Reportase Webinar  “The Perfect Storm”: Coronavirus in Indonesia

Reportase Webinar “The Perfect Storm”: Coronavirus in Indonesia

Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan Reportase Kegiatan

9 April 2020


Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan  Keperawatan (PKMK FK – KMK UGM) kembali menyelenggarakan webinar membahas isu Pandemi COVID-19 dengan judul: Webinar “The Perfect Storm”: Coronavirus in Indonesia pada Kamis (9/4/2020). Webinar ini menghadirkan pembicara yaitu Gindo Tampubolon, yang saat ini menjabat sebagai Deputy Director  di Rory & Elizabeth Brooks Doctoral College, University of Manchester. Webinar ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa Indonesia menjadi “lahan basah” bagi Coronavirus.

Di awal pemaparan, Gindo menjelaskan bahwa faktor jenis kelamin, usia dan komorbid yang menyertai sangat memperngaruhi luaran dari Coronavirus, yaitu laki laki, usia produktif 40 ke atas, penyakit kronis jantung, darah tinggi dan diabetes.

Berbeda dengan SARS/ Ebola, dari pasien pertama hingga ke tujuh walaupun sudah tertular, namun bisa tidak bergejala dan cenderung dapat menularkan. Diperkirakan di Inggris saat ini terdapat 60 – 70% orang positif dan tidak bergejala. Sehingga Informasi yang jujur dan tepat waktu sangat diutamakan terutama untuk menangani wabah ini.

Model dinamik stokastik (4 kamar) penyakit menular digunakan untuk melihat perubahan tren penyakit yang bergerak bersamaan dengan waktu. Ini biasa dipakai di epidemiologi penyakit menular, untuk memahami pergerakan awal hingga akhir.

Terlihat pada gambar di atas adalah kotak Wuhan dan Luar Wuhan. Hasil dari analisa ini menjelaskan mengenai berapa jumlah orang yang tertular dari setiap orang yang tertular. Sebelum kota Wuhan lockdown, angka getok tular sekitar 2 – 3, namun turun drastis setelahnya, hingga 1 saja. Pesan lain dari sini adalah, tidak ada jaminan bahwa jika angka sudah menyentuh satu, selamanya akan seperti itu.


Apa yang Bisa Kita Ketahui?      

Terdapat 3 faktor kunci, pola yang pertama adalah jelas bahwa laki – laki lebih beresikio, dari semua negara yang memang mencatat dengan baik, tidak ada satu negarapun yang mencatat perempuan lebih banyak kematiannya.

Pola kedua adalah umur, banyak di Indonesia yang salah menerjemahkanya. Di Korea Selatan, tidak ada kematian di bawah 30 tahun, namun di atas 70 tahun lebih dari 7 persen, sama seperti di China. Di setiap kelompok umurpun, laki – laki lebih banyak mengalami kematian.

Pola yang ketiga adalah penyakit penyerta/komorbid, karena ini jarang ditekankan. Dari 2000 orang China yang meninggal dengan status menderita COVID-19, penyakit penyerta terbanyak adalah kanker, penyakit pernafasan, diabetes, jantung, dan darah tinggi. Yang unik adalah, penyakit kardiovaskular memiliki resiko lebih tinggi untuk kematian. Namun penyakin kronis paru-paru, tidak separah jantung, walupun virus ini menyerang paru – paru. Jadi, ini menarik dan untuk Indonesia sangat penting karena banyak di Indonesia orang beresiko penyakit jantung yang tidak sadar.

Apa Artinya untuk Indonesia?

Indonesia sulit memisahkan kelompok beresiko menengah dan tinggi, menurut NS, kelompok beresiko di Indonesia adalah 40 tahun ke atas. Ini disebabkan 70% orang Indonesia di atas 40 tahun memiliki resiko kardiovaskular, tidak terkecuali di desa. Faktor usia lebih mempengaruhi daripada jenis kelamin.

Hipotesa alostatik dapat dijadikan alasan bahwa laki-laki lebih beresiko. Ini memiliki arti yang besar untuk Indonesia, karena usia paling produktif. Berbeda dari di negara lain dimana resiko usia >70 tahun, yang mayoritas adalah pensiunan dan non produktif.

Pelajaran dari Inggris dan Amerika Serikat.

Tanpa adanya upaya pembatasan, Inggris bisa mengorbankan setengah juta orang dan Amerika Serikat 2 juta jiwa.

Dari tabel di atas dapat ditarik hasil bahwa semakin tinggi level pembatasan, semakin rendah pula korban jiwanya. Inggris memiliki patokan ruang gawat darurat dan tempat tidur di RS, supaya pasien tidak melewati patokan tersebut. Sehingga opsi – opsi di atas dapat dikombnasikan sehingga kurvanya di bawah garis patokan.

Jadi karena getok tular dapat berubah – ubah walaupun kurva sudah selesai, dan sifat wabah yang memiliki puncak yang berkala, sehingga yang utama adalah jumlah/kapasitas ruang gawat darurat selalu mencukupi untuk setiap puncak epidemi.

Inggris juga mengerahkan semua alat moneter dan fiskal untuk menganyam jejaring darurat karena  kesehatan beranyam dengan perekonomian. Contohnya adalah menurunkan suku bunga, korban pengangguran 80% gajinya ditanggung pemerintah dan semua tindakan yang  beresiko tinggi dilindungi negara, seperti pengiriman makanan dan obat.

Reportase: Albarissa Shobry (PKMK UGM)


VIDEO REKAMAN

Pengantar Webinar The perfect storm coronavirus in Indonesia
Prev 1 of 1 Next
Prev 1 of 1 Next
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments