Surge Capacity “Penanganan Limbah Medis di RS”

Surge Capacity “Penanganan Limbah Medis di RS”

Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan Reportase Kegiatan

Serial diskusi Surge Capacity dilaksanakan pada 8 April 2020 mengenai pengelolaan limbah medis rumah sakit  terkait dengan pasien Covid-19. Kali ini diskusi dengan fasilitator Sarwestu Widyawan dari PKMK FKKMK UGM juga narasumber dr. Lia Partakusuma (PERSI Pusat) dan dr. Yudi Amiarno (Direktur RSUD Pasar Minggu). Pasien COVID-19 semakin bertambah,s alah satu dampak yang ada adalah limbah medis.

dr Yudi sebagai narasumber pertama menyampaikan RSUD Pasar Minggu sebagai rumah sakit rujukan COVID-19 yang terpikirkan pertama adalah menyiapkan sarana dan pra sarana, akan tetapi pengelolaan limbah medis belum terpikirkan, sedangkan pengelolaan  limbah medis penting untuk disiapkan. Umumnya, limbah medis RSUD dikelola oleh pihak ketiga. Mengelola limbah medis dikelola dalam satu tempat yang aman, semacam drum lalu dikemas dengan aman. Semua limbah medis infeksius lebih banyak dari pada biasanya. Limbah medis yang biasa 12 ton dan ditambah pasien infeksi. dr Yudi mengemukakan, semenjak RSUD Pasar Minggu menjadi rujukan COVID-19 membuat kunjungan RS menurun dan limbah medis yang biasa menjadi 2 ton tiap bulan. Alur penanganan limbah medis mulai dari pasien ditampung plastik, dilakukan disinfeksi, lalu dimasukkan ke dalam drum diberi tanda limbah infeksius selanjutnya dikelola oleh pihak ketiga.

dr Lia narasumber berikutnya menyatakan masalah limbah termasuk dampak dari penanganan COVID-19 . Alat pelindung diri (APD) membuat limbah medis menjadi melimpah tiap pasiennya sebanyak 14,3kg per hari. Sisa pemakaian pasien COVID-19  harus dilakukan tindakan disinfeksi terlebih dahulu. Ada beberapa sumber limbah medis dari pasien masuk, baik oleh petugas dan pasien, radiologi dan laboratorium, selanjutnya poliklinik, kamar operasi, ambulance, bahkan kamar jenazah. Limbah harus dikemas baik agar tidak dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk dipakai kembali. dr Lia menegaskan bahwa harus dilakukan pra penanganan limbah, identifikasi, klasifikasi dan komunikasi. Efisiensi harus dilakukan, misal re se masker N95 dengan cara pemanasan/sterilisasi namun diberi tanda. Penyediaan APD lengkap juga harus dipakai oleh pengelola limbah karena risiko terpapar cukup tinggi. Selain itu, edukasi limbah yang dihasilkan pasien yang isolasi mandiri dirumah penting untuk dilakukan.

Saat ini Incenertor yang aktif hanya 82 unit, pengolah limbah hanya ada 12 seluruh Indonesia. Hal ini menjadi masalah baru karena terdapat 506 RS rujukan COVID-19 ditambah lagi rujukan dengan SK Gubernur.  Di beberapa daerah hingga aat ini belum ada pengelola limbah yang mampu sesuai dengan peraturan. Persi mengusulkan adanya incenerator untuk daerah yang kesulitan pengolahan limbah, misal di NTT. Pemerintah daerah juga bertanggung jawab atas pengolahan limbah. Juga tempat penampungan sampah sementara ada syarat khusus dan berizin juga harus ada tempat khusus.

dr Yudi menambahkan bahwa perlu antisipasi lonjakan limbah pasien. Saat ini pihaknya menyiapkan 200 bed pasien COVID-19, saat ini total 106 pasien sudah dirawat. Menghasilkan limbah per pasien 5-7 kilogram per hari di RSUD Pasar Minggu dan itu belum termasuk APD petugas.

Pengunjung rumah sakit juga harus diedukasi terhadap limbah infeksius. Tempat sampah khusus masker juga bisa dilakukan agar tidak sembarangan membuang masker. Di Korea, saat isolasi mandiri di rumah mengelola masker yang digunakan untuk mencegah penularan.

Terkait dengan biaya pengolahan. Apabila RS melakukan kontrak dengan pihak pengelola limbah, maka dibayar sesuai biaya yang disepakati. Sehingga penambahan limbah infeksius tidak berpengaruh terhadap biaya pengelolaan limbah. Di sisi lain, rumah sakit yang tidak melakukan kontrak, maka bertambahnya limbah infeksius menambah biaya yang ditanggung oleh rumah sakit. Salah satu RS vertikal mengalami peningkatan sekitar 30% biaya pengolahan limbah medis. Selain itu PERSI mendorong agar ada harga standar pengolahan limbah medis per kilogram agar tidak terjadi kesenjangan antar daerah. Apabila tidak memiliki penyimpanan khusus limbah infeksius, limbah medis juga bisa disimpan difreezer khusus limbah untuk penyimpanan limbah apabila terjadi penumpukan akibat keterlambatan pengelolaan limbah. Selain itu, limbah sisa makanan pasien COVID-19  juga dianggap infeksius. Maka, harus dibersihkan dengan baik, yang mencuci bekas makan minum pasien  menggunakan sarung tangan dan harus direndam. Bahkan limbah rapid test juga termasuk limbah infeksius, selayaknya diperlakukan seperti limbah infeksius lainnya.

Reporter: Husniawan Prasetyo (PKMK UGM)


VIDEO REKAMAN

 

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
djania selfara
7 months ago

Gimana caranya untuk mengelolah limbah medis covid 19 di RS