktifitas positif.  Sedangkan beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah kendalikan diri sendiri, karena orang tua adalah role model (bisa saja kecemasan pada remaja terinduksi dari kecemasan orang tua), memberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan tanpa menghakimi, mengajak berdiskusi untuk mencari solusi, membuat aturan bersama dalam mengisi waktu luang agar tidak berfokus pada hal yang mencemaskannya, melakukan aktifitas bersama serta libatkan anggota keluarga yang lainnya.

Penting untuk diingat juga bahwa dibutuhkan kontrol ke profesional jika kecemasan terjadi berlarut-larut dalam waktu yang cukup lama, timbul serangan panik, perilaku menjadi kacau, membahayakan diri dan orang lain serta menimbulkan gejala fisik atau memperberat gejala yang sudah ada. Kemudian presentasi dr Ida ditutup dengan menekankan kembali bahwa cemas pada remaja merupakan reaksi yang wajar dimasa pandemi, namun bila berlarut-larut dapat menyebabkan gangguan psikologis, fisik dan kognitif, dengan mengetahui gejala maka dapat menolong  diri sendiri, dibutuhkan peran keluarga  dan lingkungan, dan peran ahli dibutuhkan jika menimbulkan dampak berkepanjangan mengganggu fungsi peran dan sosial serta menimbulkan resiko gangguan prilaku atau membahayakan diri dan orang lain.

Jalannya diskusi berlangsung penuh antusias, peserta yang hadir sekitar ±70 titik secara online. Beberapa pertanyaan disampaikan, baik melalui sambungan telpon maupun melalui chat yang kemudian di bahas secara mendetil oleh Narasumber. Tidak lupa diberikan Informasi bahwa DP3AP2 DIY mempunyai layanan Telpon Sahabat Keluarga (TESAGA) apabila ingin bercerita dan mempunyai masalah maka tim dari DP3AP2 siap membantu untuk menguraikan permasalahan dan jangan takut karena rahasia terjamin, dapat menghubungi melalui line telepon, SMS WA 08771929211, FB (TESAGA DIY), IG (TESAGA_DIY), LINE, EMAIL yang bisa dimanfaatkan dalam masa pandemi jika merasa cemas.


Reporter: Andriani Yulianti , MPH


Mengelola Kecemasan Remaja pada Masa Pandemi Covid 19 dr Ida Rohmawati, MSc, SpKJ
Prev 1 of 1 Next
Prev 1 of 1 Next
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments