Reportase Webinar  Surge Capacity: IT 7 April 2020

Reportase Webinar Surge Capacity: IT 7 April 2020

Reportase Kegiatan

PKMK FK – KMK mengadakan webinar surge capacity untuk bidang IT dalam penanganan COVID-19 di wilayah D.I. Yogyakarta pada Selasa (7/4/2020). Narasumber  yang hadir dalam webinar kali ini antara lain Insan Rekso Adi M.Sc., dr. Luthfan Lazuardi PhD, Anis Fuad, S.Ked., DEA,  dr. Guardian Sanjaya M.HlthInfo dan  Daniel Oscar Baskoro, M.Sc.

Sebagai pembuka, Insan menyampaikan bahwa situasi kondisi saat ini sudah banyak relawan yang berupaya untuk melakukan sharing data terkait situasi COVIID-19. Beberapa yang terkenal adalah Kawal COVID yang menyajikan tren jumlah penderita dan lokasi rumah sakit rujukan, STOPCOV.id yang memetakan logistik kebutuhan fasilitas kesehatan dan SONJO yang merupakan kegiatan kemasyarakatan yang berisi jual beli pangan dan dashboard kebutuhuhan logistik medis berbagai lembaga di wilayah Yogyakarta. Kekurangan yang dihadapi dalam pengembangan ITC adalah minimnya  supply data dari fasilitas kesehatan, sehingga data sulit untuk memprediksi kebutuhan logistik ketika surge capacity terjadi.

PKMK FK – KMK UGM berinisiasi membuat prototipe untuk mekanisme tersebut untuk wilayah yogyakarta terlebih dahulu. Prototipe berisi peta rujukan COVID-19, prototipe menunjukkan peta kondisi RS dan logistik RS. Berisi gambaran kapasitas, tenaga kesehatan dan kondisi logistik (sementara menggunakan data dari SONJO).

Guardian Sanjaya menyampaikan secara nasional ada 2 sistem informasi yang dikembangkan untuk COVID-19 ini. Pertama, sistem yang sifatnya monitoring, berupa dashboard yang menunjukkan nama/ lokasi rumah sakit rujukan, informasi mengenai kabupaten kota yang telah terjadi transmisi lokal dan informasi agregasi pertumbuhan pasien COVID-19. Sistem ini melakukan analisa dengan data yang tersedia, yang diperoleh dari Kementerian Kesehatan. Sistem kedua merupakan sistem yang merupakan penjaringan yang mempergunakan data surveilans. Data diperoleh dengan 3 cara yakni case based surveilens, contact tracing dan port of entry. Sistem ini menghasilkan gambaran yang penting untuk menjadi bahan dalam melaksanakan penyeledikian epidemologi.

Laksono mengarahkan bahwa fokus perlu fokus untuk pengembangan IT di DIY, pelu diperjelas siapa yang mengembangkan dan saat ini apakah DIY sudah melakukan pegembangan. Perlu dicermati juga bahwa pengembangan harus sampai pada tingkat distribusi bantuan, hal ini dikarenakan proses klaim pelayanan pasien COVID-19, tidak akan mengganti APD yang telah dibantu oleh masyarakat/donatur agar tidak terjadi double pembiayaan. PKMK UGM bersama PERSI DIY saat ini sedang mengembangkan prototipe yang nantinya boleh digunakan oleh pemerintah, bukan mengambil alih peran pemerintah.

Darwito menekankan bahwa saat ini Kemenkes telah memiliki SISRUTE dan SIRANAP yang fiturnya relatif lengkap, sehingga apabila memungkinkan sebaiknya mengembangkan ini saja, agar tidak perlu pengulangan untuk pelatihan dan user sudah banyak yang familiar dengan software ini. Hal ini mengingat juga bahwa SISRUTE dan SIRANAP ini belum optimal untuk mendukung sistem rujukan penanggulangan COVID-19 sehingga jangan sampai terulang terjadinya penolakan pasien dengan alasan ruangan yang penuh.

Oscar menerangkan bahwa tantangan integrasi data terkait COVID-19  ini sangat luas, salah satunya adalah pada sisi tata kelola data COVID-19 ini. Kondisi saat ini data belum mengalir, sehingga tidak ada update dan muncul data tidak sinkron. Data bisa keluar dari mana saja dan dengan berbagai macam versi tergantung instansi yangmenerbitkan.

Salah satu permasalahan adalah banyaknya data yang harus diinput oleh pegawai sehingga menyebabkan data lama. Visualisasi data saat ini pun masih bersifat nasional tetapi tidak ada per daerah, padahal kebutuhannya detil wilayah. Padahal kebutuhan dari berbagai pihak adalah data yang detil untuk dimanfaatkan sebagai bahan untuk perencanaan penanganan wabah COVID-19  di masing – masing wilayah.

Tantangan saat ini adalah bagaimana mengembangkan sistem yang ada, agar mudah diadaptasi oleh user. Aplikasi SISRUTE saat ini relatif sudah lengkap, tetapi untuk COVID-19 perlu dikembangkan, sementara untuk SIRANAP juga sudah baik hanya belum ada  fitur terkait ketersediaan peralatan dan APD rumah sakit. Di tingkat nasional, sebaiknya jangan mengeluarkan aplikasi/software macam – macam, jangan muncul ego sektoral agar integrasi bisa saling berhubungan. Sementara, terkait publikasi data, sebaiknya mengacu pada gugus tugas nasional. Untuk itu supply data yang disampaikan ke pusat sebaiknya harus detil.

Insan menambahkan bahwa kendala saat ini tidak adanya data terstandar, sehingga pemanfaatan data saat ini tidak dapat dipergunakan untuk melakukan perencanaan. Data nasional tiap hari berubah, tetapi tidak ada tracking perubahan. Untuk logistik, sudah ada banyak system yang dikembangkan tetapi tidak terkait langsung dengan COVID-19. Ada baiknya pusat menyediakan data yang reliable yang dapat diperguakan untuk mendukung aksi penganggulangan COVID-19 ini.

Lutfan menyampaikan bahwa pada kondisi normal ketidaksinkronan ini juga sering terjadi, hal ini disebabkan orientasi data hanya dibuat untuk kepentingan pelaporan.  Padahal kebutuhan data tidak hanya untuk pelaporan. Format pelaporan data ini menjadi kelemahan. Maka tidak dapat disalahkan jika daerah saat ini, punya inisiatif mengembangkan berbagai software sendiri dibanding menunggu pusat.

Anis Fuad menyampaikan 3 poin utama yakni perlunya kolaborasi untuk penanganan COVID-19 ini. Salah satu contoh kolaborasi adalah gamabox yang berkolaborasi dengan indosat untuk memantau pelanggannya yang melakukan mobilisasi dari wilayah zona merah ke wilayah lainnya. Pelacakan ini penting untuk memetakan migrasi masyarakat dari wilayah yang berpotensi menularkan COVID-19 ke wilayah lainnya. Kedua, banyak pihak yang bersedia membuka big data-nya  agar dapat diolah lebih lanjut, seperti Google dan Facebook, ini merupakan tantangan tersendiri untuk memanfaatkan data tersebut dalam rangka mendukung penanggulangan COVID 19. Poin ketiga, saat ini proses pemeriksaan laboratorium akan ke arah desentralisasi tidak terpusat sehingga ke depan data juga tidak lagi dari pusat, akan tetapi pusat yang meminta ke daerah – daerah. Hal ini dapat mendorong daerah untuk memanfaatkan data laboratorium di wilayah masing – masing.

Oscar menyampaikan bahwa saat ini pemerintah provinsi DIY sudah mengembangkan sistem manajemen untuk COVID-19 yang dikerjakan dinas kesehatan dan Kominfo. Sistem ini dikembangkan untuk Kota Yogyakarta, setelah berjalan baru akan dikembangkan ke kabupaten lain. Sistem ini memiliki fungsi semacam SISRUTE dan SIRANAP tapi khusus untuk kepentingan COVID-19.

Purwo menyampaikan perlunya  komunikasi data antar pengembang sehingga tidak muncul berbagai macam versi. Hal ini mungkin perlu dikomunikasikan kepada Gubernur DIY sehingga integrasi dan kolaborasi dapat muncul. Poin yang disampaikan Anis Fuad terkait kerjasama dengan provider ini menarik tetapi mungkin perlu didukung Apps yang dapat membantu masyarakat yang mudik untuk memiliki kesadaran melakukan penginputan data pribadi demi mendukung proses   isolasi diri. UGM sedang mendesain ulang KKN  – nya mungkin bisa dibicarakan juga nantinya KKN dapat dipergunakan sebagai salah satu sarana untuk mendukung penanggulangan COVID-19  ini.


Reporter: Barkah Prasetyo (PKMK UGM)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments