Reportase Webinar Life Saving Pasien COVID-19 di RS Rujukan Jumat, 3 April 2020  (Pukul 10.00-12.00)

Reportase Webinar Life Saving Pasien COVID-19 di RS Rujukan Jumat, 3 April 2020 (Pukul 10.00-12.00)

Klinisi Primer Klinisi Rujukan Manajer Lembaga Kesehatan Pengambil Kebijakan Reportase Kegiatan Tenaga Pencegahan

Narasumber

  1. dr. Surya Oto Wijaya, SpAn-KIC (RSPI Sulianti Saroso)
  2. dr.Pompini Agustina Sp.P (RSPI Sulianti Saroso)

Moderator:
DR. dr. Sudadi, SpAn, KNA, KRA (RSUP dr. Sardjito)


Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK – KMK UGM bekerjasama dengan sejumlah lembaga melaksanakan webinar yang terkait dengan upaya penanganan COVID-19.  Webinar kali ini bertujuan untuk memberikan informasi dan berbagi pengalaman dalam menyelamatkan nyawa pasien COVID-19 di RS Rujukan. Turut menjadi narasumber dengan berbagi informasi dari RS Rujukan Nasional yakni dari RSPI Sulianti Saroso yakni dr. Surya Oto Wijaya, SpAn-KIC dan dr. Pompini Agustina Sp.P dan bertindak sebagai Moderator yakni DR. dr. Sudadi, SpAn, KNA, KRA yang berasal dari RSUP dr. Sardjito.

Kesempatan pertama diberikan kepada dr. Surya Oto Wijaya, SpAn-KIC yang membahas critical care serta pengalaman dalam menangani pasien COVID-19. RSPI Sulianti Saroso juga memberlakukan screening dan triase dengan mengadakan unit pos pemantauan, sehingga di pos pemantauan tersebut orang – orang yang datang maupun tenaga kesehatan dapat memberikan informasi, kemudian tersedia IGD dengan zonasi, serta mempunyai ruangan perawatan isolasi.

RSPI Sulianti Saroso membuat suatu alur pasien pada pasien dengan suspect kasus COVID-19, baik untuk pasien yang datang sendiri dengan gejala maupun dengan proses rujukan. pada prinsipnya penanganan hampir sama dengan pasien yang datang sendiri. RSPI Sulianti Saroso juga mempersiapkan ruang ICU. Prinsipnya pasien datang ke IGD dan akan ditangani dokter jaga IGD, kemudian dokter jaga akan berkomunikasi dengan dokter di Pinere dan berkoordinasi juga dengan kepala ruangan di ruang perawatan isolasi jika selanjutnya akan dirawat di ruang isolasi. Selain ruang isolasi bisa dimungkinkan untuk dirawat di ICU.

Beberapa waktu ini kita sering mendengar istilah – istilah dalam penanganan COVID-19, mulai dari yang gejala ringan, pneumonia, hingga sampai pada istilah ARDS, selain itu ada juga istilah pasien – pasien yang diperiksa dalam keadaan sepsis maupun syok sepsis. Untuk penanganan critical care di RSPI Sulianti Saroso sudah memiliki kebijakan  yang dimulai dari alur yang ada di IGD misalnya dengan diberikan manajemen airway, pemberian oksigen, yang dapat dimulai dari pemberian oksigen massal sampe dengan pemberian high flow.

Menghadapi lonjakan pasien, saat ini ruang isolasi RSPI Sulianti Saroso telah memiliki 11 bed namun akan ditingkatkan menjadi 22 bed. Masing – masing kamar di ruang isolasi disediakan tekanan negatif, juga memiliki sistem exhaust bagi ruangan yang tidak terpasang tekanan negatif yang berfungsi agar tekanan lebih rendah daripada di lorong, mengatur udara didalam ruangan yang bisa diukur, mengantisipasi pergantian udara seberapa banyak sehingga dapat dipastikan tidak ada pencemaran dari luar ke lorong.

Prinsipnya pasien ke ICU untuk kebutuhan emergency, perlu diketahui bahwa pemberian terapi oksigen lebih mudah dari pada melakukan intubasi namun jika tetap tidak bisa ditolerir barulah  dipertimbangkan dilakukan intubasi. Meningat ketersediaan ICU pun terbatas saat ini dengan kapasitas 4 – 5 bed meskipun nanti akan diperluas menjadi 6 – 14 bed yang sudah dilengkapi dengan anteroom, serta telah memiliki SDM – nya. Tentunya SDM dengan kapasitas memerlukan 32 dokter dan perawat dan bersertifikat ICU.

Diakui saat ini pihak RSPI Sulianti Saroso pun melakukan intubasi modifikasi menyesuaikan dengan keadaan yang ada saat ini dengan tetap mematuhi kewaspadaan pada standar dengan menambah plastik dengan ditutup pasiennya sehingga nakes dapat melakukan intubasi secara aman. Beberapa referensi misalnya yang pernah dirilis oleh WHO juga mengatakan agar pekerja yang melakukan yang intubasi merupakan tenaga yang terlatih dan berpengalaman akan tetapi dalam kondisi tenaga medis yang mengunakan APD yang lengkap bisa melakukan intubasi.  Namun memang dalam pelaksnaanya tindakan intubasi yang dilakukan perlu dipertimbangkan mengenai personel yang mendukung kegiatan tersebut, agar dapat memastikan siapa petugas yang memegang alat, suction dan lain – lain karena perlu mempersingkat waktu di dalam ruangan ICU untuk menghindari paparan virus.

Disampaikan oleh dr. Oto bahwa terdapat kendala yang dihadapi dalam life saving penanganan COVID-19 ini yakni masih tingginya kebutuhan akan ventilator, angka kematian di ICU masih cukup tinggi, biasanya pasien yang masuk sudah dalam kondisi komorbid, bisa terjadi sepsis jika terjadi maka memerlukan tindakan hemodialisa/CRRT dengan alat yang lebih advance dan saat ini belum mempunyai fasilitas tersebut. Masalah lain yang tidak kalah penting yakni mengenai waktu, berapa lama dokter berada didalam ruangan dengan penggunaan APD yang lengkap karena membuat tidak nyaman dan kelelahan, tentu setiap personil memiliki daya tubuh yang berbeda – beda. Dokter akan berada di dalam ruangan minimal 2 jam. Hal lain juga yang menjadi masalah adalah pasien yang datang ke RS rujukan sudah dalam kondisi hipoksia yang terlampau lama.

Selanjutnya, pada sesi kedua disampaikan oleh dr.Pompini Agustina Sp.P dari RSUP Sulianti Saroso menjelaskan mengenai peraturan/kebijakan dan kendala yang sering dihadapi terkait pelaksanaan critical care. Hal serupa disampaikan oleh dr Pompini bahwa benar banyak dari kasus yang masuk sudah dengan kondisi gagal nafas. Penting menetapkan alur dan deteksi dini, baik dari pintu masuk ataupun di ruang rawat isolasi ataupun di ICU. Saat ini pihak RSPI Sulianti Saroso membuat 1 alur, ketika pasien pertama kali masuk, terdapat pos petugas yang bekerja di pos pemantauan. Untuk menghindari paparan maka diberikan jarak antar petugas dengan pasien yakni kurang lebih 1 – 2 meter dengan menggunakan pembatas 2 meja, di ruangan dengan ventilasi terbuka.

Screening dilakukan dengan menggunakan form yang dapat mengarahkan apakah orang tersebut masuk dalam ODP/PDP atau bisa juga orang tersebut masuk dalam kriteria yang dirujuk ke wisma altet untuk kasus PDP ringan. Ketika masuk ke IGD akan dilakukan tata laksana sesegera mungkin, lalu untuk tatalaksana medis ketika ditemukkan pasien dengan pnemonia maka menggunakan obat yang bisa berfungsi sebagai anti viral dan anti inflamasi. Ketika pasien sudah mendapatkan ruangan isolasi maka memperhatikan alur dan zonasi yang sudah ditentukan. Juga memiliki form monitoring tentang tanda vital yakni frekuensi nafas, saturasi O2, monitoring EKG.

Terkait mekanisme juga sudah diatur sangat – sangat efektif, sebagai contoh waktu pemberian makanan maka diupayakan diberikan dalam waktu yang bersamaan kecuali dalam kondisi tertentu pada pasien khusus, misalnya untuk menghindari sesaknya bertambah.

Beberapa hal perlu diperhatikan juga dalam mengoptimalkan petugas, yakni perhatikan saat menggunakan APD, melepas APD dimana petugas itu bekerja, ada supervisi agar ketika bekerja harus menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Selain itu berharap semua petugas menerapkan kewaspadaan kontak dan droplet yang baik. Tidak hanya pada tenaga kesehatan, juga ditekankan pada petugas kebersihan. Karena prinsipnya satu orang yang melakukan kelalaian maka akan mengakibatkan petaka untuk yang lainnya.

Manajemen klinis di RSPI Sulianti Saroso selalu update antiviral untuk dapat digunakan, beberapa ada  antivirus serta beberapa juga anti inflamasi. Jika melihat saat ini juga begitu banyak penelitian yang tengah dilakukan. Penyampaian materi dr. Pompini ditutup dengan kembali mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap kesehatan petugas, ingatkan selalu PPI, kewaspadaan standar, waktu istrirahat bagi petugas dan suplementasi yang diberikan ke petugas dan yang paling utama adalah membangun suasana yang dapat memacu semangat dan salin memberi energi serta memahami satu sama lainnya.

Diskusi berlangsung penuh antusias, peserta yang hadir sekitar ±140 orang secara online. Beberapa pertanyaan disampaikan, baik melalui sambungan telpon maupun melalui chat. Menanyakan pengalaman yang sudah dilakukan oleh RSPI Sulianti Saroso dalam menanggulangi COVID-19 yang kemudian ditangggapi oleh semua narasumber secara bergantian. Beberapa diantaranya menanyakan mengenai sistem screening awal untuk pasien yang datang sendiri di RS (bukan rujukan), kelelahan tenaga kesehatan dalam penggunaan APD yang lengkap yang sudah dibahas dalam pada materi narasumber, kemudian terdapat pula pertanyaan mengenai penanganan COVID-19 dengan kondisi umum baik, tekanan darah baik, Dijelaskan oleh dr Pompini bahwa Pada kasus yang COVID-19  positif dengan kondisi baik maka memang diijinkan dilakukan isolasi mandiri dengan catatan bahwa pasien disiplin melakukan isolasi diri dan tersedia ruangan untuk pasien mengisolasi diri sendiri. Kemudian petugas Puskesmas yang akan mengontrol apakah kondisi klinis membaik hari demi hari. Jika pasien dilakukan isolasi di RS maka pihak RS akan melakukan evaluasi rutin. Kapan swab tenggorokan, pasien dinyatakan negatif jika sudah dilakukan 2 kali swab tenggrokan negatif.

Menutup sesi diskusi, secara tegas disampaikan oleh dr Pompini bahwa untuk semua RS yang sudah terakreditasi harusnya sudah melakukan kewaspadaan sesuai standar. Harusnya kewaspadaan standar benar – benar ditegakkan untuk melindungi tenaga kesehatan. Hal yang tetap harus dilakukan, misalnya pasien dipindahkan ke ruang isolasi dengan memperhatikan alur dan jalur, dicatat dan dilakukan pemeriksaan tanda – tanda vital, dicatat keluhan, hal – hal seperti itu harus menjadi standar. Tidak kalah penting bahwa saat ini di semua pintu RS harus melakukan screening sehingga tidak lagi kelolosan untuk kasus – kasus yang berpotensi mengarah ke COVID-19. Bagi RS yang masih melakukan pelayanan campuran agar menghimbau pasien untuk tidak memasuki area merah. Pasien harus teredukasi dan tahu jika tidak mengalami gejala yang mengarah ke COVID-19 agar mengambil jalur bukan ke area merah serta menganjurkan kepada pasien supaya tidak pergi ke faskes melainkan hanya dengan kasus yang berat saja.

Webinar ditutup dengan pesan-pesan yang disampaikan oleh dr Oto bahwa kita memang perlu early warning khusus penanganan COVID-19. Kendala kita diberbagai RS bahwa kapasitas ICU dan ventilator sangat terbatas dan sangat betul – betul di screening dan melakukan triase siapa-siapa saja yang membutuhkan penanganan dengan cepat. Serta kembali ditegaskan oleh dr Pompini mengenai memperhatikan kewaspadaan standar, apalagi saat ini banyak yang tidak sadar bahwa mereka terinfeksi.

Reporter: Andriani Yulianti, MPH (PKMK UGM)


Unduh Materi

VIDEO REKAMAN

Critical Care in COVID 19 Patient di RSPI Sulianti Saroso
Prev 1 of 1 Next
Prev 1 of 1 Next
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments